Monday, April 28, 2008

Belajar dari Jepang




Gambar di bawah adalah salah satu sudut kota Osaka. Bersih ya? Orang Jepang suka bersih-bersih. Lihat saja air sungai itu. Lebih bersih dari sungai Ciliwung. (Tentu saja). Meski perbandingan ini masuk akal, karena sama2 sungai, tapi tidak terbandingkan sebenarnya, karena perbedaan yang begitu jauh antara keduanya.

Dan gambar di atas adalah murid-murid SD yang tengah belajar musik. Begitu sederhana sederhana sebenarnya pendidikan di Jepang. Anak2 diajar musik, seni, dan kaligrafi tradisional Jepang. Hasilnya luar biasa. Orang Jepang tidak pernah meninggalkan identitasnya.

Kita kadang2 latah. Tidak punya pendirian. Pendidikan menjadi ajang bongkar-pasang. Akibatnya yang menjadi korban adalah anak murid. Guru menjadi bingung, karena kurikulum seringkali berubah.

Kita bisa belajar banyak dari Jepang, tidak hanya bagaimana mengelola alam dan menyelenggarakan pendidikan. Kita juga bisa belajar hal-hal lainnya. Bagi bangsa Asia pada umumnya, termasuk Indonesia, bangsa Jepang adalah salah satu bukti bahwa menjadi modern tidak berarti meninggalkan identitas.

Kita seringkali mencampuradukkan pengertian "to be modern" dan "to be western".

Sunday, April 27, 2008

Gabriel Passing Through the Winter


gabriel, dengan seragam winternya, melewati musim dingin pertama di boston dengan senyuman. dia tidak tahu apa artinya musim dingin. ketika suhu mencapai minus 10, dan ketika orang dewasa menggigil kedinginan, dia malah tersenyum.

Mei besok umurnya genap tiga tahun. Udah pintar ngitung dalam bahasa Inggris. Dia gesit dan tangkas. Dan tengah tergila2 dengan Thomas the train. Selamat ulang tahun, nak. Semoga panjang umurmu.

Rifqi with Harvard Hat


namanya rifqi, umur 7 tahun, melewati musim dingin pertama di boston. tapi hidungnya sedikit ingusan.

orangnya sedikit pemalu. tapi kalo udah kenal orang suka datang konyolnya. hari-hari pertama di boston begitu berat. datang bulan januari, masih dingin-dinginnya. tapi dia harus sekolah. bangun pagi dan pergi sekolah menjadi berat sekali. mana masih gelap lagi. saya terkadang mengantarnya sampe sekolah yang jaraknya kurang lebih satu kilo meter. sejak datang di boston, kami sekeluarga harus sering jalan kaki, termasuk anak saya yang paling kecil. ke stasiun, ke pasar, atau ke sekolah, tidak ada pilihan lain selain jalan. kadang naik bis. tapi bis di sini lama nunggunya.

sekarang rifqi sudah mulai enjoy dengan sekolahnya. dia sudah bisa mengucapkan sepatah dua patah kata dalam bahasa inggris. wow!!!!

Bersama Guru2 Pesantren


Masih di tsanawiyah, saya sudah membaca "Guruku Orang-orang dari Pesantren" karya Saifuddin Zuhri. Itu salah satu buku yang saya sukai, dan memberi saya banyak inspirasi. Ternyata banyak orang besar yang berasal dari pesantren. Karena itu saya mau mesantren selepas tsanawiyah. Saya pun ingin menjadi orang besar seperti orang-orang yang diceritakan dalam buku tersebut.

Setelah mesantren, saya menjadi ustadz di sebuah pesantren di daerah Parung Bogor. Dan ketika bekerja di PPIM, saya kembali bergaul dengan orang-orang pesantren. Saya sering keluar masuk pesantren, mewawancarai kyai, ustadz, dan santri. Saya menikmati semua itu.

Begitu pentingny pesantren sampai2 sejumlah lembaga "berlomba-lomba" mendekati pesantren. Di antara mereka adalah pemerintah Jepang, lewat Kedubes Jepang di Jakarta yang mengajak mereka untuk jalan2 di beberapa kota di Jepang. Tujuannya adalah agar pesantren belajar sesuatu dari Jepang. Semoga saja.

Ahmadiyah Oh Ahmadiyah



Sekitar dua tahu lalu, saya mendapat tugas untuk sosialisasi survei PPIM tentang "Islam dan Demokrasi di Indonesia" di Mataram. Namun untuk keperluan seminar, saya harus bicara tentang toleransi di kalangan umat Islam di Indonesia. Banyak peserta yang datang, kelompok Islam, Hindu, pemuda, politisi, akademisi, dan perempuan. Di antara kalangan yang diundang adalah kelompok Ahmadiyah yang di Lombok cukup besar jumlahnya. Laki-laki yang tampak dalam foto di atas adalah muballigh Ahmadiyah.

Dalam seminar saya sampaikan bahwa sekian persen (kalo tidak salah 10 persen) umat Islam benci dengan Ahmadiyah. Dan sekian persen lagi (kalo tidak salah 2 persen) siap melakukan kekerasan kepada Ahmadiyah. "Karena itu," kata saya, "Ahmadiyah jangan macam2." Sang muballigh mendengar itu tersenyum2 saja. "Memang angkanya kecil," lanjut saya. "Tapi angka itu bila dikalikan dengan jumlah umat muslim secara nasional sangat besar lho." Sanga muballigh manggut-manggut. Ada bahaya senantiasa mengancam mereka.

Apa yang saya sampaikan pada waktu seminar itu sekarang menjadi kenyataan. Gerakan anti-Ahmadiyah semakin besar. Entah apa yang akan terjadi. Namun yang jelas apa yang diprediksi survei waktu itu mendekati kenyataan. Kekerasan yang tadinya bersifat potensial sekarang menjadi aktual. Di mana-mana orang berteriak2 "bunuh Ahmadiyah" "ganyang Ahmadiyah". Mengerikan sekali.

Saya jadi teringat Ustadz Saiful Uyun, muballigh Ahmadiyah asal Tasikmalaya yang bertugas di Makassar. Orangnya baik abis. Setelah seminar di IAIN Makassar, malamnya saya ditraktir makan ikan di Restoran Lea Lea.

Ia cerita tentang mengapa ia menjadi Ahmadiyah. Ia juga panjang lebar tentang Ahmadiyah. Dari ceritanya saya menyimpulkan bahwa Ahmadiyah adalah sebuah sekte sunni--mereka bukan deviant sect seperti disangkakan orang. Bedanya dengan kaum sunni pada umumnya mereka percaya bahwa Al-Mahdi sudah datang, yaitu dalam diri Mirza Ghulam Ahmad. Itu saja.

