Thursday, May 15, 2008

Aku Ingin Jadi Pohon

Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba suatu hari, anakku bilang bahwa ia ingin jadi pohon. Aku kaget. Apa maksudnya. "Manusia Pohon" yang tempo hari mengisi lembaran surat kabar tentu bukan yang ia maksudkan. Yah, namanya juga anak-anak. Ia bisa saja bicara apa saja, tanpa jelas maksudnya. Tapi setelah aku pikir-pikir, kalimat itu bagus dan indah. Penuh makna.

Pengetahuanku tentang pohon sangatlah terbatas. Sebatas yang aku pelajari dalam ilmu tumbuh-tumbuhan. Ya dulu anak SD diajar ilmu tumbuh-tumbuhan. Sekarang tidak lagi. Mungkin karena dianggap tidak penting sehingga orang sekarang seenaknya menebang hutan, lalu banjir, malapetaka, korban berjatuhan. Ini semua gara-gara pohon. Terus terang, omongan anakku di atas tanpa konteks yang jelas. Mungkin sebelumnya ia menonton siaran teve tentang banjir yang berhubungan dengan pembabatan hutan.

Mungkin juga karena ia melihat pohon di belimbing di belakanga rumah yang tengah berbuah. Aku bilang sama istri, mungkin sebaiknya kita punya pohon di belakang rumah agar udara segar, dan panas matahari teredam sedikit oleh dedaunannya yang rimbun dan hijau. Istriku setuju. Maka kami pun mencari bibit belimbing yang kira-kira buahnya manis. Setahuku banyak jenis belimbing dengan buah yang lebat. Tapi yang buahnya manis sedikit. Belum sempat kami pergi ke tukang tanaman, adikku datang membawa bibit belimbing. Dengan segera ia mengambil pacul dan menanamnya.

Lama aku tidak memperhatikan pohon itu sampai suatu hari aku kaget. Pohon itu kini sudah tinggi , dan di sana sini merintis bunga. Pertanda akan berbuah. Dan setiap hari anakku memanjat dan bertengger di dahannya. Tak lama setelah itu, di atas meja makan selalu tersaji buah belimbing. Anakku suka sekali. Padahal tidak begitu manis. Mungkin ia merasa itu adalah buah pohon yang selalu dipanjatnya, pohonnya. Mungkin ini yang ia maksudkan dengan kalimatnya, "aku ingin jadi pohon."

Omong punya omong, manisnya belimbing berhubungan dengan kesuburan tanah dan sinar matahari yang cukup. Seorang temanku bercerita. Dulu ayahnya petani belimbing di daerah Pasar Minggu. Banyak petani buah yang berhasil dan kaya di sana. Saking terkenalnya belimbing Pasar Minggu, sampai-sampai Bu Kasur mencipta lagu "Pepaya Mangga Pisang Jambu". Memang belimbing tidak disebut dalam lagu tersebut. Kalau Bu Kasur mau jujur, belimbing harusnya disebut. Karena buah itu yang paling banyak ditemukan di sana. Temanku melanjutkan bahwa petani Pasar Minggu memiliki teknik tersendiri agar belimbingnya manis. Pada musim panas, belimbing mereka disiram dengan urin binatang peliharaan mereka. Jadinya manis.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Pohon itu semakin besar dan tinggi. Daunnya menutupi sebagian halaman belakang. Anakku sudah tidak pernah lagi memanjatnya. Dahan yang biasa ia tenggeri, sekarang sudah tidak terjangkau lagi.

Matahari sekarang hanya bisa mengintip melewati rerimbunnya. Hawa di belakang sejuk memang. Tapi ada yang mengkhawatirkan aku. Dahannya sebagian merangsek ke genteng. Daun-daunnya menyumpal talang. Dan kalau hujan tiba, karena tersumpal air meluap dan merembes lewat triplek. Awalnya aku biarkan. Tapi ketika triplek jebol, karena lapuk dan hancur, aku pun angkat bicara. Mungki pohon ini harus ditebang.

Anakku protes tidak setuju. Kalau mau, katanya, yang ditebang cukup dahan yang menjuntai ke atas genteng saja. Yang lainnya biarkan saja. Benar juga kataku dalam hati. Tapi bila angin bertiup daunnya toh tetap jatuh ke genteng dan menyumpal talang. Memang, katanya, ini karena bapak membuat talang segala sih! Coba kalau air hujan dibiarkan langsung jatuh, kan tidak perlu repot-repot memunguti sampah setiap kali musim hujam tiba.

