Thursday, December 18, 2008
Di penghujung masa kepemimpinannya, George Bush dihadapkan pada berbagai masalah. Namun masalah yang paling pelik adalah masalah krisis ekonomi yang mendera Amerika setahun terakhir ini. Krisis ekonomi di AS dipicu oleh kebijakan ekonomi yang keliru pada sektor keuangan: kredit kepemilikan rumah (mortgage) yang terlalu mudah di luar kemampuan nasaban untuk membayarnya. Sekitar sepuluh tahun yang lalu, untuk memicu perekonomiannya, masyarakat Amerika diberi berbagai kemudahan untuk memiliki rumah dan apartment. Dengan harapan bila sektor ini berjalan dengan baik akan mendorong sektor-sektor lainnya untuk juga berkembang.
Pada saat yang sama pemerintah juga mendorong tumbuhnya berbagai lembaga keuangan yang memberi berbagai pinjaman kepada masyarakat. Lembaga keuangan ini tidak hanya bank dalam pengertian yang konvensional, namun juga investment banking, lembaga keuangan yang mirip bank, namun ia lebih fleksibel, tujuannya adalah menawarkan kredit ke masyarakat.
Dalam ekonomi kapitalis, masyarakat dipacu untuk terus membelanjakan uangnya, beli apa saja, yang penting sistem perekonomian terus menerus bergerak. Gerakannya tidak boleh tetap, semakin lama harus semakin cepat. Bila pertumbuhan tahun ini hanya 4 persen, tahun depan harus 5 persen, tahun depannya lagi harus 6 persen, tahun depannya lagi harus 7 persen, dan seterusnya. Semakin besar pertumbuhan ekonomi artinya semakin besar pula arus barang dan jasa di pasar, dan semakin besar pula jumlah uang yang bereda di pasar. Semakin banyak uang, semakin makmur, semakin kaya, dan seterusnya. Pokoknya yang ada dalam pikiran orang kapitalis adalah untung, untung, untung.
Ada satu hal yang meleset dari perhitungan mereka. Ternyata masyarakat tidak mampu mengembalikan kreditan yang mereka ambil. Mereka tidak bisa membayar kredit. Akitabnya, terjadi akumulasi utang yang begitu besar. Milyaran dolar. Kredit macet. Karena tidak ada setoran, lembaga-lembaga keuangan yang meminjamkan uang dengan sendirinya rontok. Dari sini kemudian krisis memukul sektor-sektor lainnya. Salah satunya adalah industri, yaitu industri mobil. Amerika termasuk negara pembuat mobil. Ada tiga produsen mobil yang penting di Amerika yaitu Ford, General Motor, dan Chrysler. Di Indonesia Ford relatif dikenal, namun dua merek lainnya tidak begitu.
Pemerintah Bush, setelah disetujui oleh Kongress dan Senat, mengeluarkan uang sebesar 700 miliar dolar untuk mengatasi kebangkrutan lembaga-lembaga keuangan semisal Freddie Mac, Lehman’s Brother, AIG, dan sebagainya. Dalam ekonomi, langkah ini disebut bail out, pemerintah memberi suntikan dana segar agar perusahaan bisa beroperasi seperti biasa. Para bankir, eksekutif, dan pegawai kerah putih (white collar) bisa bernafas lega. Selamat. Bisnis jalan terus. Peristiwa ini terjadi beberapa bulan yang lalu. Dan tidak tanggung-tanggung, Bush menyediakan dana 700 miliar dolar. Saking besarnya dana ini belum terpakai seluruhnya dan masih disimpan oleh Henry Poulsen, Secretary of Treasury (semacam Menteri Keuangan kalau di Indonesia).
Sekarang ini tiga perusahaan otomotif Amerika yang disebutkan di atas tengah sekarat. Namun belum ada tanda-tanda bahwa Bush akan mem bail-out tiga perusahaan tersebut. Paling tidak, tidak dalam minggu-minggu ini.
Sebagian orang percaya bahwa di sinilah biasnya pemerintahan Bush dalam menyikapi krisis. Bila pada white collar (kerah putih—istilah untuk bisnis perbankan dan keuangan) ia begitu sigap. Namun pada blue collar (kerah biru—istilah untuk pekerja kasar) ia tampak lambat. Selidik punya selidik bias ini ternyata berkaitan dengan ideologi politik partai Republik, partainya Bush yang sangat anti labor union—serikat pekerja. Perlu diketahui bahwa terdapat serikat pekerja yang sangat besar di lingkungan Ford, Chrysler, dan GM. Serikat Pekerja tentu berjuang untuk kesejahteraan mereka, menyangkut gaji, asuransi, tunjangan sosial, pensiun dan lain sebagainya.
Partai Republik tidak suka dengan itu semua. Ini berkaitan dengan basis dukungan partai yang banyak didukung oleh pengusaha kelas, konglomerat papan atas yang menguasai industri-industri strategis di Amerika. Partai Republik lebih suka membangun industri otomotif dengan prinsip pasar bebas. Perusahaan otomotif dunia diundang untuk membangun pabrik di AS. Namun tidak di utara, apalagi Michigan, karena serikat pekerja selalu mengganggu. Di selatan saja. Di Kansas, Arizona, dan Texas. Karena tidak ada serikat pekerja, perusahaan bisa membayar buruh seenaknya. Paling tidak tidak semahal di utara lah.
Ketika Ford, GM, dan Chrysler mulai teriak-teriak, sebenarnya mereka mengupayakan agar pemerintah melakukan bail out. Namun rencana itu akhirnya mental di Senat.
Tidak ada bail out baru. Lalu dicari jalan. Karena uang yang 700 miliar itu belum habis, dan masih ada di Henry Poulson, maka ada kemungkinan biaya dicarikan dari uang tersebut. Dan tidak terlalu banyak. Hanya 19 miliar dolar (GM 4 M, Chrysler 7 M, Ford 9). Namun sekarang semuanya tergantung Bush. Mau ngak dia.
Tapi mungkin sekarang sudah agak terlambat. Sebentar lagi libur panjang natal dan tahun baru. Lalu sebentar lagi presiden baru dilantik. Karena uang bail out tak kunjung tiba, Chrysler sudah menyatakan tak sanggup beroperasi lagi. Mereka sudah meliburkan pegawainya. Tidak dua minggu, tapi satu bulan. Dan selama liburan tidak ada gaji. Sementara itu dua perusahaan lainnya sudah merampingkan pegawainya. Puluhan ribu buruh nya sudah diPHK tanpa uang pesangon.
Kalau Bush benar-benar tidak membail out, ia berarti menginginkan industri otomotif AS bangkrut sebangkrut-bangkrutnya. Tiga juta orang kehilangan pekerjaan, dan itu artinya depresi. PR buat Obama semakin banyak.
Friday, August 22, 2008
Indonesia, Tempat Lahir Beta
Beberapa hari yang lalu saya baru saja merayakan hari kemerdekaan RI yang ke-63. Seperti biasa, meriah, dan di sana sini banyak makanan enak. Namun perayaan ini terjadi di satu tempat yang jauh dari apa yang disebut ibu pertiwi. Di Andover, sebuah kota kecil di Massachusetts, sekitar 100 orang menyanyikan Indonesia Raya dengan khidmat. Ternyata meski raga terpencil jauh dari tanah air, meski belasan dan bahkan puluhan tahun tidak menginjak ibu pertiwi, hati ini tetap terpaut ke sana. Ternyata kebangsaan adalah sebuah kesaksian atas keabsahan sebuah sejarah dengan apa kemudian masa depan diteropong.
Karena itu adalah tidak mungkin, hanya karena perbedaan ideologi dan politik, orang diceraiberaikan dari tanah leluhurnya. Saya pernah menyaksikan itu. Di Belanda, banyak orang--tepatnya mahasiswa generasi 1960-an--yang tidak bisa pulang ke tanah air karena dianggap menganut paham yang menyimpang. Akibatnya mereka terlunta-lunta selama puluhan tahun. Diaspora dalam pengertian yang paling pejoratif--hidup di negeri orang karena terusir dari negeri sendiri--mungkin istilah yang tepat. Meski demikian, mereka masih bisa menyanyikan lagu kebangsaan bahkan lebih baik dari saya. Saya betul-betul kagum dengan semangat kebangsaan yang mereka miliki.
Ternyata kebangsaan jauh lebih kompleks dari sebuah buku yang disebut paspor. Sewaktu paspor mereka dicabut, mereka tentu saja protes. Karena dengan apa lagi mereka bisa membuktikan diri sebagai warga negara tertentu bila tidak dengan paspor. Namun tokh dokumen satu-satunya itu pun akhirnya dicabut. Akhirnya mereka hidup menggelandang. Dari Moskow, Bucharest, Warsawa dan Berlin, ketika komunisme jatuh pada 1980-an, mereka bergerak ke Barat, menuju London, Paris atau Amsterdam. Siapa tahu ada negara yang mau menampung untuk sekedar menyambung hidup. Tak ada niatan mengganti warga negara. Kalau pun akhirnya berganti, tokh itu hanya sebuah buku. Hati dan jiwa mereka tentu masih sepenuhnya Indonesia.
Saya masih ingat betul betapa semangatnya ketika saya pancing mereka untuk cerita masa mudanya. Ada yang mantan aktivis LEKRA, ada yang mantan GMNI, ada juga yang tidak memiliki bau komunis sedikit pun. "Tuhan," kata Ahmad Marqoni, santri tulen asal Pekalongan, "mentakdirkan saya untuk jauh dari orang tua, saudara, handai taulan, kampung halaman, dan tanah air. Namun sepenuhnya tempat saya di sana." Maka ketika sudah berumur ia belum juga berkeluarga, keluarganya di kampung menjodohkan ia dengan gadis sekampungnya. Ia terima saja karena ia memang tidak ingin menukar keindonesiaannya. Padahal waktu di Moskow, banyak gadis cantik yang tertarik padanya.