Seorang teman yang pada waktu seminar begitu sengit dengan Ahmadiyah bertanya. "Posisi Nabi Muhammad aman-aman saja kan?" Kontak kita tertawa mendengar pertanyaan itu. Begitu mengerikankah bila kerasulan Muhammad tidak diakui. Namun Ahmadiyah masih percaya dengan itu. "Ya, tentu saja. Kami pun percaya dengan kenabian dan wahyu Nabi Muhammad." Lalu Pak Saiful membaca sejumlah ayat al-Qur'an yang menyatakan kenabian Muhammad dan sejumlah hadist yang menerangkan kedatangan Al-Maw'ud (Yang Dijanjikan).

Pak Saiful, mudah2an Tuhan melindungi kita semua!

Saturday, April 26, 2008

Sadun Padim

Di sebuah warung mie, beberapa lelaki tampak menghisap rokok mereka dalam-dalam, lalu menghempaskan asapnya ke udara. Asap bergulung-gulung putih membentuk bulatan-bulatan, kemudian memudar dan hilang. Denting sendok dan garpu yang beradu dengan mangkuk bersahutan dengan bunyi seruput mulut menyeruput kopi dan teh panas yang dihidangkan. Mereka tengah mendengarkan cerita Sadun yang baru saja pulang dari sebuah kafe.

“Semua orang tepuk tangan begitu Rayena tampil. Apalagi ketika ia bergoyang, kafe seakan roboh, semua pengunjung turun berjoget.”

Itulah Kongsi, sebuah kampung yang terletak di pinggiran ibu kota. Di sini setiap gadis bercita-cita menjadi penyanyi. Bila malam datang, terdengar sayup-sayup irama dangdut. Di pelataran rumah, di sudut jalan, di depan warung, sekelompok anak muda berlatih musik, membuat suasana semarak. Dan ketika malam makin kelam, suara para biduan terdengar parau, terbang bersama angin, seakan berusaha menggapai mimpi-mimpi yang sering mengganggu tidur mereka.

Sudah lama sebenarnya Sadun ingin menyalurkan bakat mereka. Namun sulitnya bukan main. Di samping masalah kualitasnya yang masih ecek-ecek, juga tidak ada koneksi dengan orang-orang yang mengurusi bisnis hiburan malam. Padahal tak jauh dari kampung itu, menjamur kafe dan diskotik yang menawarkan gelimang uang dan ketenaran. Karena itu apa yang bisa dilakukan hanyalah manggung dari satu rumah ke rumah lain, dengan bayaran alakadarnya tergantung kebaikan yang punya hajat.

Hasilnya lumayan, tapi memang tidak mencukupi kebutuhan mereka seluruhnya. Karena itu kalau anak buahnya membutuhkan sesuatu, Sadun mengeluarkan isi koceknya sendiri. Meskipun tukang ojek dengan penghasilan paspasan, namun untuk urusan anak-anak band, Sadun berusaha sekuat tenaga. Pokoknya mereka harus terus berlatih, karena tanpa latihan mereka tidak bisa meningkatkan permainannya.

Ma’anih, istri Sadun, tentu saja mencak-mencak mengetahui kelakuannya yang suka royal tersebut. Perkara dapur saja tidak beres, anak-anak band malah diurusi. Karuan saja kantongnya jebol. Tahun depan, Saodah, anak gadis mereka, lulus SMU. Artinya mereka harus menyediakan sejumlah uang untuk biaya kuliahnya. Bila ditanya tentang hal itu, Sadun malah melengos. Biarlah Saodah jadi penyanyi saja, katanya. Ia tidak perlu sekolah tinggi-tinggi.

Lain kesempatan, Sadun bilang kalau jodoh Saodoh sudah ada, baiknya dikawinkan saja. Masak tidak ada laki-laki yang suka. Saodah kan lumayan manis. Karena itu kalau ada anak muda apel ke rumah jangan dibikin rusuh. Biarkan saja. Sadun ingin segera menimang cucu. Memang Sadun menikah di atas kepala tiga. Karena itu, meski sudah lewat kepala lima, Sadun belum punya cucu. Dan rasa-rasanya Saodah belum ada bau-bau kawin. Kalau ingat itu, hatinya merana sekali.

Ma’anih pusing memikirkan kelakuan suaminya yang tidak pernah memikirkan anak mereka satu-satunya. Namun lama kelamaan ia mengerti juga profesi Sadun. Pada bulan-bulan tertentu, banyak orang hajatan. Ada kawinan, sunatan, ulang tahun, tujubelasan, atau apa saja. Rasanya hajatan tak lengkap tanpa kehadiran musik dangdut. Anak-anak bandnya diundang untuk menghibur mereka. Pada saat itu Sadun kebanjiran rejeki. Ma’anih kecipratan juga dari rejeki yang didapatkan Sadun.

“Kalau anak-anak band maju, nanti kau juga yang senang,” kata Sadun pada suatu hari.

Tiba-tiba Sadun teringat Rayena. Anak itu makin hari makin terlihat saja bakatnya. Suaranya bagus, cengkoknya juga bagus, dan yang penting lagi, bodinya juga oke. Sadun berusaha mati-matian agar gadis tersebut bisa menjadi biduan dalam arti yang sebenarnya. Diundang dari satu tempat ke tempat lainnya dengan mendapatkan upah yang pantas.

Lewat perkenalannya dengan seorang pelanggan ojeknya yang ternyata pelayan di sebuah kafe, Sadun memperkenalkan Rayena pada menejer kafe. Sang menejer berdecak kagum mendengar suara Rayena yang merdu. Dengan gayanya yang genit, ia pun memuji kecantikan Rayena. Rayena tidak hanya diterima, ia langsung diberi job untuk menyanyi.

Pada malam yang telah ditentukan Rayena melakukan debut perdananya. Malam itu malam Rayena. Tak disangka biduan kampung tersebut sanggup menyihir pengunjung. Begitu naik ke panggung, terdengar suitan nakal. Rayena dengan sopan memberi salam dan menyapa penonton.

Rayena menyanyi satu dua lagu. Suaranya yang merdu segera menghangatkan suasana. Riuh rendah, terdengar tepuk tangan di sana-sini. Lalu Rayena pun menari. Mulanya meliuk perlahan, melenggak-lenggok, semakin lama semakin cepat mengikuti irama gendang yang menghentak.

