Sunday, June 21, 2009
Pelajaran Demokrasi Yang Paling Sulit
Meski penghitungan suara pemilihan capres/cawapres oleh KPU belum selesai, hampir dapat dipastikan ada pasangan capres/cawapres yang tidak bisa ikut ke putaran kedua. Di antara capres/cawapres tersebut adalah pasangan Amien Rais dan Siswono Yudhohusodo. Sejak memutuskan untuk berpasangan dalam pemilihan capres/cawapres, Amien-Siswono termasuk pasangan yang paling banyak menyita perhatian. Betapa tidak, didukung oleh tim sukses yang handal, strategi kampanye yang boleh dibilang agresif, dan massa pendukung yang relatif fanatik, dari hari ke hari, ketika pasangan lain mengalami grafik menurun, Amien-Siswono justru menaik.
Namun sayang grafik ini harus terhenti ketika hari H tiba. Rakyat menentukan pilihan, dan pasangan Amien-Siswono hanya memperoleh suara sekitar 15 persen. Sebuah jumlah yang tidak bisa dibilang rendah. Sungguh sayang memang, mengapa hari tersebut begitu cepat datang. Andai saja pemilu diselenggarakan bulan Agustus atau September, mungkin perolehan mereka lebih dari dua puluh persen, dan, mungkin, mereka bisa melaju ke putaran kedua.
Berandai-andai seperti itu, dalam bahasa Arab, disebut tamanni, mengharap sesuatu yang tidak mungkin terjadi, alias mengkhayal. Dan dalam budaya mana pun mengkhayal dianggap sesuatu yang tidak bermanfaat. Sejumlah orang yang kebetulan menjadi aktivis Muhammadiyah, atau ormas yang berafiliasi dengan Muhammadiyah, atau menjadi pendukung setia Amien, kecewa dengan hasil pemilu yang baru lalu. Mereka sulit menerima kenyataan bahwa Amien kalah. Bukankah Amien, dalam setiap acara debat capres, selalu tampil meyakinkan. Dengan argumennya yang tajam, diselingi dengan ilustrasi yang kaya, ia membuat orang berdecak kagum. Namun mengapa Amien harus terpuruk di urutan keempat.
Inilah pemilu. Permainan politik. Ketika permainan usai, ada yang menang dan ada yang kalah. Hampir semuan orang siap menang, namun nyaris tidak ada orang yang siap kalah. Karena itu di mana-mana seringkali pemilu berbuntut kerusuhan. Namun tidak di Indonesia. Hal ini karena sejak awal para capres/cawapres memprakarsai gerakan siap kalah dan siap menang. Amien termasuk orang yang sejak awal menyatakan siap kalah. Tidak hanya itu, ia juga menyatakan bahwa baginya ikut pemilu merupakan wujud tanggung jawabnya sebagai anak bangsa terhadap proses demokrasi di Indonesia. Ibadah katanya. Menang dan kalah bukan akhir segalaya, namun semata mengharap pahala dari Allah.
Pemilu yang baru lalu memberi pelajaran penting bagi kita, bahwa ternyata di bilik suara, ketika hingar bingar dan mobilisasi massa sudah berlalu, orang dapat mengungkapkan isi hatinya dengan cara yang paling jujur. Tidak ada yang memaksa apalagi mengintimidasi. Jadi kalau selama ini Amien sering bicara memilih pemimpin bangsa dengan hati nurani, rakyat telah melakukannya 5 Juli yang lalu!
Amien tentu dapat memahami apa makna 5 Juli bagi dirinya. Ternyata ia tidak seperti yang ia bayangkan selama ini. Namun jelas ia bukan orang yang suka berandai-andai. Meski getir, kenyataan bahwa suaranya tidak beranjak dari 15 persen harus diterima.