Aku menyergah dalam hati. Anak ini pandai bicara. Tiba-tiba aku ingat kata-katanya yang dulu ia ucapkan. Aku ingin jadi pohon.

Karena argumenku lemah, talang dibelakang rumah dibongkar. Air hujan langsung jatuh ke tanah. Benar juga sih, tidak ada bercak air lagi di triplek. Namun, sesuai kesepakatan, dahan-dahan yang menjuntai di atas genteng dibabat habis. Aku bilang sama si tukang tebang, sisakan saja satu dua dahan pokok.

Mengetahui pohonnya dibabat, anakku marah. Apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Nanti kan tumbuh lagi. Dahan dan daunnya tumbuh seperti sedia kala, kataku menghibur.

Namun anehnya, sejak itu pohon itu tampak merana. Ia tidak mau tumbuh lagi. Wah, aku jadi bingung. Kok bisa jadi begini. Tanya punya tanya, aku baru engeh bila pohon terlalu banyak dipangkas, proses fotosintesisnya akan terganggu. Betul juga kataku. Tiba-tiba aku merasa bodoh sekali. Bukankah dulu guruku di SD bilang bahwa pohon memasak makanannya di daun. Kalau daunnya dipangkas, di mana pula ia akan memasak.

Tak lama setelah itu kulihat pohon itu mulai ditumbuhi jamur. Pertanda memang tidak ada pertumbuhan di dalamnya. Aku diam saja ketika anakku cerita bagaimana orang Jepang merawat pohon-pohonnya. Pada musim dingin, pada bagian bawah pohon-pohonnya dilibeti jerami yang sudah dianyam rapi. Ini dimaksudkan agar kutu dan serangga yang bersarang, karena kedinginan, berkumpul di bawah jerami itu. Begitu musim semi datang, selimut jerami itu dibuka dan dibakar. Tak aneh bila kemudian bunga sakura di sana bisa berumur lebih panjang dari manusia.

Aku semakin bersalah saja mendengar cerita itu. Terlebih lagi ketika pohon itu renta dan lapuk. Manusia punya rencana, tapi tuhan juga yang menentukan. Setelah berdebat ke sana ke mari, pohon itu akhirnya ditebang.

***

Tuesday, May 13, 2008

Obama Membuat Sejarah?

Obama memang luar biasa. Banyak orang tersihir dengan retorikanya. Sangat memukau. Politisi muda yang pernah beberapa tahun menghabiskan masa kecilnya di Jakarta ini luar biasa. Padahal dia adalah orang kulit hitam. Tidak hitam-hitam amat, sebab ibunya orang kulit putih. Namun dalam realitas sosial orang Amerika ia dianggap orang kulit hitam. Dan dalam sejarah Amerika belum pernah ada orang kulit hitam, jangankan jadi presiden, jadi menteri pun mungkin baru beberapa orang saja. Namun memang sejarah harus dibuat. Dan dalam beberapa bulan ke depan Obama mungkin membuat sejarah.

Tak usah jauh2 mencari penggemar Obama. Istri saya berharap betul Obama menang melawan Hillary Clinton, mantan ibu negara dan politisi kawakan, pengalamannya 40 tahun. Itu pula yang senantiasa diucapkan dalam pidato-pidatonya, bahwa ia pernah ini, pernah itu. Sementara Obama, baru lima tahun jadi sanator. Meski miskin pengalaman, banyak orang percaya bahwa Obama mampu menjadi pemimpin Amerika yang handal. Setelah dua periode dipimpin Presiden Bush, orang Amerika menginginkan betul agar presiden terpilih nanti membawa perubahan. Mereka muak dengan kebijakan Bush yang sok jago, petantang-petenteng, sementara ekonomi Amerika morat-marit.

Obama muncul membangkitkan kembali mimpi orang Amerika yang nyaris terenggut. Memang mimpi tidak boleh terenggut. Apalagi kalo mimpinya indah. Dalam hidup orang harus punya mimpi. Mimpi menjadi orang besar, mimpi menjadi orang kaya. Dan mimpi orang Amerika adalah mereka ingin menjadi bangsa besar, maju, berkuasa. Bush nyaris merenggut mimpi indah ini.

Dalam kampanye-kampanyenya, Obama meneriakkan perubahan. Tema inilah yang banyak menarik perhatian kaum muda Amerika. Sementara bagi kaum tua, Clinton masih menarik. Karena itu kelompok besar pendukungnya berumur 50 ke atas. Dan dalam primari di West Virginia, Clinton menang telak. Tapi kita pun harus tahu, demografi macam apa di negara bagian tersebut. 95 persen kulit putih, memiliki wilayah perkotaan yang kecil, dan termasuk negara bagian yang termiskin. Tambahan pula, negara ini memiliki sejarah yang relatif berbeda dengan negara-negara bagian yang di sebelah utara. Bukankah negara ini yang mengompori selatan untuk melawan utara? Konon demokrat tidak pernah menang di sana melawan republik.