Satu persatu orang naik ke panggung, berjoget-joget ria bersama sang biduan. Rayena meladeni mereka semua dengan goyangannya yang makin seronok. Sebelum turun mereka minta sun pipi segala sambil tak lupa memberi salam tempelnya. Rayena tersenyum saja melihat tingkah penonton. Ia terus bernyanyi dan menari. Malam itu ia mendapatkan saweran banyak sekali.

***

Cerita sukses Rayena menjadi buah bibir orang sekampung. Semua orang mengelu-elukan dirinya, mulai dari anak-anak, para gadis, maupun orang-orang tua. Sudah lama Kongsi tidak memiliki seniman besar. Setelah kematian Mpok Onih, penari kawakan, tak ada lagi seniman yang lahir di sana. Kongsi sepi.

Pada masa mudanya, nama Mpok Onih dikenal sampai daerah kota. Cukong dan para tokeh menyukai tariannya. Mpok Onih mengajari murid-muridnya agar dalam berkesenian, orang harus melakukannya dengan jiwa dan raga. Bila penampilan total, orang pun dengan senang hati memberikan apa yang dimiliki. Ketika Mpok Onih masih jaya, pertunjukannya selalu dipenuhi orang, terutama laki-laki. Mereka tidak akan beranjak dari tempatnya sebelum pertunjukan selesai, dan sebelum uang di kantong mereka ludes.

Orang lalu menghubungkan kehebatan Rayena dengan Mpok Onih. Tak salah lagi arwah Mpok Onih telah menitis ke dalam tubuh Rayena. Namun Rayena tidak peduli dengan cerita titis-menitis tersebut. Yang jelas ia memang mencoba untuk tampil total. Dan untuk tampil total ia harus cantik. Dan dengan uang, Rayena bisa cantik. Ia membeli pakaian-pakaian bagus untuk manggung. Hak sepatunya makin tinggi saja. Dari waktu ke waktu, karena sering ke salon, ia makin cantik. Penampilannya berubah. Rambutnya yang lurus sebahu dicat pirang. Bila berjalan, ia menggeraikan rambutnya, serasi betul dengan lekuk tubuhnya yang padat berisi. Lelaki mana yang tak menelan ludah melihat gadis yang begitu botoh ini melenggak-lenggok di tengah kampung. Namun Rayena bukan gadis kampung lagi. Ia seorang biduan. Tugasnya menghibur orang. Dari satu kafe ke kafe lain, dari satu diskotik ke diskotik lain.

Sementara itu Sadun dengan setia mengantar Rayena kemana pun pergi. Selepas isya Sadun memangkal motornya di depan warung. Tak lama kemudian Rayena datang. Dari jauh baunya menyerbak. Mereka lalu berangkat. Mengais rejeki di keremangan malam. Menjelang subuh mereka pulang. Sebelum berpisah tidak lupa Rayena memberi Sadun uang.

Ma’anih sekarang menyadari betul pekerjaan suaminya. Ternyata Sadun selama ini bukan hanya begadang, namun cari uang. Bayangkan, dalam satu minggu ia diberi uang sampai ratusan ribu rupiah. Uang sebanyak itu tidak mungkin bisa diperoleh dari mengojek. Ma’anih bahkan kini bisa mencicil perabotan baru. Rumahnya tidak lagi kosong. Di sana ada kulkas, teve, dan vcd baru.

Namun memang, itulah kelemahan Sadun. Setelah banyak uang, ia tidak berusaha mengembangkan diri lagi. Ia sudah merasa puas bisa mencukupi keluarganya. Lelaki kampung ini tidak mau tahu bagaimana sebenarnya bisnis hiburan harus dilakukan. Padahal di luar sana, pengusaha kafe dan diskotik berebut agar Rayena mau manggung di tempat mereka. Sadun tidak menyadari bila Rayena sebenarnya membutuhkan seorang menejer yang profesional yang bisa menangani seluruh kegiatannya.

Pernah suatu kali Rayena menawari agar Sadun menjadi menejernya. Artinya Sadun harus mengatur semua jadwalnya, kontraknya, dan mengurusi teknis-operasionalnya. Namun ia tidak menyanggupi. Jangankan untuk menjadi mengurusi kontrak, mengeja namanya saja ia terbata-bata. Ia malu. Ia hanya ingin bekerja seperti biasa saja, mengantar Rayena ke kafe atau diskotik, setelah itu dapat uang.

Rayena kesal dengan penolakan itu. Sebenarnya Rayena ingin agar rejeki yang ia peroleh mengalir juga ke orang-orang Kongsi. Dan untuk itu Sadun harus menjadi menejernya. Namun justru Sadun menolak. Akibatnya Rayena harus mengatur jadwalnya sendirian. Mulai dari kostum, honor, dan segala hal lainnya. Pada saat itulah menejer kafe yang dulu pertama kali mengorbitkan Rayena mendekati dirinya. Dan tanpa pikir panjang Rayena terima saja ketika menejer kafe mengajaknya kerja sama.

Sadun merasa bersalah. Mengapa tawaran Rayena tempo hari ditolak. Mengapa tidak terlebih dahulu dibicarakan dengan teman-temannya yang lain. Mungkin mereka bisa membantu. Pernah satu kali ia menghampiri Rayena yang mau manggung, namun seorang pelayan kafe menghampirinya dan memberinya amplop berisi uang. Dari jauh sambil melambaikan tangan, Rayena memberi kode bahwa ia sebentar lagi manggung.

Hati Sadun terasa kosong menerima uang tersebut. Sadun tidak mengharap belas kasihan seperti itu. Di matanya, Rayena adalah penyanyi Kongsi yang dulu ia bina. Mengapa sekarang seakan meninggalkan begitu saja, seolah hubungan yang telah terjalin sekian lama hilang begitu saja. Ketika Sadun mencoba menghubunginya lagi, orang-orang kafe marah.

Sejak itu keduanya jarang bertemu. Kalaupun bertemu, paling-paling Rayena memberi beberapa lembar rupiah lalu pergi. Lama kelamaan Sadun merasa tidak enak hati menerima pemberian itu. Beberapa kali bahkan ia menolak.

“Sudahlah, tidak usah susah-susah memberiku uang. Berikan saja uang ini langsung kepada anak-anak band.”