Para pendukungnya tentu tidak mudah menerima kenyataan ini. Sampai sekarang pendukung Amien yang berada di tingkat akar rumput, tim sukses dan para penyandang dana, yang telah berupaya memenangi pemilu dari TPS ke TPS, berkorban tenaga dan biaya yang tidak sedikit, tentu berada dalam suasana psikologis yang berkecamuk. Mereka sangat masygul. Capeknya saja belum hilang, sekarang harus menerima kenyataan bahwa Amien tidak lolos ke putaran kedua! Menurut desas-desus, para pendukung Amien tidak hanya kecewa, mereka bahkan berencana untuk golput pada September mendatang.
Bicara golput, saya jadi teringat Gus Dur. Jauh sebelum pemilu, Gus Dur bertekad untuk tidak memberi dukungan pada siapa pun, tidak kepada Salahuddin Wahid, tidak juga kepada Hasyim Muzadi. Namun belakangan ia memberi dukungan kepada Solahuddin yang notabene adalah adiknya sendiri. Gus Dur memang tidak pernah jelas, golput tapi menyuruh kaum nahdliyyin mendukung Wiranto-Wahid. Pendukung Amien sangat jelas, sejelas Amien Rais. Manuver-manuver politik Amien selalu jelas, sehingga mudah dibaca orang. Kalaupun jadi golput, pendukung Amien jelas tidak bermaksud meniru Gus Dur, yang secara ideologis selalu berseberangan bahkan bertentangan dengan Amien. Ibarat Euro 2004, ketika tim kesayangan gagal melaju ke babak berikutnya, tidak perlu lagi repot-repot begadang sampai pagi.
Namun menyamakan pemilu dengan tontonan sepak bola jelas bukan keputusan yang bijak. Keduanya sangat berbeda. Euro 2004 hanyalah tontonan. Sementara pemilu adalah saat di mana bangsa menentukan pimpinan mereka untuk lima tahun mendatang. Jadi pemilu merupakan langkah strategis, terlalu penting untuk dilewatkan begitu saja.
Dalam perspektif civic culture, orang memiliki sikap yang berbeda terhadap proses jalannya pemerintahan, termasuk di dalamnya pemilu. Golput adalah sikap abstain terhadap proses pemilu yang dianggap tidak menguntungkan dirinya atau kelompoknya. Karena itu mereka tidak memberikan suaranya. Namun bila dikaji, sikap abstain ini merupakan proses di mana seseorang memasuki tahap untuk memisahkan diri dari proses politik yang terjadi di luar sana. Jadi pada dasarnya orang yang golput adalah orang yang teralienasi dari proses politik yang ada.
Di sisi lain, orang yang teralienasi adalah orang yang tidak rasional. Orang yang tidak rasional adalah orang yang tidak mempertimbangkan untung-rugi, orang yang rasional selalu mempertimbangkan untung-rugi. Demokrasi menuntut pendukungnya untuk senantiasa menerima setiap keputusan politik yang dilakukan secara adil, sungguhpun keputusan tersebut tidak menguntungkan dirinya atau kelompoknya. Dalam demokrasi, orang yang berada di luar sistem identik dengan mereka yang apatis dan teralienasi.
Pertanyaannya adalah, apakah massa pendukung Amien seperti itu? Pertanyaan ini penting untuk dijawab mengingat jumlah mereka yang cukup banyak. Berdasarkan temuan survei PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, massa pendukung Amien yang banyak didominasi oleh kalangan Islam menengah perkotaan, cenderung bersikap negatif terhadap alienasi. Hal ini karena mereka pada masa lalu, karena tingkat pendidikan yang cukup baik, memiliki akses yang baik terhadap pusat-pusat kekuasaan. Massa pendukung Amien adalah massa yang rasional. Dalam arti pilihan politik yang mereka lakukan senantiasa berdasarkan pertimbangan untung rugi.
Permasalahannya sekarang, bila Amien benar-benar kalah, ke mana mereka harus memberikan suaranya. Pasangan capres/cawapres yang diperkirakan menang pada putaran awal tentu sudah melirik massa pendukung Amien yang sedikit kebingungan menentukan pilihannya nanti. Sekarang pertanyaannya, kesepakatan politik apa yang bisa ditawarkan pada mereka. Amien pasti sudah memikirkan hal tersebut, karena, kalaupun ia terpuruk, ia tidak ingin melihat massa pendukungnya terpuruk juga dalam lima tahun mendatang. Wallahu a’lam bishawwab.