Sementara Mintardjo akhirnya menikah dengan gadis Rumania. Meski demikian imajinasinya tetap tidak jauh dari bau tanah kampung halamannya. Anaknya, meski berkulit putih dan sama sekali tidak menunjukkan ciri-ciri fisik perempuan Jawa, diberi nama Asih, pertanda bahwa dalam diri anaknya mengalir darah Jawa, dan kenangan agar anaknya kelak memandang masa depannya dengan tegak. Sementara masa lalunya sendiri yang pahit cukup ia saja yang menelan. Namun pada perayaan kemerdekaan, tidak ada lagi duka dan nestapa. Semuanya bergelak tawa ria, mengenang masa muda yang tak terengkuh. Lalu nafas sedikit panjang dan berat. Untung saja masih ada sedikit vodka. Mereka pun bersulang untuk kejayaan tanah air, jauh di awang-awang.
Namun yang hadir di 111 Salem Street Andover ini bukanlah orang-orang yang terusir. Mereka adalah generasi Indonesia yang berbeda, datang ke Amerika karena alasan yang lebih pragmatis. Ada yang karena menikah, ada yang karena sekolah, ada juga yang mencoba mengadu nasib. Cerita kelam seperti yang dialami Ahmad Marqoni atau Mintardjo, tidak terdengar sama sekali.
Inilah salah satu wajah nasionalisme Indonesia. Paspor boleh berganti, namun kebangsaan tidak ditentukan oleh buku itu. Imagined communities, kata Ben Anderson, masyarakat yang dicita-citakan adalah dasar yang merekatkan sekelompok orang untuk terus hidup bersama. Ia adalah sebuah ideologi yang hidup, dan akan tetap hidup selama proses persemaian nilai-nilainya berlangsung. Bila proses ini berhenti, maka matilah ideologi tersebut. Teman saya di Den Haag, yang sudah mapan secara material, begitu gundah melihat anak-anaknya. Tidak bisa berbahasa Indonesia, tidak doyan makanan Indonesia, dan, celakanya, tidak mau balik ke Indonesia. Sementara dirinya ingin pulang ke Indonesia, dan mati di sana. Di sana beta lahir, kata Ismail Marzuki, di sana pula beta menutup mata. ***
There is No Free Gift!
Tentu harus dipahami bahwa tindakan KPK untuk memeriksa Sultan berhubungan dengan kenyataan bahwa Sultan adalah publik figur. Pertama ia adalah Sultan, dan kedua ia adalah Gubernur DIY. Setiap tindakan publik figur harus dipertanggungjawabkan. Publik figur bekerja atas nama dan untuk masyarakat. Masyarakat memberi mandat sepenuhnya kepada mereka untuk bekerja, untuk mengatur segala urusan masyarakat. Dalam sebuah pepatah Arab disebutkan bahwa "al-amiir khadim al-ummah" (pemerintah adalah pengemban/ pembantu masyarakat). Dalam bahasa birokrasi kita sering disebutkan bahwa aparat adalah abdi masyarakat.
Lalu, apa hubungannya dengan amplop-amplop yang Sultan terima? Tentu saja ada dan erat. Budaya amplop, angpau atau salam tempel sangat rentan korupsi. Dalam hajatan, orang bisa saja, katakanlah pengusaha tertentu, mengamplopi Sri Sultan uang ratusan juta rupiah. Dan, saya yakin seyakin-yakinnya--namanya juga manusia--bentuk pemberian baik kecil maupun besar pasti memiliki pamrih tertentu. Saya tidak mengatakan "embel-embel" karena kata ini agak kasar. Saya katakan "pamrih," ada keinginan atau harapan pada pihak si pemberi atas pihak yang diberi. Keinginan ini tidak selalu bersifat material, bisa juga immaterial. Hubungan antarmanusia pada dasarnya berjalan atas asas intifa' (saling memberi manfaat).
Saya tidak percaya orang memberi sesuatu pada orang lain tanpa motif tertentu. Dalam antropologi, teori ini disebut reciprocity. To give, to receive, and to return. Ada saatnya kita memberi, ada saatnya kita menerima, dan ada saatnya kita mengembalikan pemberian itu. Inilah prinsip yang mendasari hubungan antarmanusia. Dan prinsip itu saya lihat begitu gamblang beberapa tahun yang lalu ketika saya menikah. Setelah hajatan selesai, istri saya mencatat semua pemberian orang. Siapa dan berapa jumlahnya. Tidak hanya itu, ia pun mencatat pemberian saudara dan kaum kerabatnya. Siapa memberi pisang; siapa memberi jeruk; siapa membawa beras; siapa yang membawa daging; siapa yang menyumbangkan tenaga, dan seterusnya. Dia bilang, suatu saat kita harus mengembalikan pemberian mereka.
Saya baru tersadar pentingnya teori itu beberapa tahun kemudian ketika belajar antropologi. Laki-laki Trobriand, sebuah pulau di Pasifik sana, kata Bronislaw Malinowski, antropolog terkenal asal Inggris, suka sekali memberi hadiah kepada istri-istri mereka. Tak lama setelah itu mereka mengajak istri-istri mereka untuk melakukan hubungan seks! Kula adalah sebuah sistem di mana masyarakat Trobriand yang terpencar-pencar di pulau-pulau kecil saling bertukar hadiah seperti kalung, gelang dan perhiasan lainnya. Jarak yang ditempuh ratusan mil, membetuk sebuah lingkaran utuh sebagai pertanda sistem ini berjalan dengan sempurna.
Lalu, di mana tempatnya ikhlas? Ikhlas dalam pengertian tidak ada pamrih sama sekali mungkin tidak ada. Selama ini kita menyalapahami pengertian ikhlas. Ikhlas dipahami sebagai "tidak punya pamrih apa-apa," "semata-mata karena Allah", dst. Selama pamrih itu tidak merugikan orang lain, mengapa tidak. Kalau saya menyemen jalan di depan warung saya dengan harapan agar di musim hujan tidak terlalu becek sehingga orang bisa lalu lalang, sehingga warung saya bisa lebih laku, apakah itu berarti saya tidak ikhlas? Inilah yang saya maksudkan pamrih. There is no free gift, kata Mary Douglas.
Kembali lagi pada budaya amplop yang lazim ditemukan dalam masyarakat kita, tidak saja di kalangan pejabat, namun juga--seperti kita tahu--di pesantren-- para kyai tokh begitu suka dengan amplop. Karena budaya ini rentan dengan korupsi, KPK memeriksanya. KPK tidak melarang, hanya membatasi jumlah hadiah yang boleh diterima oleh pejabat. Tentu saja pejabat boleh menerima hadiah sebatas hadiah tersebut tidak mengganggu tugas-tugasnya sebagai pejabat yang harus mengayomi seluruh warga. Dulu Umar bin Abdul Aziz, khalifah Bani Umayyah yang terkenal adil dan sederhana, melakukan hal serupa. Ia melarang seluruh pejabatnya untuk menerima hadiah. Ia berdalih bahwa dulu itu adalah hadiah, namun sekarang--ketika orang gila kekuasaan--menjadi risywah (suap).
Wednesday, August 20, 2008
Kyai sebagai Publik Figur
Kyai dan politik bukan masalah baru di Indonesia. Sejak berdiri Republik ini, para kyai menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah bangsa. Ini karena kepemimpinan kyai yang multidimensi. Di satu sisi ia adalah seorang alim yang mengetahui seluk beluk ilmu agama. Di sisi lain, ia juga adalah seorang yang memiliki pengaruh dan pengikut, sebuah prasyarat penting untuk memasuki gelanggang politik.
Karena watak kepemimpinannya yang demikian, banyak kyai yang memilih untuk berkarir di jalur politik. Saya tidak berkeberatan dengan kyai model ini. Harapan saya, dan tentu saja kita semua, kalau mau jadi politisi ya jangan tanggung-tanggung. Jadilah politisi yang bertanggung jawab. Yang kita risaukan adalah para kyai yang karena pengaruh yang dimilikinya mencla-mencle, kadang jadi kyai, kadang jadi politisi.
Ini semua terjadi karena godaan politik yang begitu dahsyat. Setiap kali menjelang pemilu, seperti kita paham, partai-partai besar berlomba-lomba datang ke pesantren. Mereka mendekati para kyai untuk menggunakan pengaruhnya agar pengikutnya memilih partai tertentu. Sebagai imbalannya, para kyai mendapat keuntungan material yang tidak sedikit. Syukur-syukur kalau keuntungan itu digunakan untuk membangun sarana fisik pesantren. Kalau tidak, maka yang terjadi adalah kyai memperkaya diri sendiri.
Di beberapa tempat saya sering melihat rumah kyai yang besar megah bagai istana. Agama mengajarkan agar kita berbaik sangka apalagi terhadap kyai. Namun sikap husnudzan ini tidak lantas menutup nalar kita untuk tidak kritis terhadap apa yang terjadi di sekeliling kita. Dengan kata lain, di zaman yang menuntut transparansi (keterbukaan) ini, berbaik sangka saja tidak cukup, kritisisme diperlukan agar tatanan sosial berjalan dengan baik. Ini tentu saja berkaitan dengan kenyataan bahwa kyai adalah pemimpin masyarakat, public figure, yang tindak-tanduknya harus dipertanggungjawabkan.
Selama ini kita sering menganggap publik figur adalah para pesohor atau selebritis yang mukanya seringkali muncul di teve. Dan para artis pun tanpa malu-malu mengaku bahwa mereka adalah publik figur. Ini tentu saja keliru. Artis bukanlah publik figur, mereka hanyalah figur yang dikenal publik. Publik figur yang sesungguhnya adalah pemimpin masyarakat. Kyai adalah salah satunya. Ini karena mereka mengelola lembaga pendidikan--dalam banyak kasus--milik masyarakat. Karena itu mereka bertanggungjawab terhadap masyarakat.