Sejak itu mereka putus, tidak pernah berhubungan lagi. Orang kampung melihatnya sebagai kacang lupa kulitnya. Menurut mereka kesuksesan Rayena karena Sadun. Sadunlah yang membuat Rayena sukses. Sadunlah yang berjasa sehingga Rayena menjadi penyanyi. Tanpa Sadun, Rayena hanyalah si Raenah, gadis Kongsi yang bermimpi jadi artis. Rayena tidak bisa apa-apa. Bagaimana menyanyi, menari, bergoyang, tersenyum, tertawa, memilih kostum, asesori, Sadun yang mengajari. Sadun yang mengajari bagaimana menjadi seorang biduan. Namanya pun, Rayena, Sadun yang memilihkan. Menurut Sadun, nama harus terdengar komersil bila seorang ingin menjadi artis. Nama Raenah tidak terdengar komersil bahkan bisa merusak pasaran, karena itu harus diganti.

Saking hebatnya, ada yang menyamakan Sadun dengan Roger Vadim, bintang Perancis yang menyulap Brigitte Bardot. Vadimlah yang mengubah Bardot. Tanpa Vadim, Bardot hanyalah patung es yang dingin dan tak pandai berakting. Bahkan sebagian orang memanggil dirinya Sadun Padim. Bukan Vadim tapi Padim.

“Alah, jangan kau samakan aku dengan orang lain. Aku ini hanya membantu saja. Ada orang berbakat di kampung ini. Aku bantulah.”

Bagi Sadun hidup memang harus begitu. Memberikan sesuatu tanpa pamrih agar terus bisa bergerak bebas. Sama halnya ketika seseorang buang hajat di pagi hari, toh ia tidak pernah berpikir makan apa tadi malam. Tiba-tida dada Sadun terasa sesak. Kemarin beberapa mobil parkir di depan rumah Rayena. Tak lama kemudian terdengar kabar Rayena dilamar sang menejer untuk dijadikan istri mudanya. Orang bilang Rayena sangat beruntung, karena dengan demikian ia punya suami sekaligus menejer. Namun tetap Sadun merasa khawatir dengan masa depan Rayena.

Di Kongsi Rayena merupakan legenda. Apalagi ketika ia tampil di layar kaya. Sekampung histeris. Sejumlah gadis bahkan pingsan menyaksikan pujaannya. Namun ketika Rayena diboyong suaminya, perasaan orang terhadapnya makin jauh. Rayena bukan milik mereka lagi. Ia telah menjadi milik orang lain.

Dan betul saja yang dikhawatirkan Sadun. Setelah menikah bintang Rayena memudar. Suara dan goyangannya tidak lagi sehot dulu. Dan, memang, kalau mau mengikuti pakem Mpok Onih, Rayena sebenarya telah melanggar pantangan dengan melakukan pernikahan. Dalam hidupnya, Mpok Onih tidak pernah menikah, meskipun ia beberapa kali menjadi gundik para cukong dan tokeh.

Sadun sudah hampir melupakan Rayena. Malam itu ia tampak memangkal motornya di depan warung. Wajahnya berseri-seri. Baru saja ia mendengar Saodah bernyanyi. Lenggak-lenggok dan cengkoknya lebih bagus dari Rayena. Ia yakin Saodah akan menjadi penyanyi besar. Sadun bersiul. Ia membayangkan suatu hari malam-malamnya disibukkan dengan mengantar Saodah, menyanyi dari kafe ke kafe. Namun tiba-tiba Sadun ingin sekali punya cucu.

Rempoa, Februari 2004

Ket.

1. ecek-ecek = jelek, buruk

2. botoh = seksi, bahenol

Santri Tidak Terbiasa Berpikir Empirik


Sejak pertama kali datang ke pesantren, seorang santri diperkenalkan dengan agama. Seperti diketahui agama memperkenalkan seperangkat nilai atau ajaran yang diterangkan dalam sebuah kitab suci, dan kitab suci itu berdasarkan wahyu yang turun dari langit. Karena wataknya yang dari langit itu, agama sejak awal senantiasa berbicara dan membahasa masalah-masalah besar yang berkaitan dengan kehidupan umat manusia. Agama bicara tentang keselamatan, keadilan, kemakmuran, kebenaran, keburukan, surga, neraka, dan seterusnya. Inilah yang dipelajari santri di pesantren. Santri diajari tentang nilai-nilai yang abstrak, filosofis, konseptual, dan teoretis.

Dalam sebuah pelatihan, saya pernah menanyai peserta yang adalah para santri dari berbagai pesantren tentang cita-cita mereka. Dari peserta yang berjumlah 30 orang, 28 orang memberikan jawaban bahwa mereka ingin mengabdi pada umat, bahwa mereka ingin menjadi orang yang bermanfaat, bahwa mereka ingin mengabdi pada nusa, bangsa, dan agama, bahwa mereka ingin menegakkan kalimat Allah, bahwa mereka ini menjadi kyai, bahwa mereka ingin menjadi orang alim, dan semacamnya. Hanya 2 orang yang mengatakan secara persis bahwa ia ingin menjadi guru bahasa Inggris, dan bahwa ia ingin menjadi dokter ahli kandungan.

Saya terperangah mendengar jawaban-jawaban mereka. Bukan karena yang dua orang, tapi karena yang dua puluh delapan orang. Cita-cita mereka begitu mulia, begitu tinggi, dan begitu hebat. Memang kata orang, gantungkan cita-citamu setinggi bintang di langit. Betul. Karena itu kemudian kita berusaha menggapai bintang itu. Masalah tergapai atau tidak, itu nomor dua. Yang penting, kita sudah menggantungkannya setinggi bintang di langit.

Tapi kita pun patut bertanya pada orang yang percaya dengan pepatah itu. Kalau cita-cita setinggi bintang di langit, lalu bagaimana kita menggapainya. Toh kita berdiri di atas bumi, dan tidak pernah bisa terbang ke sana. Ini tentu masalah yang harus dipikirkan. Seyogyanya, ketika kita putuskan untuk menggantungkan cita-cita kita setinggi bintang di langit, kita pun sadar untuk membangun tangga tinggi yang menghubungkan kita dengan bintang itu. Kita selalu bicara tentang cita-cita, tapi kita tidak pernah bicara tentang bagaimana menggapainya.

Cita-cita adalah sebuah konsep tentang bagaimana kita memandang masa depan. Nun jauh di depan sana, terletak cita-cita kita. Dan kita berusaha menuju ke sana. Jadi cita-cita yang abstrak yang berada di titik tertentu di masa depan menarik kita yang kongkrit yang berada di titik sekarang. Seberapa kuat ia menarik tergantung seberapa kuat kita percaya pada cita-cita tersebut. Contoh, karena kita percaya bahwa di depan sana ada surga dan neraka, maka kita mati-matian salat dan puasa. Jadi surga dan neraka itu adalah konsep tentang masa depan yang menarik diri kita untuk terus bergerak menuju ke sana. Contoh yang lain, karena kita ingin menjadi orang orang yang bermanfaat bagi nusa, bangsa dan agama—sebuah konsep yang abstrak—maka diri kita yang kongkrit dan di sini melakukan sesuatu untuk menujunya. Dengan kata lain, cita-cita yang abstrak dan setinggi langit harus terhubungkan dengan diri kita yang kongkrit dan di bumi ini. Tanpa ada keterhubungan ini, cita-cita hanya akan tergantung pada bintang di atas sana kelap-kelip tanpa sedikit pun kita bisa menggapainya.