Berlibur
Sore itu Dini kelihatan sibuk. Ia sedang berkemas-kemas memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam tas punggungnya. Pak Sastro, tetangganya yang misterius, tiba-tiba mengajak kelompoknya, Marbenfini, berlibur di villanya. Tentu saja ajakan tersebut disambut gembira meski dengan perasaan bingung.
Mengapa tiba-tiba ia begitu baik? Dini bertanya-tanya dalam hati. Tiba-tiba ia membayangkan kejadian mengerikan yang mungkin saja terjadi bila tawaran tersebut benar-benar mereka terima. Ia bergidik. Mengapa harus berpikir yang tidak-tidak, sergah hatinya. Bukankah mereka sudah lama tidak berlibur.
Laki-laki tua itu sebenarnya tetangga mereka. Namun mereka tidak pernah bercakap-cakap. Bahkan bisa dikatakan tidak akrab. Pak Sastro yang tidak pernah mencoba untuk akrab dengan mereka. Hari-harinya diisi dengan membaca buku di beranda rumahnya yang luas. Entah buku apa yang dibaca, dan entah berapa puluh bahkan ratus buku yang sudah ia baca. Konon ia menyukai buku-buku yang berisikan kisah-kisah misteri dan pembunuhan. Seorang tetangga pernah memergoki ia tengah menawar puluhan buku tua, tebal-tebal, di sebuah toko loak. Semuanya berisi kisah-kisah misteri dan pembunuhan.
Kalau tidak membaca, Pak Sastro berburu. Setiap kali mendapatkan hewan buruan, ia mengawetkan kepalanya dan memajangnya di dinding rumahnya. Jadilah rumahnya seperti rumah penyihir. Di sana-sini banyak kepala binatang mulai dari kijang, babi hutan, kelinci, ular, dan macan.
Kalau diperhatikan, fisik Pak Sastro mirip dengan tokoh menyeramkan dalam film horor. Orangnya tinggi besar dengan hidung yang kelewat mancung dan melengkung. Biji matanya agak terdesak ke dalam sehingga pandangannya terkesan dalam dan dingin. Alis mata, kumis, serta janggut yang tidak terurus membuat wajahnya menyeramkan. Dalam film-film horor, orang seperti itu biasanya memerankan peran jahat. Apa saja pokoknya jahat, bisa pembunuh berdarah dingin, bisa drakula yang haus darah, bisa juga orang yang suka menculik anak-anak dan memasukkannya ke dalam karung untuk dijadikan budak mereka, atau dijadikan santapan malamnya!
Semua cerita yang berkembang tentang Pak Sastro mengerikan. Ada yang bilang ia sebenarnya baik. Namun tanpa sebab yang kurang jelas, ia berubah seratus delapan puluh derajat. Ia tinggal dengan istrinya, Bu Sastro, yang penampilannya di muka umum bisa dihitung dengan jari.
Setiap hari rumah tersebut lengang, seolah tak ada kehidupan, selain Pak Sastro yang selalu membaca. Khusuk sekali ia membaca. Dari pagi sampai sore, bahkan terkadang malam. Kalau ada suara gaduh yang mengganggu konsentrasinya, ia akan segera berdiri dan menghardik.
“Hei, kalau ribut jangan di sini. Di hutan sana! Kurang ajar kalian setan kecil! Awas suatu hari akan kubalas perlakuanmu ini dengan pembalasan yang pedih. Dasar para pecundang, kalian pantas menjadi santapan malamku.”
Mendengar itu, anak-anak segera berlari. Mereka tidak pernah menghiraukan apa yang diucapkannya. Hanya Dini yang pernah memikirkan kata-kata tersebut. Mengerikan. Dan anehnya, setiap kali marah, kata-kata yang sama meluncur dari mulutnya.