Di West Virginia Obama kalah. Tapi ia masih unggul jauh di atas Clinton. Masih ada 4 negara yang belum menyelesaikan primary. Di beberapa negara, Obama tampaknya akan menang. Dan itu artinya ia semakin dekat untuk mengukit sejarah. Mungkin saja, dalam beberapa bulan ke depan, Obama benar-benar membuat sejarah. Paling tidak dia benar-benar menjadi unggulan partai demokrat.

Jadi presiden? Nanti dulu. Ia harus bertarung dengan McCain, calon dari partai republik. Kedua orang ini hampir kebalikan satu sama lain. Obama muda, McCain tua. Obama pintar ngomong, McCain ngomongnya membosankan. Ujian yang sebenarnya tengah menanti Obama. Ia membuat sejarah baru? Kita lihat saja.

Monday, May 12, 2008

Katanya Musim Panas? Kok Masih Dingin?

Bulan ini bulan mei. Seharusnya sudah panas. Tapi cuaca di sini tidak bisa ditebak. Hari ini 11 derajat. Dingin. Besok 17 derajat. Lumayan hangat. Sebagai orang yang datang dari negara tropis, cuaca seperti ini bikin badan panas dingin, meriang. Bikin males. Memang Boston selalu begini.

Dua bulan yang lalu saya ngobrol dengan teman yang tinggal di Kairo. Dia menanyakan cuaca di sini. Saya bilang, alhamdulillah, cuaca sudah mulai hangat. 7 derajat. Dia kaget. 7 derajat hangat? 30 derajat baru hangat katanya. 40 derajat panas. Yah, memang Boston tidak bisa dibandingkan denga Kairo. Bukankah Kairo memiliki dua musim: musim panas dan musim panas sekali! Dia tidak tahu pada bulan desember, suhu di sini mencapai minus 15. 7 derajat tentu saja alhamdulillah.

Lagi-lagi saya membayangkan hangatnya sinar matahari di Indonesia. Ketika pagi, sinarnya menyeruak kamar saya, membuat suasana terang benderang. Lalu saya pun bangun dan mandi. Segar sekali air tanahnya. Sambil menyisir dan bercermin saya merasakan nikmat yang tiada tara ini. Suasana seperti itu adalah suasana yang paling saya sukai. Lalu saya pun menyeruput kopi panas. Wah, mantap. Saya pun lalu pergi untuk bekerja, mencari sesuap nasi.

Memang, kita merasakan betapa berharganya sesuatu justru ketika sesuatu itu sudah terenggut dari kita. Ketika masih di tangan, kita tidak pernah menghargainya. Matahari dan panasnya adalah karuania tuhan yang maha dahsyat. Orang-orang yang di daerah tropis begitu bangga dengan kulitnya yang coklat. Orang Indonesia bangga dengan kulitnya yang sawo matang. Hanya orang barat yang menggunakan istilah "kulit berwarna" untuk menyebut orang-orang seperti kita--untuk membedakan dengan kulit mereka yang putih. Mereka sebenarnya tidak menganggap putih sebagai warna.

Saya ingat tetangga saya yang sehari-hari menghabiskan waktunya di ladang. Ia bangga dengan kulitnya yang hitam kelam terbakar matahari. Terkadang ia mengejek kulit saya. "Bapak sih sering di AC sih ya?" tanyanya. "Nih kulit yang bagus mah begini, kayak kulit saya."

Setelah saya perhatikan kulitnya tidak hanya kelam, tapi juga tahan dengan gatal gematal dedaunan dan nyamuk. Sehati-hari telanjang dada, tapi dia tidak pernah mengeluh.

"Orang dulu mah pak, ngak pernah ke dokter. Makanya kuat-kuat." Memang sudah berumur 80 tahun, si baba masih bertenaga. Masih bisa memanjat meninjonya, dan masih kuat memikul sekwintal dua kwintal hasil panennya. Tengah hari, di sela-sela waktu istirahatnya di dangau, ia mengipasi badannya yang berpeluh. Matahari terik sekali.

"Mataharinya bagus banget nih pak." Saya terperanjat. "Panen saya kayaknya bagus banget nih."

Tiba-tiba saya merindukan sinar matahari.