Proses keterhubungan ini adalah kongkretisasi atau materialisasi dari konsep cita-cita yang abstrak. Kita tentu mengenal apa itu abstrak, dan apa itu kongkrit. Yang abstrak adalah hal-hal yang tidak terlihat, bisa makhluk seperti jin dan malaikat, bisa juga ide atau pikiran yang hanya ada di kepala kita seperti cita-cita. Filsafat dan agama mengenalkan cara berpikir deduksi, (dari atas ke bawah, dari umum ke khusus). Sementara ilmu mengenalkan cara berpikir induksi (dari bawah ke atas, dari khusus ke umum). Cara berpikir ini disebut juga berpikir empirik atau ilmiah.

Kembali lagi kepada santri. Tiba-tiba saya sadar bahwa sejak awal para santri diperkenalkan dan terlatih untuk berpikir abstrak dan konseptual. Ini karena watak pesantren sebagai lembaga pendidikan yang menekankan pada pengkayaan dan pengamalan ilmu-ilmu agama (littafaqquh fi al-din). Aspek ini membuat para santri bisa bicara tentang keadilan, kemakmuran, kebenaran, dan keburukan. Namun karena tidak diimbangi dengan kemampuan berpikir empirik, mereka tidak mampu menjabarkan konsep-konsep tadi ke dalam sebuah program yang kongkrit.

Contoh, ’kebersihan adalah bagian daripada iman’. Ini adalah hadis, dan setiap santri tahu benar hadis ini. Namun dari kacamata ilmu, kebersihan adalah sebuah konsep yang abstrak. Apa itu kebersihan, dan bagaimana mengukurnya, mengapa seseorang disebut bersih, dan seterusnya. Menurut kacamata ilmu, kebersihan tidak bisa diukur kecuali kita memerinci atau menurunkannya ke dalam aspek-aspek tertentu yang disebut variabel. Jadi, kalau kita rinci dan kita turunkan, yang disebut kebersihan itu ternyata berapa kali orang mandi dalam satu hari; dalam mandi itu apakah ia gosok gigi; apakah ia mandi pakai sabun; apakah ia pake sampo; dan seterusnya.

Hal-hal yang disebut terakhir disebut indikator, sesuatu yang menunjukkan sesuatu yang lain. Dan inilah yang bisa diukur. Demikian pula hanya dengan, katakanlah, cinta. Cinta tidak bisa diukur, karena ia adalah konsep yang abstrak. Cinta baru bisa diukur ketika kita menurunkannya ke dalam indikator-indikator tertentu: seberapa sering anda mengirim surat, memberinya bunga, menulis puisi, dan lain sebagainya.

Mengapa makna cinta harus direduksi menjadi mengirim surat, memberi bunga dan sebagainya? Perlu diingat bahwa dunia yang kita tempati adalah dunia empirik, dunia daging dan darah, dunia yang fana. Di dunia ini semua harus kongkrit. Dunia ini perlu pembuktian. Kalau anda mencintai kekasih anda, buktikan cinta itu. Kalau kebersihan itu sebagian dari iman, buktikan kebersihan itu. Dunia ini tidak perduli dengan cinta yang di atas sana, di atas awang-awang, di surga sana.

Ketidakmampuan atau ketidakterbiasaan kita untuk berpikir empirik menyebabkan kita lemah di hampir semua lini kehidupan. Kita bisa bicara tentang kebersihan bagian dari iman. Kita punya hadisnya, yang bersihnya orang lain. Kita bisa bicara tentang keadilan dan kemakmuran, namun kita tidak bisa menjabarkannya ke dalam sistem dan program ekonomi yang kongkrit. Kita bisa bicara bahwa Islam adalah agama yang membawa perdamaian, Islam adalah rahmat untuk semesta alam. Namun kita tidak bisa menerjemahkannya ke dalam sebuah konsep hidup yang saling menghormati dan menghargani. Kita selalu bicara tentang surga, namun hidup kita di dunia penuh penderitaan. Kita bisa bisa bicara bahwa Islam adalah agama yang benar, namun kita tidak bisa bagaimana mewujudkan kebenaran Islam di atas bumi yang fana ini.

Pesantren dan Tradisi Menulis

Pesantren dan menulis adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Di banyak tempat di Nusantara, pesantren adalah lembaga pertama yang mengajarkan baca-tulis kepada masyarakat. Sebenarnya tidak hanya di Nusantara, di tempat lain pun di dunia Islam, tradisi baca-tulis berawal dari kuttab, madrasah, atau khanqah, lembaga-lembaga pendidikan tradisional yang mirip dengan pesantren. Begitu kentalnya pesantren dengan tradisi baca-tulis ini, sehingga dari waktu muncul sejumlah karya cemerlang dalam berbagai disiplin ilmu yang dihasilkan oleh orang-orang pesantren.

Tradisi menulis di pesantren terbangun lewat kegiatan utama lembaga tersebut yaitu mengaji. Dalam proses mengaji, kyai dan santri tidak hanya membaca, namun juga menulis. Kyai membaca, dan santri menyimak atau memaknai sambil sesekali menulis apa yang perlu ditulis. Dengan pena dan tinta celup (biasanya tinta cina), santri menuliskan keterangan sang kyai yang dianggapnya penting di pinggir, bawah, atau atas lembar yang kosong. Kerapian adalah faktor penting dalam proses ini. Ini dimaksudkan agar tulisan bisa terbaca tidak saja ketika si santri kembali ke kampung halamannya dan menjadi kyai, namun juga, kalau perlu puluhan tahun kemudian, ketika si empunya kitab tiada.

Tradisi menulis seperti ini adalah seni tersendiri yang hanya bisa dilakukan oleh kaum santri. Bila kita perhatikan manuskrip-manuskrip lama, jelas sekali betapa kuat motivasi untuk menulis. Setiap kitab ditulis tangan. Tidak saja karena waktu itu belum ditemukan mesin cetak oleh Johan Güttenberg, atau belum dikenal di kalangan kaum muslim, namun karena menulis adalah bagian dari ibadah. Tangan digunakan untuk menulis huruf demi huruf, baris demi baris, lembar demi lembar, sebagai upaya untuk memahami kitab Allah dan Sunnah Rasul.