Sore itu Pak Sastro bersikap ramah. Ia tersenyum, berusaha ramah, meski kesan seramnya masih tampak. Satu persatu anak-anak disalami dan dipersilakan duduk. Mereka dihidangi jus, kue, dan masakan-masakan yang lezat. Bu Sastro sesekali keluar membawa hidangan dari dapur. Ternyata ia masih muda. Mungkin umurnya tiga puluhan. Sementara Pak Sastro diperkirakan berumur lima puluhan. Di depan Pak Sastro perempuan itu tampak hormat sekali, bahkan seperti orang ketakutan. Dini bisa melihat sorot matanya yang tidak memancarkan sinar sedikit pun. Mata seperti itu biasanya mata orang yang tertekan.
Tiba-tiba sudut mata Dini menangkap sesuatu. Di salah satu dinding, terpampang kepala kelinci. Kelinci kesayangannya! Dari sorot matanya Dini dapat merasakan penderitaan hewan tersebut menjelang kematiannya. Detik-detik kematiannya pasti mengerikan. Beberapa minggu yang lalu kelinci tersebut menghilang. Ternyata ia masuk ke pekarangan Pak Sastro. Pak Sastro dengan segera menangkapnya. Dini berjanji suatu hari ia akan buat perhitungan dengan Pak Sastro.
Tiba-tiba Pak Sastro menyuruh mereka segera masuk ke dalam mobil. Ia memberi kode pada seseorang yang berada di sebuah ruang yang gelap.
“Kalian pergi bersama Bomar!”
Bomar? Bomar siapa? Pak Sastro tidak ikut? Lalu bagaimana urusannya di sana nanti? Beberapa anak terpekik. Ada yang berusaha turun dan membatalkan perjalanannya. Namun Bomar dengan sigap naik ke mobil dan memijit tombol central lock. Ceklek, semua pintu terkunci. Mobil perlahan bergerak meninggalkan Pak Sastro yang melambaikan tangan.
Dini melihat Pak Sastro melambai dan menyeringai. Ini pertanda buruk. Ia pernah melihat seringai itu. Esoknya kelincinya mati. Lalu, siapa yang akan menjadi korban kesadisannya. Dini mencoba berpikir. Ia mencoba menghubung-hubungkan kejadian yang baru saja terjadi.
Pertama, Pak Sastro tiba-tiba, tak ada angin tak ada hujan, mengajak mereka berlibur ke puncaknya. Ini jelas mengherankan. Mengapa tiba-tiba ia begitu baik? Apakah ada maksud jahat di balik itu? Lalu, siapa yang tahu bahwa Pak Sastro punya sebuah villa. Selama ini, karena tidak pernah berkomunikasi, mereka tidak tahu ia punya villa. Lalu tiba-tiba ada Bomar. Siapa Bomar? Dan mengapa Ibu Sastro begitu ketakutan wajahnya.
Seribu satu pertanyaan berkelebat di benak Dini. Namun ia tidak mampu menjawabnya. Sementara itu, teman-temannya yang lain membisu seribu bahasa. Tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka tidak menyangka akan pergi bersama orang lain, orang yang tidak dikenal bahkan mencurigakan. Betapa tidak. Dari caranya berbicara dengan Pak Sastro, Bomar seperti bawahannya. Padahal selama ini yang mereka tahu, rumah tersebut hanya dihuni oleh dua orang Pak Sastro dan Bu Sastro.
Beberapa pasang mata saling berpandangan. Ragu. Di sepanjang perjananan Bomar tidak membuka percakapan. Matanya lurus ke depan sambil bersiul tanpa mengacuhkan mereka. Marlin, Ben, dan Fido, mengedipi Dini. Dalam keadaan seperti ini, Dini harus angkat bicara.
Dalam kelompok Marbenfini, singkatan dari Marlin, Ben, Fido, dan Dini, Dini diakui kecerdasannya. Di samping cerdas, ia juga berani. Dialah yang selama ini memberi komando kepada teman-temannya bila situasi dalam keadaan genting. Sementara yang lainnya siap menjalankan perintah. Namun Dini tidak bisa bekerja sendirian. Ia membutuhkan Ben yang tinjunya bisa membuat pohon pisang roboh, Marlin yang mampu memecahkan teka-teki rahasia, dan Fido yang menguasai teknik-teknik penyelamatan.