Thursday, May 15, 2008
Aku Ingin Jadi Pohon
Pengetahuanku tentang pohon sangatlah terbatas. Sebatas yang aku pelajari dalam ilmu tumbuh-tumbuhan. Ya dulu anak SD diajar ilmu tumbuh-tumbuhan. Sekarang tidak lagi. Mungkin karena dianggap tidak penting sehingga orang sekarang seenaknya menebang hutan, lalu banjir, malapetaka, korban berjatuhan. Ini semua gara-gara pohon. Terus terang, omongan anakku di atas tanpa konteks yang jelas. Mungkin sebelumnya ia menonton siaran teve tentang banjir yang berhubungan dengan pembabatan hutan.
Mungkin juga karena ia melihat pohon di belimbing di belakanga rumah yang tengah berbuah. Aku bilang sama istri, mungkin sebaiknya kita punya pohon di belakang rumah agar udara segar, dan panas matahari teredam sedikit oleh dedaunannya yang rimbun dan hijau. Istriku setuju. Maka kami pun mencari bibit belimbing yang kira-kira buahnya manis. Setahuku banyak jenis belimbing dengan buah yang lebat. Tapi yang buahnya manis sedikit. Belum sempat kami pergi ke tukang tanaman, adikku datang membawa bibit belimbing. Dengan segera ia mengambil pacul dan menanamnya.
Lama aku tidak memperhatikan pohon itu sampai suatu hari aku kaget. Pohon itu kini sudah tinggi , dan di sana sini merintis bunga. Pertanda akan berbuah. Dan setiap hari anakku memanjat dan bertengger di dahannya. Tak lama setelah itu, di atas meja makan selalu tersaji buah belimbing. Anakku suka sekali. Padahal tidak begitu manis. Mungkin ia merasa itu adalah buah pohon yang selalu dipanjatnya, pohonnya. Mungkin ini yang ia maksudkan dengan kalimatnya, "aku ingin jadi pohon."
Omong punya omong, manisnya belimbing berhubungan dengan kesuburan tanah dan sinar matahari yang cukup. Seorang temanku bercerita. Dulu ayahnya petani belimbing di daerah Pasar Minggu. Banyak petani buah yang berhasil dan kaya di sana. Saking terkenalnya belimbing Pasar Minggu, sampai-sampai Bu Kasur mencipta lagu "Pepaya Mangga Pisang Jambu". Memang belimbing tidak disebut dalam lagu tersebut. Kalau Bu Kasur mau jujur, belimbing harusnya disebut. Karena buah itu yang paling banyak ditemukan di sana. Temanku melanjutkan bahwa petani Pasar Minggu memiliki teknik tersendiri agar belimbingnya manis. Pada musim panas, belimbing mereka disiram dengan urin binatang peliharaan mereka. Jadinya manis.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Pohon itu semakin besar dan tinggi. Daunnya menutupi sebagian halaman belakang. Anakku sudah tidak pernah lagi memanjatnya. Dahan yang biasa ia tenggeri, sekarang sudah tidak terjangkau lagi.
Matahari sekarang hanya bisa mengintip melewati rerimbunnya. Hawa di belakang sejuk memang. Tapi ada yang mengkhawatirkan aku. Dahannya sebagian merangsek ke genteng. Daun-daunnya menyumpal talang. Dan kalau hujan tiba, karena tersumpal air meluap dan merembes lewat triplek. Awalnya aku biarkan. Tapi ketika triplek jebol, karena lapuk dan hancur, aku pun angkat bicara. Mungki pohon ini harus ditebang.
Anakku protes tidak setuju. Kalau mau, katanya, yang ditebang cukup dahan yang menjuntai ke atas genteng saja. Yang lainnya biarkan saja. Benar juga kataku dalam hati. Tapi bila angin bertiup daunnya toh tetap jatuh ke genteng dan menyumpal talang. Memang, katanya, ini karena bapak membuat talang segala sih! Coba kalau air hujan dibiarkan langsung jatuh, kan tidak perlu repot-repot memunguti sampah setiap kali musim hujam tiba.
Aku menyergah dalam hati. Anak ini pandai bicara. Tiba-tiba aku ingat kata-katanya yang dulu ia ucapkan. Aku ingin jadi pohon.
Karena argumenku lemah, talang dibelakang rumah dibongkar. Air hujan langsung jatuh ke tanah. Benar juga sih, tidak ada bercak air lagi di triplek. Namun, sesuai kesepakatan, dahan-dahan yang menjuntai di atas genteng dibabat habis. Aku bilang sama si tukang tebang, sisakan saja satu dua dahan pokok.
Mengetahui pohonnya dibabat, anakku marah. Apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Nanti kan tumbuh lagi. Dahan dan daunnya tumbuh seperti sedia kala, kataku menghibur.
Namun anehnya, sejak itu pohon itu tampak merana. Ia tidak mau tumbuh lagi. Wah, aku jadi bingung. Kok bisa jadi begini. Tanya punya tanya, aku baru engeh bila pohon terlalu banyak dipangkas, proses fotosintesisnya akan terganggu. Betul juga kataku. Tiba-tiba aku merasa bodoh sekali. Bukankah dulu guruku di SD bilang bahwa pohon memasak makanannya di daun. Kalau daunnya dipangkas, di mana pula ia akan memasak.
Tak lama setelah itu kulihat pohon itu mulai ditumbuhi jamur. Pertanda memang tidak ada pertumbuhan di dalamnya. Aku diam saja ketika anakku cerita bagaimana orang Jepang merawat pohon-pohonnya. Pada musim dingin, pada bagian bawah pohon-pohonnya dilibeti jerami yang sudah dianyam rapi. Ini dimaksudkan agar kutu dan serangga yang bersarang, karena kedinginan, berkumpul di bawah jerami itu. Begitu musim semi datang, selimut jerami itu dibuka dan dibakar. Tak aneh bila kemudian bunga sakura di sana bisa berumur lebih panjang dari manusia.
Aku semakin bersalah saja mendengar cerita itu. Terlebih lagi ketika pohon itu renta dan lapuk. Manusia punya rencana, tapi tuhan juga yang menentukan. Setelah berdebat ke sana ke mari, pohon itu akhirnya ditebang.
***
Tuesday, May 13, 2008
Obama Membuat Sejarah?
Tak usah jauh2 mencari penggemar Obama. Istri saya berharap betul Obama menang melawan Hillary Clinton, mantan ibu negara dan politisi kawakan, pengalamannya 40 tahun. Itu pula yang senantiasa diucapkan dalam pidato-pidatonya, bahwa ia pernah ini, pernah itu. Sementara Obama, baru lima tahun jadi sanator. Meski miskin pengalaman, banyak orang percaya bahwa Obama mampu menjadi pemimpin Amerika yang handal. Setelah dua periode dipimpin Presiden Bush, orang Amerika menginginkan betul agar presiden terpilih nanti membawa perubahan. Mereka muak dengan kebijakan Bush yang sok jago, petantang-petenteng, sementara ekonomi Amerika morat-marit.
Obama muncul membangkitkan kembali mimpi orang Amerika yang nyaris terenggut. Memang mimpi tidak boleh terenggut. Apalagi kalo mimpinya indah. Dalam hidup orang harus punya mimpi. Mimpi menjadi orang besar, mimpi menjadi orang kaya. Dan mimpi orang Amerika adalah mereka ingin menjadi bangsa besar, maju, berkuasa. Bush nyaris merenggut mimpi indah ini.
Dalam kampanye-kampanyenya, Obama meneriakkan perubahan. Tema inilah yang banyak menarik perhatian kaum muda Amerika. Sementara bagi kaum tua, Clinton masih menarik. Karena itu kelompok besar pendukungnya berumur 50 ke atas. Dan dalam primari di West Virginia, Clinton menang telak. Tapi kita pun harus tahu, demografi macam apa di negara bagian tersebut. 95 persen kulit putih, memiliki wilayah perkotaan yang kecil, dan termasuk negara bagian yang termiskin. Tambahan pula, negara ini memiliki sejarah yang relatif berbeda dengan negara-negara bagian yang di sebelah utara. Bukankah negara ini yang mengompori selatan untuk melawan utara? Konon demokrat tidak pernah menang di sana melawan republik.
Di West Virginia Obama kalah. Tapi ia masih unggul jauh di atas Clinton. Masih ada 4 negara yang belum menyelesaikan primary. Di beberapa negara, Obama tampaknya akan menang. Dan itu artinya ia semakin dekat untuk mengukit sejarah. Mungkin saja, dalam beberapa bulan ke depan, Obama benar-benar membuat sejarah. Paling tidak dia benar-benar menjadi unggulan partai demokrat.
Jadi presiden? Nanti dulu. Ia harus bertarung dengan McCain, calon dari partai republik. Kedua orang ini hampir kebalikan satu sama lain. Obama muda, McCain tua. Obama pintar ngomong, McCain ngomongnya membosankan. Ujian yang sebenarnya tengah menanti Obama. Ia membuat sejarah baru? Kita lihat saja.
Monday, May 12, 2008
Katanya Musim Panas? Kok Masih Dingin?
Dua bulan yang lalu saya ngobrol dengan teman yang tinggal di Kairo. Dia menanyakan cuaca di sini. Saya bilang, alhamdulillah, cuaca sudah mulai hangat. 7 derajat. Dia kaget. 7 derajat hangat? 30 derajat baru hangat katanya. 40 derajat panas. Yah, memang Boston tidak bisa dibandingkan denga Kairo. Bukankah Kairo memiliki dua musim: musim panas dan musim panas sekali! Dia tidak tahu pada bulan desember, suhu di sini mencapai minus 15. 7 derajat tentu saja alhamdulillah.
Lagi-lagi saya membayangkan hangatnya sinar matahari di Indonesia. Ketika pagi, sinarnya menyeruak kamar saya, membuat suasana terang benderang. Lalu saya pun bangun dan mandi. Segar sekali air tanahnya. Sambil menyisir dan bercermin saya merasakan nikmat yang tiada tara ini. Suasana seperti itu adalah suasana yang paling saya sukai. Lalu saya pun menyeruput kopi panas. Wah, mantap. Saya pun lalu pergi untuk bekerja, mencari sesuap nasi.