Faktor lain yang menumbuhsuburkan tradisi menulis di pesantren adalah proses intelektualisasi sebagai akibat dari mengaji. Mengaji adalah proses intelektual, santri dituntut untuk memahami isi kitab yang dibacanya. Untuk membantu proses ini tidak jarang seorang santri melakukan banyak pekerjaan menulis. Terkadang santri menyalin catatan santri lainnya yang berasal dari catatan kyai yang dibuat untuk meringkas atau memudahkan dalam memahami kitab tertentu. Biasanya kyai hanya meminjamkan catatannya satu kali saja kepada seorang santri. Begitu selesai, santri-santri lainnya menyalin dari catatan santri senior tadi sampai tercipta mata rantai yang panjang. Dalam proses penyalinan berantai ini tentu timbul berbagai kesalahan sehingga terkadang santri terakhir yang menyalin harus rajin mencocokkan catatannya dengan catatan lain yang dianggap lebih valid.

Dapat dibayangkan berapa banyak seorang santri harus menyalin catatan-catatan seperti ini. Dan dalam proses penyalinan ini, si santri berusaha untuk menulis seindah dan sebagus mungkin. Di sini pula sebenarnya pelajaran menulis indah atau kaligrafi, yang biasanya tidak diajarkan di pesantren-pesantren salaf, langsung dipraktikkan. Dulu sewaktu saya masih di pesantren, untuk membantu pemahaman santri, almarhum Kyai Nasir membuat terjemahan Alfiyah dalam bahasa Indonesia. Dalam beberapa kesempatan saya pernah melihat terjemahannya, bertuliskan riq’ah yang indah. Namun tentu saya tidak menyalinnya langsung dari terjemahannya, melainkan dari catatan teman saya yang setiap hari menyiapkan ’cicilannya’ sebelum mengaji kitab tersebut. Jadi, karena mengaji Alfiyah setiap hari, maka ia menulis beberapa halaman setiap hari, berisikan bait-bait yang akan diaji.

Meskipun santri harus menyalin sedemikian banyak, namun anehnya tak seorang pun berinisiatif mem-fotocopy/mengkopi terjemahan tersebut. Saya tidak tahu mengapa. Saya mengikuti saja kebiasaan yang ada. Namun setelah dipikir-pikir banyak hal yang hilang ketika sebuah tulisan dikopi. Pertama proses latihan menulis menjadi tidak ada. Kedua, pada waktu penyalinan sebenarnya terjadi proses pemahaman, dengan mengkopi pemahaman ini tidak ada. Ketiga, kyai memperuntukkan terjemahannya untuk kalangan terbatas, terutama santrinya. Dan keempat, mengkopi merupakan pekerjaan yang tidak kreatif dan tidak dianjurkan, untuk tidak mengatakan dilarang.

Dengan satu kitab saja seorang santri paling tidak harus menulis satu dua halaman setiap harinya. Apalagi kalau beberapa kitab. Di samping Alfiyah, Kyai Nasir pun menulis syarah dalam bahasa Indonesia beraksara Arab untuk kitab Jurumiyah dan Imrithi. Jadi bisa dibayangkan betapa banyaknya santri harus menulis setiap harinya. Sungguhpun demikian santri tampaknya melakukan pekerjaan penyalinan dengan senang hati. Sejumlah santri membeli pena dan tinta cinta untuk menulis. Setelah digosok dan diberi air, tinta dimasukkan ke dalam tempat tinta (mihbarah) yang terbuat dari kuningan. Agar tinta tidak lekas mengeri, ke dalam mihbarah dimasukkan serat hati pisang (ares) yang dikeringkan terlebih dahulu. Ada juga yang menggunakan sutera. Sementara saya cukup menggunakan kapas dan bekas botol puyuhson, sehingga pada saat tertentu tinta saya mengeluarkan bau yang tidak sedap. Mengaji jaman dahulu banyak pernak-perniknya. Namun kami menikmati semuanya. Justru karena banyak pernak-perniknya, mengaji menjadi proses pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Otak menjadi terasah dan tulisan menjadi bagus. Saya baru sadar mengapa tulisan para kyai Buntet begitu bagus. Tulisan Kyai Nasir bagus dan indah. Tulisan Kyai Fuad Hasyim pun bagus dan indah. Saya tahu karena beliau pernah mengajar ke-NU-an di kelas saya.

Bila santri disibukkan dengan menyalin, kyai disibukkan dengan membuat ringkasan. Ringkasan dibuat untuk keperluan praktis. Ada kitab-kitab tertentu yang begitu sukar untuk dipahami. Karena itu sejumlah kyai berinisiatif membuat ringkasan. Kyai Nasir pernah membuat ringkasan fiqih untuk masalah haid. Di samping itu ia pun membuat ringkasan untuk masalah zakat dan haji. Semoga catatan-catatan itu sampai sekarang masih ada, karena itu adalah pekerjaan ilmiah yang sangat berharga.

Tradisi Menulis Kitab

Tradisi menulis kitab di pesantren seringkali didasarkan pada tuntutan-tuntutan yang riil di masyarakat. Dalam pendahuluan sang pengarang kitab biasanya menerangkan mengapa ia menulis kitab. Biasanya motivasinya tidak jauh dari ’permintaan sebagian teman yang menginginkan agar saya membuat sebuah ringkasan... dan seterusnya’. Syekh Ahmad ibn Zaini Dahlan, seorang mufti Syafi’i kenamaan di Mekkah pada akhir abad ke-19 menulis kitab-kitabnya setelah ada permintaan dari Ashab al-Jawiyiin (santri-santri dari Nusantara) yang tengah menuntut ilmu di sana. Demikian pula Imam Nawawi al-Bantani, ia menulis puluhan kitab untuk memenuhi kebutuhan pengajaran agama yang ada di masyarakat. Dengan kata lain, penulisan kitab didasarkan pada interaksi intelektual dan sosial yang ada.

Tentu saja sejumlah ulama menulis kitab karena alasan-alasan ilmiah. Ibn Khaldun, saya kira, menulis Muqaddimah-nya setelah melakukan riset ilmiah atas berbagai masyarakat yang ditemuinya. Jadi kitabnya semacam refleksi filosofis-sosiologis atas problematika kemasyarakatan. Demikian pula Al-Ghazali menulis Al-Munqidz-nya setelah melakukan riset atas berbagai bentuk filsafat dan teosofi yang ditemui pada jamannya.