“Sudah lama kau menjadi supir Pak Sastro?” Dini memancing.
Bomar tidak menjawab. Dini tahu Bomar tidak suka dengan pertanyaan itu. Pertanyaan itu merendahkan. Namun dalam siatuasi seperti ini, ia harus tahu laki-laki yang tengah mengemudikan mobil tersebut.
“Aku hanya menjalankan tugas,” lama Bomar baru menjawab. Oh, mereka berseru hampir berbarengan. Kalau begitu hubungan antara Bomar dengan Pak Sastro adalah hubungan atasan dengan bawahan.
“Tugas apa saja?” Dini menyelidik lebih jauh.
Bomar tampak enggan menjawab. Ia hanya menoleh sebentar. Setelah itu pandangannya kembali ke depan. Malam sudah mulai datang. Bomar menyalakan lampu. Jalan tampak benderang. Dini mencoba mengenali jalan yang mereka lalui. Ia tahu jalan itu. Jalan itu menuju perbukitan. Sebenarnya ada jalan tembus menuju ke sana. Namun entah mengapa Bomar mengambil jalan tersebut.
“Aku hanya menjalankan tugas.”
Marlin memekik ringan. Ben mengepalkan tinjunya. Ia memberi kode pada Fido dan Marlin yang duduk di sampingnya agar Bomar dihajar saja. Namun Dini yang duduk di kursi depan mengacungkan telunjuknya, memberi isyarat agar mereka menahan rencana tersebut.
Puih, sergah Ben dalam hati. Ia sudah tidak sabar. Sudah lama tinjunya tidak digunakan. Satu dua pukulan saja Bomar pasti sudah jatuh. Apalagi kalau dihajar tengkuknya. Pasti pingsan.
“Jadi, sebenarnya kita ini pergi ke mana, Bomar?”
“Ke villa Kamboja,”
“Apa yang akan kita lakukan di sana?”
“Pak Sastro sudah mengatur semuanya.”
Bagaimana kalau kita kembali ke kota?”
“Tidak bisa. Pak Sastro pasti marah. Dan kalau sudah marah, ia akan membalas dengan pembalasan yang lebih pedih.”
Tiba-tiba otak Dini bekerja lagi. Ia ingat Pak Sastro selalu mengatakan kata-kata yang baru saja diucapkan Bomar. Dini mencium ada rencana jahat di balik ini semua. Ia lalu memberi kode pada teman-temannya di belakang agar segera beraksi. Namun tiba-tiba mobil memasuki halaman sebuah rumah tua. Pak Sastro tampak berdiri di depan menyambut kedatangan mereka. Ia menyeringai.
“Selamat datang, setan-setan kecil. Kalian adalah tawananku. Sudah lama aku merencanakan ini semuan. Ha, ha, ha, ha.”
Marbenfini berpandangan satu sama lain. Apa-apaan ini. Bukankah mereka diundang untuk liburan? Tiba-tiba Ben bergerak menyerang si tua bangka yang masih terbahak-bahak tersebut. Namun tangan Bomar lebih kekar.
“Bomar, cepat masukkan mereka ke dalam tahanan.”
Terdengar tawa Pak Sastro yang menggelegar memecah kesunyian malam. Tak lama kemudian tangan Bomar yang kekar mencekal mereka satu persatu. Ia menggelandang mereka satu persatu masuk ke sebuah ruang pengap dan gelap di belakang.
Gedebruk. Anggota Marbenfini jatuh satu persatu di lantai. Ben menggerutu, mengapa ia tidak menghajar Bomar sewaktu di jalan tadi. Namun Dini tidak setuju dengan usul Ben. Ia punya pendapat lain tentang Bomar. Ia yakin Bomar baik dan bisa menolong. Cuma masalahnya sekarang ia capek dan lapar. Tak lama Bomar menghampiri mereka membawa roti dan kue. Marbenfini yang kelaparan langsung menyantapnya.