Memang, kita merasakan betapa berharganya sesuatu justru ketika sesuatu itu sudah terenggut dari kita. Ketika masih di tangan, kita tidak pernah menghargainya. Matahari dan panasnya adalah karuania tuhan yang maha dahsyat. Orang-orang yang di daerah tropis begitu bangga dengan kulitnya yang coklat. Orang Indonesia bangga dengan kulitnya yang sawo matang. Hanya orang barat yang menggunakan istilah "kulit berwarna" untuk menyebut orang-orang seperti kita--untuk membedakan dengan kulit mereka yang putih. Mereka sebenarnya tidak menganggap putih sebagai warna.
Saya ingat tetangga saya yang sehari-hari menghabiskan waktunya di ladang. Ia bangga dengan kulitnya yang hitam kelam terbakar matahari. Terkadang ia mengejek kulit saya. "Bapak sih sering di AC sih ya?" tanyanya. "Nih kulit yang bagus mah begini, kayak kulit saya."
Setelah saya perhatikan kulitnya tidak hanya kelam, tapi juga tahan dengan gatal gematal dedaunan dan nyamuk. Sehati-hari telanjang dada, tapi dia tidak pernah mengeluh.
"Orang dulu mah pak, ngak pernah ke dokter. Makanya kuat-kuat." Memang sudah berumur 80 tahun, si baba masih bertenaga. Masih bisa memanjat meninjonya, dan masih kuat memikul sekwintal dua kwintal hasil panennya. Tengah hari, di sela-sela waktu istirahatnya di dangau, ia mengipasi badannya yang berpeluh. Matahari terik sekali.
"Mataharinya bagus banget nih pak." Saya terperanjat. "Panen saya kayaknya bagus banget nih."
Tiba-tiba saya merindukan sinar matahari.
Monday, April 28, 2008
Belajar dari Jepang
Gambar di bawah adalah salah satu sudut kota Osaka. Bersih ya? Orang Jepang suka bersih-bersih. Lihat saja air sungai itu. Lebih bersih dari sungai Ciliwung. (Tentu saja). Meski perbandingan ini masuk akal, karena sama2 sungai, tapi tidak terbandingkan sebenarnya, karena perbedaan yang begitu jauh antara keduanya.
Dan gambar di atas adalah murid-murid SD yang tengah belajar musik. Begitu sederhana sederhana sebenarnya pendidikan di Jepang. Anak2 diajar musik, seni, dan kaligrafi tradisional Jepang. Hasilnya luar biasa. Orang Jepang tidak pernah meninggalkan identitasnya.
Kita kadang2 latah. Tidak punya pendirian. Pendidikan menjadi ajang bongkar-pasang. Akibatnya yang menjadi korban adalah anak murid. Guru menjadi bingung, karena kurikulum seringkali berubah.
Kita bisa belajar banyak dari Jepang, tidak hanya bagaimana mengelola alam dan menyelenggarakan pendidikan. Kita juga bisa belajar hal-hal lainnya. Bagi bangsa Asia pada umumnya, termasuk Indonesia, bangsa Jepang adalah salah satu bukti bahwa menjadi modern tidak berarti meninggalkan identitas.
Kita seringkali mencampuradukkan pengertian "to be modern" dan "to be western".
Sunday, April 27, 2008
Gabriel Passing Through the Winter

gabriel, dengan seragam winternya, melewati musim dingin pertama di boston dengan senyuman. dia tidak tahu apa artinya musim dingin. ketika suhu mencapai minus 10, dan ketika orang dewasa menggigil kedinginan, dia malah tersenyum.
Mei besok umurnya genap tiga tahun. Udah pintar ngitung dalam bahasa Inggris. Dia gesit dan tangkas. Dan tengah tergila2 dengan Thomas the train. Selamat ulang tahun, nak. Semoga panjang umurmu.
Rifqi with Harvard Hat

namanya rifqi, umur 7 tahun, melewati musim dingin pertama di boston. tapi hidungnya sedikit ingusan.
orangnya sedikit pemalu. tapi kalo udah kenal orang suka datang konyolnya. hari-hari pertama di boston begitu berat. datang bulan januari, masih dingin-dinginnya. tapi dia harus sekolah. bangun pagi dan pergi sekolah menjadi berat sekali. mana masih gelap lagi. saya terkadang mengantarnya sampe sekolah yang jaraknya kurang lebih satu kilo meter. sejak datang di boston, kami sekeluarga harus sering jalan kaki, termasuk anak saya yang paling kecil. ke stasiun, ke pasar, atau ke sekolah, tidak ada pilihan lain selain jalan. kadang naik bis. tapi bis di sini lama nunggunya.
sekarang rifqi sudah mulai enjoy dengan sekolahnya. dia sudah bisa mengucapkan sepatah dua patah kata dalam bahasa inggris. wow!!!!
Bersama Guru2 Pesantren
Masih di tsanawiyah, saya sudah membaca "Guruku Orang-orang dari Pesantren" karya Saifuddin Zuhri. Itu salah satu buku yang saya sukai, dan memberi saya banyak inspirasi. Ternyata banyak orang besar yang berasal dari pesantren. Karena itu saya mau mesantren selepas tsanawiyah. Saya pun ingin menjadi orang besar seperti orang-orang yang diceritakan dalam buku tersebut.
Setelah mesantren, saya menjadi ustadz di sebuah pesantren di daerah Parung Bogor. Dan ketika bekerja di PPIM, saya kembali bergaul dengan orang-orang pesantren. Saya sering keluar masuk pesantren, mewawancarai kyai, ustadz, dan santri. Saya menikmati semua itu.
Begitu pentingny pesantren sampai2 sejumlah lembaga "berlomba-lomba" mendekati pesantren. Di antara mereka adalah pemerintah Jepang, lewat Kedubes Jepang di Jakarta yang mengajak mereka untuk jalan2 di beberapa kota di Jepang. Tujuannya adalah agar pesantren belajar sesuatu dari Jepang. Semoga saja.
Ahmadiyah Oh Ahmadiyah
Sekitar dua tahu lalu, saya mendapat tugas untuk sosialisasi survei PPIM tentang "Islam dan Demokrasi di Indonesia" di Mataram. Namun untuk keperluan seminar, saya harus bicara tentang toleransi di kalangan umat Islam di Indonesia. Banyak peserta yang datang, kelompok Islam, Hindu, pemuda, politisi, akademisi, dan perempuan. Di antara kalangan yang diundang adalah kelompok Ahmadiyah yang di Lombok cukup besar jumlahnya. Laki-laki yang tampak dalam foto di atas adalah muballigh Ahmadiyah.
Dalam seminar saya sampaikan bahwa sekian persen (kalo tidak salah 10 persen) umat Islam benci dengan Ahmadiyah. Dan sekian persen lagi (kalo tidak salah 2 persen) siap melakukan kekerasan kepada Ahmadiyah. "Karena itu," kata saya, "Ahmadiyah jangan macam2." Sang muballigh mendengar itu tersenyum2 saja. "Memang angkanya kecil," lanjut saya. "Tapi angka itu bila dikalikan dengan jumlah umat muslim secara nasional sangat besar lho." Sanga muballigh manggut-manggut. Ada bahaya senantiasa mengancam mereka.
Apa yang saya sampaikan pada waktu seminar itu sekarang menjadi kenyataan. Gerakan anti-Ahmadiyah semakin besar. Entah apa yang akan terjadi. Namun yang jelas apa yang diprediksi survei waktu itu mendekati kenyataan. Kekerasan yang tadinya bersifat potensial sekarang menjadi aktual. Di mana-mana orang berteriak2 "bunuh Ahmadiyah" "ganyang Ahmadiyah". Mengerikan sekali.
Saya jadi teringat Ustadz Saiful Uyun, muballigh Ahmadiyah asal Tasikmalaya yang bertugas di Makassar. Orangnya baik abis. Setelah seminar di IAIN Makassar, malamnya saya ditraktir makan ikan di Restoran Lea Lea.
Ia cerita tentang mengapa ia menjadi Ahmadiyah. Ia juga panjang lebar tentang Ahmadiyah. Dari ceritanya saya menyimpulkan bahwa Ahmadiyah adalah sebuah sekte sunni--mereka bukan deviant sect seperti disangkakan orang. Bedanya dengan kaum sunni pada umumnya mereka percaya bahwa Al-Mahdi sudah datang, yaitu dalam diri Mirza Ghulam Ahmad. Itu saja.
Seorang teman yang pada waktu seminar begitu sengit dengan Ahmadiyah bertanya. "Posisi Nabi Muhammad aman-aman saja kan?" Kontak kita tertawa mendengar pertanyaan itu. Begitu mengerikankah bila kerasulan Muhammad tidak diakui. Namun Ahmadiyah masih percaya dengan itu. "Ya, tentu saja. Kami pun percaya dengan kenabian dan wahyu Nabi Muhammad." Lalu Pak Saiful membaca sejumlah ayat al-Qur'an yang menyatakan kenabian Muhammad dan sejumlah hadist yang menerangkan kedatangan Al-Maw'ud (Yang Dijanjikan).
Pak Saiful, mudah2an Tuhan melindungi kita semua!
Saturday, April 26, 2008
Sadun Padim
Di sebuah warung mie, beberapa lelaki tampak menghisap rokok mereka dalam-dalam, lalu menghempaskan asapnya ke udara. Asap bergulung-gulung putih membentuk bulatan-bulatan, kemudian memudar dan hilang. Denting sendok dan garpu yang beradu dengan mangkuk bersahutan dengan bunyi seruput mulut menyeruput kopi dan teh panas yang dihidangkan. Mereka tengah mendengarkan cerita Sadun yang baru saja pulang dari sebuah kafe.
“Semua orang tepuk tangan begitu Rayena tampil. Apalagi ketika ia bergoyang, kafe seakan roboh, semua pengunjung turun berjoget.”