Di Nusantara tradisi menulis kitab tampaknya didasarkan pada alasan-alasan yang riil, semacam respon atas berbagai persoalan sosial kemasyarakatan. Motivasi utama adalah untuk memudahkan para pelajar untuk memahami agama, atau karena ada kebutuhan yang mendesak akan pengajaran agama. Ini asumsi saya yang membutuhkan pembuktian lebih lanjut. Namun berdasarkan bacaan saya atas sejumlah karya-karya klasik, terutama buku-buku sejarah perkembangan intelektualisme Islam baik yang ditulis oleh sejarawah muslim maupun Barat, asumsi ini cukup berasalan. Jarang ada ulama Nusantara yang menulis kitab karena alasan keilmuan semata seperti dilakukan Ibn Khaldun dan Al-Ghazali. Kejarangan ini berhubungan dengan keyakinan bahwa menulis kitab adalah ibadah, dan ilmu bukan sesuatu yang harus dipamerkan. Karena itu relevansi dengan keadaan sosial kemasyarakatan menjadi penting. Hal ini pula yang menyebabkan para ulama mewakafkan karya-karyanya untuk kepentingan keilmuan Islam. Istilah hak cipta atau ”huquq al-thab’i mahfudhatun” (hak cipta dilindungi undang-undang) baru dikenal belakangan, itu pun setelah ada interaksi dengan pihak Barat.

Dengan semangat ini pula sejumlah ulama Indonesia menulis karya-karya mereka. Untuk menyebut beberapa nama, kita mengenal K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Bisri Mustofa, K.H. Ihsan Jampes, Sayyid Uthman ibn Abdullah, Haji Hasan Mustafa, dan banyak lagi yang turut berjasa dalam pengembangan keilmuan keagamaan tradisional yang kerap disebut kitab kuning. Karya-karya mereka sampai sekarang masih terus dibaca di berbagai pesantren di seluruh Indonesia.

Dalam perkembangan selanjutnya, tradisi menulis di pesantren tidak hanya berkenaan dengan syarah atau ringkasan. Ia mulai merambah tema-tema lain di luar kegiatan mengaji. Dulu sewaktu masih di pesantren saya sering mendengar bahwa Kyai Fuad Hasyim yang menyukai seni juga menulis puisi dan lagu. Sayang puisi dan lagunya dibuat hanya untuk keperluan pribadi, tidak untuk umum. Padahal, menurut hemat saya, karya-karyanya tersebut penting sebagai bagian dari tradisi menulis pesantren. Mungkin beliau sendiri hanya membuat corat-coret saja dan tidak meniatkannya untuk dipublikasikan.

Sosok penting yang mempengaruhi tradisi menulis di lingkungan pesantren saat ini adalah K.H. Mustofa Bisri, pimpinan PP Raudhatul Talibin Rembang. Ia menulis cerpen, puisi, novel, kolom, artikel, dan bentuk tulisan lainnya. Kemampuan menulisnya luar biasa sehingga kita berkesulitan untuk menyebutnya, kyai penulis atau penulis kyai, kyai seniman atau seniman kyai. Di samping itu ia pun melukis, sebuah hobi atau pekerjaan yang tidak banyak dilakukan kaum kyai pada umumnya. Kita bisa banyak belajar dari sosok unik yang satu ini. Ia seakan-akan ingin mengatakan kepada khalayak santri bahwa menulis sama pentingnya dengan mengaji; mengaji ibadah, menulis juga ibadah. Justru lewat tulisan-tulisannya Gus Mus memiliki media yang lebih besar untuk menyampaikan ide-idenya. Kepiawaiannya menulis telah mengilhami sejumlah santri muda untuk melakukan hal yang sama. Gus Mus telah mengembalikan tradisi menulis kepada pesantren.

Menulis Buku Harian

Di banyak pesantren santri pada umumnya memiliki buku harian. Di buku harian, ia dapat menulis apa saja, mulai dari perasaan suka atau jatuh cinta kepada lawan jenis, sampai daftar kebutuhan yang harus dibeli setiap bulannya. Sewaktu masih menyantri saya termasuk orang yang menikmati kebiasaan ini. Meskipun tidak begitu disiplin dengan mengisinya setiap hari, paling tidak saya menuliskan hal-hal yang saya anggap layak untuk ditulis. Suka kepada lawan jenis, karena pada saat itu usia tengah pubertas, adalah alasan utama untuk menulis. Terkadang menulis puisi atau apa saja, yang penting perasaan ini sedikit tertumpahkan.

Sementara itu seorang teman betul-betul berdisiplin dalam mengisi buku diarinya. Sebelum tidur, dengan cahaya meremang, saya melihat ia mulai menulis. Katanya, kalau belum menulis ia tidak bisa tidur. Terhadap orang-orang tertentu yang dianggap istimewa—tidak selalu lawan jenis—para santri mempersilakannya menulis, atau saling mengisi buku diari. Apa saja boleh, termasuk kesan dan pesan terhadap si empunya buku, dan kata-kata agar masing-masing tidak saling melupakan bila sudah berpisah nanti.

Tentang tulis menulis di buku harian, seorang teman bercerita bahwa buku hariannya tak ubahnya seorang teman baginya. Kepadanya ia bisa menumpahkan apa saja. Sedih, kesal, gembira, marah, maupun kecewa. Pada tanggal anu, bulan anu dan tahun anu, sekian tahun yang lalu, ceritanya, buku hariannya penuh dengan warna tinta yang membleber sehingga sulit untuk membaca tulisannya. Ceritanya, beberapa tahun sebelumnya ia berjanji pada dirinya sendiri agar pada tanggal dan hari itu, ia bisa menghafal al-Qur’an seluruhnya. Namun ternyata target itu tidak tercapai. Alih-alih bersuka cita, pada hari itu ia menangis sejadi-jadinya. Buku hariannya menjadi saksi.

Mungkin tak banyak yang menyadari bahwa kebiasaan menulis di buku harian atau diari memiliki peran penting dalam latihan menulis. Meskipun kebiasaan ini sudah lama ada—Pangeran Ahmad Djajadiningrat dari Serang pada awal abad ke-20 menulis memoarnya tentang pesantren dalam Het Leven in Pesantren (Hidup di Pesantren)—namun kebiasaan ini tidak pernah melembaga. Karena itu ada baiknya kepada para kyai dan guru-guru pesantren untuk paling tidak menganjurkan pada santri mereka untuk menulis di buku harian. Latihan ini pasti akan dirasakan manfaatnya justru ketika si santri keluar dari pesantren.

