Industri Otomotif AS Tengah Sekarat
Di penghujung masa kepemimpinannya, George Bush dihadapkan pada berbagai masalah. Namun masalah yang paling pelik adalah masalah krisis ekonomi yang mendera Amerika setahun terakhir ini. Krisis ekonomi di AS dipicu oleh kebijakan ekonomi yang keliru pada sektor keuangan: kredit kepemilikan rumah (mortgage) yang terlalu mudah di luar kemampuan nasaban untuk membayarnya. Sekitar sepuluh tahun yang lalu, untuk memicu perekonomiannya, masyarakat Amerika diberi berbagai kemudahan untuk memiliki rumah dan apartment. Dengan harapan bila sektor ini berjalan dengan baik akan mendorong sektor-sektor lainnya untuk juga berkembang.
Pada saat yang sama pemerintah juga mendorong tumbuhnya berbagai lembaga keuangan yang memberi berbagai pinjaman kepada masyarakat. Lembaga keuangan ini tidak hanya bank dalam pengertian yang konvensional, namun juga investment banking, lembaga keuangan yang mirip bank, namun ia lebih fleksibel, tujuannya adalah menawarkan kredit ke masyarakat.
Dalam ekonomi kapitalis, masyarakat dipacu untuk terus membelanjakan uangnya, beli apa saja, yang penting sistem perekonomian terus menerus bergerak. Gerakannya tidak boleh tetap, semakin lama harus semakin cepat. Bila pertumbuhan tahun ini hanya 4 persen, tahun depan harus 5 persen, tahun depannya lagi harus 6 persen, tahun depannya lagi harus 7 persen, dan seterusnya. Semakin besar pertumbuhan ekonomi artinya semakin besar pula arus barang dan jasa di pasar, dan semakin besar pula jumlah uang yang bereda di pasar. Semakin banyak uang, semakin makmur, semakin kaya, dan seterusnya. Pokoknya yang ada dalam pikiran orang kapitalis adalah untung, untung, untung.
Ada satu hal yang meleset dari perhitungan mereka. Ternyata masyarakat tidak mampu mengembalikan kreditan yang mereka ambil. Mereka tidak bisa membayar kredit. Akitabnya, terjadi akumulasi utang yang begitu besar. Milyaran dolar. Kredit macet. Karena tidak ada setoran, lembaga-lembaga keuangan yang meminjamkan uang dengan sendirinya rontok. Dari sini kemudian krisis memukul sektor-sektor lainnya. Salah satunya adalah industri, yaitu industri mobil. Amerika termasuk negara pembuat mobil. Ada tiga produsen mobil yang penting di Amerika yaitu Ford, General Motor, dan Chrysler. Di Indonesia Ford relatif dikenal, namun dua merek lainnya tidak begitu.
Pemerintah Bush, setelah disetujui oleh Kongress dan Senat, mengeluarkan uang sebesar 700 miliar dolar untuk mengatasi kebangkrutan lembaga-lembaga keuangan semisal Freddie Mac, Lehman’s Brother, AIG, dan sebagainya. Dalam ekonomi, langkah ini disebut bail out, pemerintah memberi suntikan dana segar agar perusahaan bisa beroperasi seperti biasa. Para bankir, eksekutif, dan pegawai kerah putih (white collar) bisa bernafas lega. Selamat. Bisnis jalan terus. Peristiwa ini terjadi beberapa bulan yang lalu. Dan tidak tanggung-tanggung, Bush menyediakan dana 700 miliar dolar. Saking besarnya dana ini belum terpakai seluruhnya dan masih disimpan oleh Henry Poulsen, Secretary of Treasury (semacam Menteri Keuangan kalau di Indonesia).
Sekarang ini tiga perusahaan otomotif Amerika yang disebutkan di atas tengah sekarat. Namun belum ada tanda-tanda bahwa Bush akan mem bail-out tiga perusahaan tersebut. Paling tidak, tidak dalam minggu-minggu ini.
Sebagian orang percaya bahwa di sinilah biasnya pemerintahan Bush dalam menyikapi krisis. Bila pada white collar (kerah putih—istilah untuk bisnis perbankan dan keuangan) ia begitu sigap. Namun pada blue collar (kerah biru—istilah untuk pekerja kasar) ia tampak lambat. Selidik punya selidik bias ini ternyata berkaitan dengan ideologi politik partai Republik, partainya Bush yang sangat anti labor union—serikat pekerja. Perlu diketahui bahwa terdapat serikat pekerja yang sangat besar di lingkungan Ford, Chrysler, dan GM. Serikat Pekerja tentu berjuang untuk kesejahteraan mereka, menyangkut gaji, asuransi, tunjangan sosial, pensiun dan lain sebagainya.
Partai Republik tidak suka dengan itu semua. Ini berkaitan dengan basis dukungan partai yang banyak didukung oleh pengusaha kelas, konglomerat papan atas yang menguasai industri-industri strategis di Amerika. Partai Republik lebih suka membangun industri otomotif dengan prinsip pasar bebas. Perusahaan otomotif dunia diundang untuk membangun pabrik di AS. Namun tidak di utara, apalagi Michigan, karena serikat pekerja selalu mengganggu. Di selatan saja. Di Kansas, Arizona, dan Texas. Karena tidak ada serikat pekerja, perusahaan bisa membayar buruh seenaknya. Paling tidak tidak semahal di utara lah.
Ketika Ford, GM, dan Chrysler mulai teriak-teriak, sebenarnya mereka mengupayakan agar pemerintah melakukan bail out. Namun rencana itu akhirnya mental di Senat.
Tidak ada bail out baru. Lalu dicari jalan. Karena uang yang 700 miliar itu belum habis, dan masih ada di Henry Poulson, maka ada kemungkinan biaya dicarikan dari uang tersebut. Dan tidak terlalu banyak. Hanya 19 miliar dolar (GM 4 M, Chrysler 7 M, Ford 9). Namun sekarang semuanya tergantung Bush. Mau ngak dia.
Tapi mungkin sekarang sudah agak terlambat. Sebentar lagi libur panjang natal dan tahun baru. Lalu sebentar lagi presiden baru dilantik. Karena uang bail out tak kunjung tiba, Chrysler sudah menyatakan tak sanggup beroperasi lagi. Mereka sudah meliburkan pegawainya. Tidak dua minggu, tapi satu bulan. Dan selama liburan tidak ada gaji. Sementara itu dua perusahaan lainnya sudah merampingkan pegawainya. Puluhan ribu buruh nya sudah diPHK tanpa uang pesangon.
Kalau Bush benar-benar tidak membail out, ia berarti menginginkan industri otomotif AS bangkrut sebangkrut-bangkrutnya. Tiga juta orang kehilangan pekerjaan, dan itu artinya depresi. PR buat Obama semakin banyak.
Thursday, December 18, 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)