Itulah Kongsi, sebuah kampung yang terletak di pinggiran ibu
Sudah lama sebenarnya Sadun ingin menyalurkan bakat mereka. Namun sulitnya bukan main. Di samping masalah kualitasnya yang masih ecek-ecek, juga tidak ada koneksi dengan orang-orang yang mengurusi bisnis hiburan malam. Padahal tak jauh dari kampung itu, menjamur kafe dan diskotik yang menawarkan gelimang uang dan ketenaran. Karena itu apa yang bisa dilakukan hanyalah manggung dari satu rumah ke rumah lain, dengan bayaran alakadarnya tergantung kebaikan yang punya hajat.
Hasilnya lumayan, tapi memang tidak mencukupi kebutuhan mereka seluruhnya. Karena itu kalau anak buahnya membutuhkan sesuatu, Sadun mengeluarkan isi koceknya sendiri. Meskipun tukang ojek dengan penghasilan paspasan, namun untuk urusan anak-anak band, Sadun berusaha sekuat tenaga. Pokoknya mereka harus terus berlatih, karena tanpa latihan mereka tidak bisa meningkatkan permainannya.
Ma’anih, istri Sadun, tentu saja mencak-mencak mengetahui kelakuannya yang suka royal tersebut. Perkara dapur saja tidak beres, anak-anak band malah diurusi. Karuan saja kantongnya jebol. Tahun depan, Saodah, anak gadis mereka, lulus SMU. Artinya mereka harus menyediakan sejumlah uang untuk biaya kuliahnya. Bila ditanya tentang hal itu, Sadun malah melengos. Biarlah Saodah jadi penyanyi saja, katanya. Ia tidak perlu sekolah tinggi-tinggi.
Lain kesempatan, Sadun bilang kalau jodoh Saodoh sudah ada, baiknya dikawinkan saja. Masak tidak ada laki-laki yang suka. Saodah
Ma’anih pusing memikirkan kelakuan suaminya yang tidak pernah memikirkan anak mereka satu-satunya. Namun lama kelamaan ia mengerti juga profesi Sadun. Pada bulan-bulan tertentu, banyak orang hajatan.
“Kalau anak-anak band maju, nanti kau juga yang senang,” kata Sadun pada suatu hari.
Tiba-tiba Sadun teringat Rayena. Anak itu makin hari makin terlihat saja bakatnya. Suaranya bagus, cengkoknya juga bagus, dan yang penting lagi, bodinya juga oke. Sadun berusaha mati-matian agar gadis tersebut bisa menjadi biduan dalam arti yang sebenarnya. Diundang dari satu tempat ke tempat lainnya dengan mendapatkan upah yang pantas.
Lewat perkenalannya dengan seorang pelanggan ojeknya yang ternyata pelayan di sebuah kafe, Sadun memperkenalkan Rayena pada menejer kafe. Sang menejer berdecak kagum mendengar suara Rayena yang merdu. Dengan gayanya yang genit, ia pun memuji kecantikan Rayena. Rayena tidak hanya diterima, ia langsung diberi job untuk menyanyi.
Pada malam yang telah ditentukan Rayena melakukan debut perdananya. Malam itu malam Rayena. Tak disangka biduan kampung tersebut sanggup menyihir pengunjung. Begitu naik ke panggung, terdengar suitan nakal. Rayena dengan sopan memberi salam dan menyapa penonton.
Rayena menyanyi satu dua lagu. Suaranya yang merdu segera menghangatkan suasana. Riuh rendah, terdengar tepuk tangan di sana-sini. Lalu Rayena pun menari. Mulanya meliuk perlahan, melenggak-lenggok, semakin lama semakin cepat mengikuti irama gendang yang menghentak.
Satu persatu orang naik ke panggung, berjoget-joget ria bersama sang biduan. Rayena meladeni mereka semua dengan goyangannya yang makin seronok. Sebelum turun mereka minta sun pipi segala sambil tak lupa memberi salam tempelnya. Rayena tersenyum saja melihat tingkah penonton. Ia terus bernyanyi dan menari. Malam itu ia mendapatkan saweran banyak sekali.
***
Cerita sukses Rayena menjadi buah bibir orang sekampung. Semua orang mengelu-elukan dirinya, mulai dari anak-anak, para gadis, maupun orang-orang tua. Sudah lama Kongsi tidak memiliki seniman besar. Setelah kematian Mpok Onih, penari kawakan, tak ada lagi seniman yang lahir di
Pada masa mudanya, nama Mpok Onih dikenal sampai daerah
Orang lalu menghubungkan kehebatan Rayena dengan Mpok Onih. Tak salah lagi arwah Mpok Onih telah menitis ke dalam tubuh Rayena. Namun Rayena tidak peduli dengan cerita titis-menitis tersebut. Yang jelas ia memang mencoba untuk tampil total. Dan untuk tampil total ia harus cantik. Dan dengan uang, Rayena bisa cantik. Ia membeli pakaian-pakaian bagus untuk manggung. Hak sepatunya makin tinggi saja. Dari waktu ke waktu, karena sering ke salon, ia makin cantik. Penampilannya berubah. Rambutnya yang lurus sebahu dicat pirang. Bila berjalan, ia menggeraikan rambutnya, serasi betul dengan lekuk tubuhnya yang padat berisi. Lelaki mana yang tak menelan ludah melihat gadis yang begitu botoh ini melenggak-lenggok di tengah kampung. Namun Rayena bukan gadis kampung lagi. Ia seorang biduan. Tugasnya menghibur orang. Dari satu kafe ke kafe lain, dari satu diskotik ke diskotik lain.
Sementara itu Sadun dengan setia mengantar Rayena kemana pun pergi. Selepas isya Sadun memangkal motornya di depan warung. Tak lama kemudian Rayena datang. Dari jauh baunya menyerbak. Mereka lalu berangkat. Mengais rejeki di keremangan malam. Menjelang subuh mereka pulang. Sebelum berpisah tidak lupa Rayena memberi Sadun uang.
Ma’anih sekarang menyadari betul pekerjaan suaminya. Ternyata Sadun selama ini bukan hanya begadang, namun cari uang. Bayangkan, dalam satu minggu ia diberi uang sampai ratusan ribu rupiah. Uang sebanyak itu tidak mungkin bisa diperoleh dari mengojek. Ma’anih bahkan kini bisa mencicil perabotan baru. Rumahnya tidak lagi kosong. Di
Namun memang, itulah kelemahan Sadun. Setelah banyak uang, ia tidak berusaha mengembangkan diri lagi. Ia sudah merasa puas bisa mencukupi keluarganya. Lelaki kampung ini tidak mau tahu bagaimana sebenarnya bisnis hiburan harus dilakukan. Padahal di luar
Pernah suatu kali Rayena menawari agar Sadun menjadi menejernya. Artinya Sadun harus mengatur semua jadwalnya, kontraknya, dan mengurusi teknis-operasionalnya. Namun ia tidak menyanggupi. Jangankan untuk menjadi mengurusi kontrak, mengeja namanya saja ia terbata-bata. Ia malu. Ia hanya ingin bekerja seperti biasa saja, mengantar Rayena ke kafe atau diskotik, setelah itu dapat uang.
Rayena kesal dengan penolakan itu. Sebenarnya Rayena ingin agar rejeki yang ia peroleh mengalir juga ke orang-orang Kongsi. Dan untuk itu Sadun harus menjadi menejernya. Namun justru Sadun menolak. Akibatnya Rayena harus mengatur jadwalnya sendirian. Mulai dari kostum, honor, dan segala hal lainnya. Pada saat itulah menejer kafe yang dulu pertama kali mengorbitkan Rayena mendekati dirinya. Dan tanpa pikir panjang Rayena terima saja ketika menejer kafe mengajaknya kerja sama.
Sadun merasa bersalah. Mengapa tawaran Rayena tempo hari ditolak. Mengapa tidak terlebih dahulu dibicarakan dengan teman-temannya yang lain. Mungkin mereka bisa membantu. Pernah satu kali ia menghampiri Rayena yang mau manggung, namun seorang pelayan kafe menghampirinya dan memberinya amplop berisi uang. Dari jauh sambil melambaikan tangan, Rayena memberi kode bahwa ia sebentar lagi manggung.
Hati Sadun terasa kosong menerima uang tersebut. Sadun tidak mengharap belas kasihan seperti itu. Di matanya, Rayena adalah penyanyi Kongsi yang dulu ia bina. Mengapa sekarang seakan meninggalkan begitu saja, seolah hubungan yang telah terjalin sekian lama hilang begitu saja. Ketika Sadun mencoba menghubunginya lagi, orang-orang kafe marah.
Sejak itu keduanya jarang bertemu. Kalaupun bertemu, paling-paling Rayena memberi beberapa lembar rupiah lalu pergi. Lama kelamaan Sadun merasa tidak enak hati menerima pemberian itu. Beberapa kali bahkan ia menolak.
“Sudahlah, tidak usah susah-susah memberiku uang. Berikan saja uang ini langsung kepada anak-anak band.”
Sejak itu mereka putus, tidak pernah berhubungan lagi. Orang kampung melihatnya sebagai kacang lupa kulitnya. Menurut mereka kesuksesan Rayena karena Sadun. Sadunlah yang membuat Rayena sukses. Sadunlah yang berjasa sehingga Rayena menjadi penyanyi. Tanpa Sadun, Rayena hanyalah si Raenah, gadis Kongsi yang bermimpi jadi artis. Rayena tidak bisa apa-apa. Bagaimana menyanyi, menari, bergoyang, tersenyum, tertawa, memilih kostum, asesori, Sadun yang mengajari. Sadun yang mengajari bagaimana menjadi seorang biduan. Namanya pun, Rayena, Sadun yang memilihkan. Menurut Sadun, nama harus terdengar komersil bila seorang ingin menjadi artis. Nama Raenah tidak terdengar komersil bahkan bisa merusak pasaran, karena itu harus diganti.