Kebiasaan untuk menulis di buku harian sebenarnya satu langkah menjadi seorang penulis. Banyak penulis yang memulai karirnya dengan rajin menulis di buku harian. Kebiasaan ini pula yang tampaknya merangsang penulis muda santri untuk melahirkan gender teenlit (teenager literatur) atau sastra remaja.

Menuju Tradisi Tulisan

Dari pembicaraan di atas, adalah keliru pandangan sementara kalangan yang menyebutkan bahwa pesantren hanya mengembangkan tradisi lisan (oral tradition), dan tidak mengenal tradisi tulisan (written tradition). Pandangan ini tidak didasarkan pada pengamatan yang mendalam tentang bagaimana kaum santri mengembangkan tradisi menulisnya. Memang ada persoalan, kaum santri pada umumnya tidak menerbitkan karya-karyanya dan menyebarkannya secara luas. Masalah ini berkaitan dengan keyakinan bahwa ilmu bukanlah hal yang harus dipamerkan. Jelas sekali mereka mencampuradukkan pengertian menerbitkan dan pamer. Ini tentu sangat disayangkan. Karena itu, sampai sekarang karya-karya kaum santri tidak banyak berubah dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya.

Di samping keengganan untuk menerbitkan karya-karya mereka, faktor politik juga mempengaruhi produktivitas kaum santri. Seperti diketahui, pesantren pada umumnya berafiliasi ke Nahdhatul Ulama. Ketika NU bermain politik pada kurun 1950-an sampai 80-an, semua kyai NU dibuat sibuk oleh politik. Mereka tidak banyak waktu lagi untuk menulis. Tidak hanya menulis, pesantren pun banyak yang terbengkalai. Namun ketika NU memutuskan untuk kembali ke khittah perjuangannya sebagai organisasi jam’iyyah diiniyah, tradisi yang ditinggalkannya tersebut kembali diakrabi. Pada dasawarsa 80-an bermunculan kolumnis muda NU yang menulis di berbagai surat kabar baik lokal maupun nasional dan sejumlah karya kaum santri diterbitkan secara luas.

Karya-karya tertulis memegang peran penting dalam transmisi ilmu pengetahuan kepada masyarakat secara luas. Pesantren sebenarnya memiliki tradisi yang luar biasa dalam hal menulis. Ini dibuktikan dengan munculnya sejumlah karya bermutu tinggi yang dilahirkan oleh para ulama. Bila pada masa lalu pesantren bisa, sekarang pun harusnya bisa.[]

Friday, April 25, 2008

Rifqi dan Gabriel

Saya dikarunia dua orang anak. Yang besar namanya Rifqi (7), dan yang kecil namanya Gabriel (3). Dua orang inilah yang selalu membuat hari-hari saya berwarna-warni laksana pelangi, indah tiada tara. Dua orang inilah yang sehari-hari meramaikan hidup saya, hiruk pikuk bagaikan pasar malam. Dua orang inilah yang senantiasa menghibur saya, suara mereka merdu merayu. Dan kedua orang ini sekarang di samping saya, di sini di Boston, tempat saya--katanya--menuntut ilmu.

Mereka baru tiba di sini Januari lalu, bersama ibu mereka, Rahmawati. Tahun lalu, sewaktu saya masih tinggal sendiri di sini, hidup terasa begitu sepi. Padahal kota ini senantiasa ramai. Mereka tinggal di Jakarta, dan saya di Boston. Sepi bukan main. Dalam hati, saya bertekad, tahun depan mereka harus ke sini, apa pun yang terjadi. Senang sama2, susah sama2. Dan alhamdulillah, rencana itu sekarang terlaksana. Mereka sekarang tinggal di sini, di rumah ini, bersama saya.

Tidak Bisa Tidur

Malam ini saya tidak bisa tidur. Banyak hal yang melintas-lintas dalam pikiran saya. Paper yang belum selesai, urusan di rumah. Wah, pokoknya pusing. Lalu saya coba buka komputer dan membuat blog. Sudah lama sebenarnya saya ingin membuat blog sehingga saya bisa menulis apa saja. Mulai dari unek2 sampai masalah-masalah yang njlimet dan filosofis. Malam jum'at, waktu yang baik untuk memulai sesuatu. Banyak orang menganggap malam ini adalah saat terbaik untuk bercinta, membuat anak dan "membunuh" orang yahudi. Tapi malam ini saya benar2 ingin menulis, menulis sesuatu sehingga pikiran agak sedikit ringan.


Yah, hari ini cukup melelahkan. Kamis hari yang melelahkan. Ada dua kelas yang harus diikuti. Kelasnya Lindholm dan kelasnya Weller. Lindholm mengajar metode fieldwork, bagaimana seorang antropolog seharusnya melakukan fieldwork. Banyak metode dan teorinya. Tapi pada intinya adalah bagaimana seorang antropolog belajar mendengarkan ketika orang lain bicara, dan setelah itu, berdasarkan pembicaraan itu, ia mengajukan pertanyaan. Kelas Lindholm bagi saya selalu menarik. Bukan karena materinya yang menarik, tapi caranya mengajar. Menarik sekali. Dia bisa menerangkan dengan jernih bagaimana seharusnya wawancara dilakukan, bagaimana membuat janji, bagaimana bergaul dengan orang-orang yang kita teliti, bagaimana menghindari prejudice, bagaimana mempertahankan hubungan seimbang, antara seorang peneliti dan seorang yang intim. Wah, pusing saya. Tapi justru pada saat pusing tersebut saya merasa mempelajari sesuatu. Saya berencana mengambil mata kuliahnya lagi semester depan. Tampaknya saya bisa banyak belajar dari Lindholm.

Kelasnya Weller membahas tentang teori-teori antropologi. Buku yang dibahas adalah "Friction" karya Ann Tsing. Tentang koneksi global dan bagaimana koneksi tersebut berhubungan dengan eksploitasi hutan di Pegunungan Meratus Kalimantan Selatan. Bukunya tidak begitu menarik. Ada kesan argumen yang dikembangkan Tsing meloncat kesana kemari, tidak konsisten dengan teori yang ia coba kembangkan. Tapi itu kesan sementara. Saya harus membaca buku itu lagi sebelum membuat penilaian yang objektif. Tentang Weller? Well, terus terang cara ia mengajar tidak begitu menarik. Agak confusing, dan di sana sini, ia menyelingi pernyataan-pernyataan personalnya tentang si pengarang. Selalu begitu. "Well, I don't buy that." "I think she is a bit annoying." Saya yang duduk agak mengantuk menyergah di dalam hati. "Well, I don't buy that either."