Saking hebatnya, ada yang menyamakan Sadun dengan Roger Vadim, bintang Perancis yang menyulap Brigitte Bardot. Vadimlah yang mengubah Bardot. Tanpa Vadim, Bardot hanyalah patung es yang dingin dan tak pandai berakting. Bahkan sebagian orang memanggil dirinya Sadun Padim. Bukan Vadim tapi Padim.
“Alah, jangan kau samakan aku dengan orang lain. Aku ini hanya membantu saja.
Bagi Sadun hidup memang harus begitu. Memberikan sesuatu tanpa pamrih agar terus bisa bergerak bebas. Sama halnya ketika seseorang buang hajat di pagi hari, toh ia tidak pernah berpikir makan apa tadi malam. Tiba-tida dada Sadun terasa sesak. Kemarin beberapa mobil parkir di depan rumah Rayena. Tak lama kemudian terdengar kabar Rayena dilamar sang menejer untuk dijadikan istri mudanya. Orang bilang Rayena sangat beruntung, karena dengan demikian ia punya suami sekaligus menejer. Namun tetap Sadun merasa khawatir dengan masa depan Rayena.
Di Kongsi Rayena merupakan legenda. Apalagi ketika ia tampil di layar kaya. Sekampung histeris. Sejumlah gadis bahkan pingsan menyaksikan pujaannya. Namun ketika Rayena diboyong suaminya, perasaan orang terhadapnya makin jauh. Rayena bukan milik mereka lagi. Ia telah menjadi milik orang lain.
Dan betul saja yang dikhawatirkan Sadun. Setelah menikah bintang Rayena memudar. Suara dan goyangannya tidak lagi sehot dulu. Dan, memang, kalau mau mengikuti pakem Mpok Onih, Rayena sebenarya telah melanggar pantangan dengan melakukan pernikahan. Dalam hidupnya, Mpok Onih tidak pernah menikah, meskipun ia beberapa kali menjadi gundik para cukong dan tokeh.
Sadun sudah hampir melupakan Rayena. Malam itu ia tampak memangkal motornya di depan warung. Wajahnya berseri-seri. Baru saja ia mendengar Saodah bernyanyi. Lenggak-lenggok dan cengkoknya lebih bagus dari Rayena. Ia yakin Saodah akan menjadi penyanyi besar. Sadun bersiul. Ia membayangkan suatu hari malam-malamnya disibukkan dengan mengantar Saodah, menyanyi dari kafe ke kafe. Namun tiba-tiba Sadun ingin sekali punya cucu.
Rempoa, Februari 2004
Ket.
1. ecek-ecek = jelek, buruk
2. botoh = seksi, bahenol
Santri Tidak Terbiasa Berpikir Empirik
Dalam sebuah pelatihan, saya pernah menanyai peserta yang adalah para santri dari berbagai pesantren tentang cita-cita mereka. Dari peserta yang berjumlah 30 orang, 28 orang memberikan jawaban bahwa mereka ingin mengabdi pada umat, bahwa mereka ingin menjadi orang yang bermanfaat, bahwa mereka ingin mengabdi pada nusa, bangsa, dan agama, bahwa mereka ingin menegakkan kalimat Allah, bahwa mereka ini menjadi kyai, bahwa mereka ingin menjadi orang alim, dan semacamnya. Hanya 2 orang yang mengatakan secara persis bahwa ia ingin menjadi guru bahasa Inggris, dan bahwa ia ingin menjadi dokter ahli kandungan.
Saya terperangah mendengar jawaban-jawaban mereka. Bukan karena yang dua orang, tapi karena yang dua puluh delapan orang. Cita-cita mereka begitu mulia, begitu tinggi, dan begitu hebat. Memang kata orang, gantungkan cita-citamu setinggi bintang di langit. Betul. Karena itu kemudian kita berusaha menggapai bintang itu. Masalah tergapai atau tidak, itu nomor dua. Yang penting, kita sudah menggantungkannya setinggi bintang di langit.
Tapi kita pun patut bertanya pada orang yang percaya dengan pepatah itu. Kalau cita-cita setinggi bintang di langit, lalu bagaimana kita menggapainya. Toh kita berdiri di atas bumi, dan tidak pernah bisa terbang ke sana. Ini tentu masalah yang harus dipikirkan. Seyogyanya, ketika kita putuskan untuk menggantungkan cita-cita kita setinggi bintang di langit, kita pun sadar untuk membangun tangga tinggi yang menghubungkan kita dengan bintang itu. Kita selalu bicara tentang cita-cita, tapi kita tidak pernah bicara tentang bagaimana menggapainya.
Cita-cita adalah sebuah konsep tentang bagaimana kita memandang masa depan. Nun jauh di depan sana, terletak cita-cita kita. Dan kita berusaha menuju ke sana. Jadi cita-cita yang abstrak yang berada di titik tertentu di masa depan menarik kita yang kongkrit yang berada di titik sekarang. Seberapa kuat ia menarik tergantung seberapa kuat kita percaya pada cita-cita tersebut. Contoh, karena kita percaya bahwa di depan sana ada surga dan neraka, maka kita mati-matian salat dan puasa. Jadi surga dan neraka itu adalah konsep tentang masa depan yang menarik diri kita untuk terus bergerak menuju ke sana. Contoh yang lain, karena kita ingin menjadi orang orang yang bermanfaat bagi nusa, bangsa dan agama—sebuah konsep yang abstrak—maka diri kita yang kongkrit dan di sini melakukan sesuatu untuk menujunya. Dengan kata lain, cita-cita yang abstrak dan setinggi langit harus terhubungkan dengan diri kita yang kongkrit dan di bumi ini. Tanpa ada keterhubungan ini, cita-cita hanya akan tergantung pada bintang di atas sana kelap-kelip tanpa sedikit pun kita bisa menggapainya.
Proses keterhubungan ini adalah kongkretisasi atau materialisasi dari konsep cita-cita yang abstrak. Kita tentu mengenal apa itu abstrak, dan apa itu kongkrit. Yang abstrak adalah hal-hal yang tidak terlihat, bisa makhluk seperti jin dan malaikat, bisa juga ide atau pikiran yang hanya ada di kepala kita seperti cita-cita. Filsafat dan agama mengenalkan cara berpikir deduksi, (dari atas ke bawah, dari umum ke khusus). Sementara ilmu mengenalkan cara berpikir induksi (dari bawah ke atas, dari khusus ke umum). Cara berpikir ini disebut juga berpikir empirik atau ilmiah.
Kembali lagi kepada santri. Tiba-tiba saya sadar bahwa sejak awal para santri diperkenalkan dan terlatih untuk berpikir abstrak dan konseptual. Ini karena watak pesantren sebagai lembaga pendidikan yang menekankan pada pengkayaan dan pengamalan ilmu-ilmu agama (littafaqquh fi al-din). Aspek ini membuat para santri bisa bicara tentang keadilan, kemakmuran, kebenaran, dan keburukan. Namun karena tidak diimbangi dengan kemampuan berpikir empirik, mereka tidak mampu menjabarkan konsep-konsep tadi ke dalam sebuah program yang kongkrit.
Contoh, ’kebersihan adalah bagian daripada iman’. Ini adalah hadis, dan setiap santri tahu benar hadis ini. Namun dari kacamata ilmu, kebersihan adalah sebuah konsep yang abstrak. Apa itu kebersihan, dan bagaimana mengukurnya, mengapa seseorang disebut bersih, dan seterusnya. Menurut kacamata ilmu, kebersihan tidak bisa diukur kecuali kita memerinci atau menurunkannya ke dalam aspek-aspek tertentu yang disebut variabel. Jadi, kalau kita rinci dan kita turunkan, yang disebut kebersihan itu ternyata berapa kali orang mandi dalam satu hari; dalam mandi itu apakah ia gosok gigi; apakah ia mandi pakai sabun; apakah ia pake sampo; dan seterusnya.
Hal-hal yang disebut terakhir disebut indikator, sesuatu yang menunjukkan sesuatu yang lain. Dan inilah yang bisa diukur. Demikian pula hanya dengan, katakanlah, cinta. Cinta tidak bisa diukur, karena ia adalah konsep yang abstrak. Cinta baru bisa diukur ketika kita menurunkannya ke dalam indikator-indikator tertentu: seberapa sering anda mengirim surat, memberinya bunga, menulis puisi, dan lain sebagainya.
Mengapa makna cinta harus direduksi menjadi mengirim surat, memberi bunga dan sebagainya? Perlu diingat bahwa dunia yang kita tempati adalah dunia empirik, dunia daging dan darah, dunia yang fana. Di dunia ini semua harus kongkrit. Dunia ini perlu pembuktian. Kalau anda mencintai kekasih anda, buktikan cinta itu. Kalau kebersihan itu sebagian dari iman, buktikan kebersihan itu. Dunia ini tidak perduli dengan cinta yang di atas sana, di atas awang-awang, di surga sana.
Ketidakmampuan atau ketidakterbiasaan kita untuk berpikir empirik menyebabkan kita lemah di hampir semua lini kehidupan. Kita bisa bicara tentang kebersihan bagian dari iman. Kita punya hadisnya, yang bersihnya orang lain. Kita bisa bicara tentang keadilan dan kemakmuran, namun kita tidak bisa menjabarkannya ke dalam sistem dan program ekonomi yang kongkrit. Kita bisa bicara bahwa Islam adalah agama yang membawa perdamaian, Islam adalah rahmat untuk semesta alam. Namun kita tidak bisa menerjemahkannya ke dalam sebuah konsep hidup yang saling menghormati dan menghargani. Kita selalu bicara tentang surga, namun hidup kita di dunia penuh penderitaan. Kita bisa bisa bicara bahwa Islam adalah agama yang benar, namun kita tidak bisa bagaimana mewujudkan kebenaran Islam di atas bumi yang fana ini.
Pesantren dan Tradisi Menulis
Pesantren dan menulis adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Di banyak tempat di Nusantara, pesantren adalah lembaga pertama yang mengajarkan baca-tulis kepada masyarakat. Sebenarnya tidak hanya di Nusantara, di tempat lain pun di dunia Islam, tradisi baca-tulis berawal dari kuttab, madrasah, atau khanqah, lembaga-lembaga pendidikan tradisional yang mirip dengan pesantren. Begitu kentalnya pesantren dengan tradisi baca-tulis ini, sehingga dari waktu muncul sejumlah karya cemerlang dalam berbagai disiplin ilmu yang dihasilkan oleh orang-orang pesantren.
Tradisi menulis di pesantren terbangun lewat kegiatan utama lembaga tersebut yaitu mengaji. Dalam proses mengaji, kyai dan santri tidak hanya membaca, namun juga menulis. Kyai membaca, dan santri menyimak atau memaknai sambil sesekali menulis apa yang perlu ditulis. Dengan pena dan tinta celup (biasanya tinta cina), santri menuliskan keterangan sang kyai yang dianggapnya penting di pinggir, bawah, atau atas lembar yang kosong. Kerapian adalah faktor penting dalam proses ini. Ini dimaksudkan agar tulisan bisa terbaca tidak saja ketika si santri kembali ke kampung halamannya dan menjadi kyai, namun juga, kalau perlu puluhan tahun kemudian, ketika si empunya kitab tiada.
Tradisi menulis seperti ini adalah seni tersendiri yang hanya bisa dilakukan oleh kaum santri. Bila kita perhatikan manuskrip-manuskrip lama, jelas sekali betapa kuat motivasi untuk menulis. Setiap kitab ditulis tangan. Tidak saja karena waktu itu belum ditemukan mesin cetak oleh Johan Güttenberg, atau belum dikenal di kalangan kaum muslim, namun karena menulis adalah bagian dari ibadah. Tangan digunakan untuk menulis huruf demi huruf, baris demi baris, lembar demi lembar, sebagai upaya untuk memahami kitab Allah dan Sunnah Rasul.
Faktor lain yang menumbuhsuburkan tradisi menulis di pesantren adalah proses intelektualisasi sebagai akibat dari mengaji. Mengaji adalah proses intelektual, santri dituntut untuk memahami isi kitab yang dibacanya. Untuk membantu proses ini tidak jarang seorang santri melakukan banyak pekerjaan menulis. Terkadang santri menyalin catatan santri lainnya yang berasal dari catatan kyai yang dibuat untuk meringkas atau memudahkan dalam memahami kitab tertentu. Biasanya kyai hanya meminjamkan catatannya satu kali saja kepada seorang santri. Begitu selesai, santri-santri lainnya menyalin dari catatan santri senior tadi sampai tercipta mata rantai yang panjang. Dalam proses penyalinan berantai ini tentu timbul berbagai kesalahan sehingga terkadang santri terakhir yang menyalin harus rajin mencocokkan catatannya dengan catatan lain yang dianggap lebih valid.
Dapat dibayangkan berapa banyak seorang santri harus menyalin catatan-catatan seperti ini. Dan dalam proses penyalinan ini, si santri berusaha untuk menulis seindah dan sebagus mungkin. Di sini pula sebenarnya pelajaran menulis indah atau kaligrafi, yang biasanya tidak diajarkan di pesantren-pesantren salaf, langsung dipraktikkan. Dulu sewaktu saya masih di pesantren, untuk membantu pemahaman santri, almarhum Kyai Nasir membuat terjemahan Alfiyah dalam bahasa Indonesia. Dalam beberapa kesempatan saya pernah melihat terjemahannya, bertuliskan riq’ah yang indah. Namun tentu saya tidak menyalinnya langsung dari terjemahannya, melainkan dari catatan teman saya yang setiap hari menyiapkan ’cicilannya’ sebelum mengaji kitab tersebut. Jadi, karena mengaji Alfiyah setiap hari, maka ia menulis beberapa halaman setiap hari, berisikan bait-bait yang akan diaji.
Meskipun santri harus menyalin sedemikian banyak, namun anehnya tak seorang pun berinisiatif mem-fotocopy/mengkopi terjemahan tersebut. Saya tidak tahu mengapa. Saya mengikuti saja kebiasaan yang ada. Namun setelah dipikir-pikir banyak hal yang hilang ketika sebuah tulisan dikopi. Pertama proses latihan menulis menjadi tidak ada. Kedua, pada waktu penyalinan sebenarnya terjadi proses pemahaman, dengan mengkopi pemahaman ini tidak ada. Ketiga, kyai memperuntukkan terjemahannya untuk kalangan terbatas, terutama santrinya. Dan keempat, mengkopi merupakan pekerjaan yang tidak kreatif dan tidak dianjurkan, untuk tidak mengatakan dilarang.
Dengan satu kitab saja seorang santri paling tidak harus menulis satu dua halaman setiap harinya. Apalagi kalau beberapa kitab. Di samping Alfiyah, Kyai Nasir pun menulis syarah dalam bahasa Indonesia beraksara Arab untuk kitab Jurumiyah dan Imrithi. Jadi bisa dibayangkan betapa banyaknya santri harus menulis setiap harinya. Sungguhpun demikian santri tampaknya melakukan pekerjaan penyalinan dengan senang hati. Sejumlah santri membeli pena dan tinta cinta untuk menulis. Setelah digosok dan diberi air, tinta dimasukkan ke dalam tempat tinta (mihbarah) yang terbuat dari kuningan. Agar tinta tidak lekas mengeri, ke dalam mihbarah dimasukkan serat hati pisang (ares) yang dikeringkan terlebih dahulu. Ada juga yang menggunakan sutera. Sementara saya cukup menggunakan kapas dan bekas botol puyuhson, sehingga pada saat tertentu tinta saya mengeluarkan bau yang tidak sedap. Mengaji jaman dahulu banyak pernak-perniknya. Namun kami menikmati semuanya. Justru karena banyak pernak-perniknya, mengaji menjadi proses pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Otak menjadi terasah dan tulisan menjadi bagus. Saya baru sadar mengapa tulisan para kyai Buntet begitu bagus. Tulisan Kyai Nasir bagus dan indah. Tulisan Kyai Fuad Hasyim pun bagus dan indah. Saya tahu karena beliau pernah mengajar ke-NU-an di kelas saya.
Bila santri disibukkan dengan menyalin, kyai disibukkan dengan membuat ringkasan. Ringkasan dibuat untuk keperluan praktis. Ada kitab-kitab tertentu yang begitu sukar untuk dipahami. Karena itu sejumlah kyai berinisiatif membuat ringkasan. Kyai Nasir pernah membuat ringkasan fiqih untuk masalah haid. Di samping itu ia pun membuat ringkasan untuk masalah zakat dan haji. Semoga catatan-catatan itu sampai sekarang masih ada, karena itu adalah pekerjaan ilmiah yang sangat berharga.
Tradisi Menulis Kitab
Tradisi menulis kitab di pesantren seringkali didasarkan pada tuntutan-tuntutan yang riil di masyarakat. Dalam pendahuluan sang pengarang kitab biasanya menerangkan mengapa ia menulis kitab. Biasanya motivasinya tidak jauh dari ’permintaan sebagian teman yang menginginkan agar saya membuat sebuah ringkasan... dan seterusnya’. Syekh Ahmad ibn Zaini Dahlan, seorang mufti Syafi’i kenamaan di Mekkah pada akhir abad ke-19 menulis kitab-kitabnya setelah ada permintaan dari Ashab al-Jawiyiin (santri-santri dari Nusantara) yang tengah menuntut ilmu di sana. Demikian pula Imam Nawawi al-Bantani, ia menulis puluhan kitab untuk memenuhi kebutuhan pengajaran agama yang ada di masyarakat. Dengan kata lain, penulisan kitab didasarkan pada interaksi intelektual dan sosial yang ada.
Tentu saja sejumlah ulama menulis kitab karena alasan-alasan ilmiah. Ibn Khaldun, saya kira, menulis Muqaddimah-nya setelah melakukan riset ilmiah atas berbagai masyarakat yang ditemuinya. Jadi kitabnya semacam refleksi filosofis-sosiologis atas problematika kemasyarakatan. Demikian pula Al-Ghazali menulis Al-Munqidz-nya setelah melakukan riset atas berbagai bentuk filsafat dan teosofi yang ditemui pada jamannya.
Di Nusantara tradisi menulis kitab tampaknya didasarkan pada alasan-alasan yang riil, semacam respon atas berbagai persoalan sosial kemasyarakatan. Motivasi utama adalah untuk memudahkan para pelajar untuk memahami agama, atau karena ada kebutuhan yang mendesak akan pengajaran agama. Ini asumsi saya yang membutuhkan pembuktian lebih lanjut. Namun berdasarkan bacaan saya atas sejumlah karya-karya klasik, terutama buku-buku sejarah perkembangan intelektualisme Islam baik yang ditulis oleh sejarawah muslim maupun Barat, asumsi ini cukup berasalan. Jarang ada ulama Nusantara yang menulis kitab karena alasan keilmuan semata seperti dilakukan Ibn Khaldun dan Al-Ghazali. Kejarangan ini berhubungan dengan keyakinan bahwa menulis kitab adalah ibadah, dan ilmu bukan sesuatu yang harus dipamerkan. Karena itu relevansi dengan keadaan sosial kemasyarakatan menjadi penting. Hal ini pula yang menyebabkan para ulama mewakafkan karya-karyanya untuk kepentingan keilmuan Islam. Istilah hak cipta atau ”huquq al-thab’i mahfudhatun” (hak cipta dilindungi undang-undang) baru dikenal belakangan, itu pun setelah ada interaksi dengan pihak Barat.
Dengan semangat ini pula sejumlah ulama Indonesia menulis karya-karya mereka. Untuk menyebut beberapa nama, kita mengenal K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Bisri Mustofa, K.H. Ihsan Jampes, Sayyid Uthman ibn Abdullah, Haji Hasan Mustafa, dan banyak lagi yang turut berjasa dalam pengembangan keilmuan keagamaan tradisional yang kerap disebut kitab kuning. Karya-karya mereka sampai sekarang masih terus dibaca di berbagai pesantren di seluruh Indonesia.
Dalam perkembangan selanjutnya, tradisi menulis di pesantren tidak hanya berkenaan dengan syarah atau ringkasan. Ia mulai merambah tema-tema lain di luar kegiatan mengaji. Dulu sewaktu masih di pesantren saya sering mendengar bahwa Kyai Fuad Hasyim yang menyukai seni juga menulis puisi dan lagu. Sayang puisi dan lagunya dibuat hanya untuk keperluan pribadi, tidak untuk umum. Padahal, menurut hemat saya, karya-karyanya tersebut penting sebagai bagian dari tradisi menulis pesantren. Mungkin beliau sendiri hanya membuat corat-coret saja dan tidak meniatkannya untuk dipublikasikan.
Sosok penting yang mempengaruhi tradisi menulis di lingkungan pesantren saat ini adalah K.H. Mustofa Bisri, pimpinan PP Raudhatul Talibin Rembang. Ia menulis cerpen, puisi, novel, kolom, artikel, dan bentuk tulisan lainnya. Kemampuan menulisnya luar biasa sehingga kita berkesulitan untuk menyebutnya, kyai penulis atau penulis kyai, kyai seniman atau seniman kyai. Di samping itu ia pun melukis, sebuah hobi atau pekerjaan yang tidak banyak dilakukan kaum kyai pada umumnya. Kita bisa banyak belajar dari sosok unik yang satu ini. Ia seakan-akan ingin mengatakan kepada khalayak santri bahwa menulis sama pentingnya dengan mengaji; mengaji ibadah, menulis juga ibadah. Justru lewat tulisan-tulisannya Gus Mus memiliki media yang lebih besar untuk menyampaikan ide-idenya. Kepiawaiannya menulis telah mengilhami sejumlah santri muda untuk melakukan hal yang sama. Gus Mus telah mengembalikan tradisi menulis kepada pesantren.
Menulis Buku Harian
Di banyak pesantren santri pada umumnya memiliki buku harian. Di buku harian, ia dapat menulis apa saja, mulai dari perasaan suka atau jatuh cinta kepada lawan jenis, sampai daftar kebutuhan yang harus dibeli setiap bulannya. Sewaktu masih menyantri saya termasuk orang yang menikmati kebiasaan ini. Meskipun tidak begitu disiplin dengan mengisinya setiap hari, paling tidak saya menuliskan hal-hal yang saya anggap layak untuk ditulis. Suka kepada lawan jenis, karena pada saat itu usia tengah pubertas, adalah alasan utama untuk menulis. Terkadang menulis puisi atau apa saja, yang penting perasaan ini sedikit tertumpahkan.
Sementara itu seorang teman betul-betul berdisiplin dalam mengisi buku diarinya. Sebelum tidur, dengan cahaya meremang, saya melihat ia mulai menulis. Katanya, kalau belum menulis ia tidak bisa tidur. Terhadap orang-orang tertentu yang dianggap istimewa—tidak selalu lawan jenis—para santri mempersilakannya menulis, atau saling mengisi buku diari. Apa saja boleh, termasuk kesan dan pesan terhadap si empunya buku, dan kata-kata agar masing-masing tidak saling melupakan bila sudah berpisah nanti.
Tentang tulis menulis di buku harian, seorang teman bercerita bahwa buku hariannya tak ubahnya seorang teman baginya. Kepadanya ia bisa menumpahkan apa saja. Sedih, kesal, gembira, marah, maupun kecewa. Pada tanggal anu, bulan anu dan tahun anu, sekian tahun yang lalu, ceritanya, buku hariannya penuh dengan warna tinta yang membleber sehingga sulit untuk membaca tulisannya. Ceritanya, beberapa tahun sebelumnya ia berjanji pada dirinya sendiri agar pada tanggal dan hari itu, ia bisa menghafal al-Qur’an seluruhnya. Namun ternyata target itu tidak tercapai. Alih-alih bersuka cita, pada hari itu ia menangis sejadi-jadinya. Buku hariannya menjadi saksi.
Mungkin tak banyak yang menyadari bahwa kebiasaan menulis di buku harian atau diari memiliki peran penting dalam latihan menulis. Meskipun kebiasaan ini sudah lama ada—Pangeran Ahmad Djajadiningrat dari Serang pada awal abad ke-20 menulis memoarnya tentang pesantren dalam Het Leven in Pesantren (Hidup di Pesantren)—namun kebiasaan ini tidak pernah melembaga. Karena itu ada baiknya kepada para kyai dan guru-guru pesantren untuk paling tidak menganjurkan pada santri mereka untuk menulis di buku harian. Latihan ini pasti akan dirasakan manfaatnya justru ketika si santri keluar dari pesantren.
Kebiasaan untuk menulis di buku harian sebenarnya satu langkah menjadi seorang penulis. Banyak penulis yang memulai karirnya dengan rajin menulis di buku harian. Kebiasaan ini pula yang tampaknya merangsang penulis muda santri untuk melahirkan gender teenlit (teenager literatur) atau sastra remaja.
Menuju Tradisi Tulisan
Dari pembicaraan di atas, adalah keliru pandangan sementara kalangan yang menyebutkan bahwa pesantren hanya mengembangkan tradisi lisan (oral tradition), dan tidak mengenal tradisi tulisan (written tradition). Pandangan ini tidak didasarkan pada pengamatan yang mendalam tentang bagaimana kaum santri mengembangkan tradisi menulisnya. Memang ada persoalan, kaum santri pada umumnya tidak menerbitkan karya-karyanya dan menyebarkannya secara luas. Masalah ini berkaitan dengan keyakinan bahwa ilmu bukanlah hal yang harus dipamerkan. Jelas sekali mereka mencampuradukkan pengertian menerbitkan dan pamer. Ini tentu sangat disayangkan. Karena itu, sampai sekarang karya-karya kaum santri tidak banyak berubah dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya.
Di samping keengganan untuk menerbitkan karya-karya mereka, faktor politik juga mempengaruhi produktivitas kaum santri. Seperti diketahui, pesantren pada umumnya berafiliasi ke Nahdhatul Ulama. Ketika NU bermain politik pada kurun 1950-an sampai 80-an, semua kyai NU dibuat sibuk oleh politik. Mereka tidak banyak waktu lagi untuk menulis. Tidak hanya menulis, pesantren pun banyak yang terbengkalai. Namun ketika NU memutuskan untuk kembali ke khittah perjuangannya sebagai organisasi jam’iyyah diiniyah, tradisi yang ditinggalkannya tersebut kembali diakrabi. Pada dasawarsa 80-an bermunculan kolumnis muda NU yang menulis di berbagai surat kabar baik lokal maupun nasional dan sejumlah karya kaum santri diterbitkan secara luas.
Karya-karya tertulis memegang peran penting dalam transmisi ilmu pengetahuan kepada masyarakat secara luas. Pesantren sebenarnya memiliki tradisi yang luar biasa dalam hal menulis. Ini dibuktikan dengan munculnya sejumlah karya bermutu tinggi yang dilahirkan oleh para ulama. Bila pada masa lalu pesantren bisa, sekarang pun harusnya bisa.[]
Friday, April 25, 2008
Rifqi dan Gabriel
Mereka baru tiba di sini Januari lalu, bersama ibu mereka, Rahmawati. Tahun lalu, sewaktu saya masih tinggal sendiri di sini, hidup terasa begitu sepi. Padahal kota ini senantiasa ramai. Mereka tinggal di Jakarta, dan saya di Boston. Sepi bukan main. Dalam hati, saya bertekad, tahun depan mereka harus ke sini, apa pun yang terjadi. Senang sama2, susah sama2. Dan alhamdulillah, rencana itu sekarang terlaksana. Mereka sekarang tinggal di sini, di rumah ini, bersama saya.
Tidak Bisa Tidur
Yah, hari ini cukup melelahkan. Kamis hari yang melelahkan. Ada dua kelas yang harus diikuti. Kelasnya Lindholm dan kelasnya Weller. Lindholm mengajar metode fieldwork, bagaimana seorang antropolog seharusnya melakukan fieldwork. Banyak metode dan teorinya. Tapi pada intinya adalah bagaimana seorang antropolog belajar mendengarkan ketika orang lain bicara, dan setelah itu, berdasarkan pembicaraan itu, ia mengajukan pertanyaan. Kelas Lindholm bagi saya selalu menarik. Bukan karena materinya yang menarik, tapi caranya mengajar. Menarik sekali. Dia bisa menerangkan dengan jernih bagaimana seharusnya wawancara dilakukan, bagaimana membuat janji, bagaimana bergaul dengan orang-orang yang kita teliti, bagaimana menghindari prejudice, bagaimana mempertahankan hubungan seimbang, antara seorang peneliti dan seorang yang intim. Wah, pusing saya. Tapi justru pada saat pusing tersebut saya merasa mempelajari sesuatu. Saya berencana mengambil mata kuliahnya lagi semester depan. Tampaknya saya bisa banyak belajar dari Lindholm.
Kelasnya Weller membahas tentang teori-teori antropologi. Buku yang dibahas adalah "Friction" karya Ann Tsing. Tentang koneksi global dan bagaimana koneksi tersebut berhubungan dengan eksploitasi hutan di Pegunungan Meratus Kalimantan Selatan. Bukunya tidak begitu menarik. Ada kesan argumen yang dikembangkan Tsing meloncat kesana kemari, tidak konsisten dengan teori yang ia coba kembangkan. Tapi itu kesan sementara. Saya harus membaca buku itu lagi sebelum membuat penilaian yang objektif. Tentang Weller? Well, terus terang cara ia mengajar tidak begitu menarik. Agak confusing, dan di sana sini, ia menyelingi pernyataan-pernyataan personalnya tentang si pengarang. Selalu begitu. "Well, I don't buy that." "I think she is a bit annoying." Saya yang duduk agak mengantuk menyergah di dalam hati. "Well, I don't buy that either."