***
Malam itu Marbenfini melewatkan malamnya di ruang yang pengap dan gelap. Hanya ada sebuah jendela kecil yang menghubungkan mereka dengan dunia luar. Sementara itu pintu tertutup rapat dan tidak ada celah sedikit pun. Mata Dini tampak melotot dan kering. Ia tidak percaya atas kejadian yang menimpa mereka. Pikirnya ia akan berlibur di sebuah villa yang indah, namun ternyata menjadi tawanan monster tua yang menyebalkan.
Dari semua itu, sosok Bomar sangat aneh. Pada satu sisi ia galak, namun pada sisi yang lain ia terlihat baik. Ini misalnya terlihat pada caranya berkata. Tampaknya banyak yang ia ingin ceritakan. Siapa Bomar yang sebenarnya. Dalam percakapan di mobil tadi, ia bilang ia hanya menjalankan perintah. Dan sewaktu menggelandang mereka, ia tidak kelihatan kasar.
“Kau tahu apa yang Bomar bisikkan sewaktu aku menyerang si tua bangka?” Ben tiba-tiba buka percakapan. Sementara itu Fido dan Marlin tidur merongkol. Hawa dingin mulai menyengat.
“Apa?” tanya Dini penasaran.
“Jangan bertindak bodoh, bila kau ingin selamat!”
Apa maksud Bomar dengan perkataannya itu, tanya Dini dalam hati. Apakah Bomar bisa diharapkan. Kalau bisa, mengapa tadi ia tidak membiarkan mereka kembali ke kota.
Tiba-tiba terdengar suara di luar. Pak Sastro memanggil Bomar. Ben menyuruh Dini agar naik ke pundaknya. Lalu ia berdiri. Dari jendela Dini bisa melihat kedua orang tersebut.
“Besok aku ingin yang mencoba menyerangku menjadi santapanku. Dagingnya pasti enak. Awas kalau kau lepaskan mereka. Sandra menjadi penggantinya.”
Mendengar perkataan itu, Bomar seperti kerbau dicocok hidungnya. Tak berdaya. Ia tidak bisa
Ah, ternyata Pak Sastro seorang kanibal. Mengerikan sekali. Ia marah dengan Ben. Namun tadi ia juga menyebut-nyebut nama Sandra. Siapa Sandra. Dini berpikir keras. Banyak hal-hal yang belum berhubungan, karena itu ia bisa membuat kesimpulan. Yang jelas sekarang Marbenfini harus menyelamatkan diri terlebih dahulu dari rencana iblis.
Malam itu juga mereka memutuskan untuk melarikan diri. Namun pintu dan jendela terlalu kuat. Tidak dibisa didongkel. Tiba-tiba Fido mengeluarkan pisau lepitnya yang serbaguna. Dari pisau tersebut ia mengeluarkan kawat kecil sebesar ujung lidi. Ia masukkan kawat tersebut ke dalam lubang kunci dan memutar-mutarnya. Tak lama terdengar bunyi ceklek! Kunci terbuka. Lalu perlahan Fido memutar gagang. Setelah dirasakan aman, satu persatu anggota Marbenfini keluar. Pertama Fido, lalu Marlin, Ben, dan terakhir Dini. Tak lama mereka hilang dalam kegelapan.
Saturday, June 20, 2009
Pesantren dan Perubahan
Perubahan demi perubahan terjadi setiap saat. Kata orang, perubahan tidak bisa dihindari, tidak bisa ditolak. Sia-sia kalau kita menghindari perubahan. Lalu bagaimana? Bagaimana kita menyikapi perubahan ini? Masalahnya adalah, dalam Islam setiap perbuatan manusia, termasuk yang menyangkut kegiatan ekonomi, ada ketentuannya. Dan ketentuan itu dijabarkan dalam fiqih—ilmu yang paling penting yang senantiasa diajarkan di setiap pesantren. Menyangkut kegiatan ekonomi yang merupakan bagian dari mu’amalah, fiqih sudah membahas panjang lebar tentang syarat dan rukun jual beli. Di antaranya adalah harus rela (tidak ada yang dirugikan), dan harus ada serah terima.
Lalu, bagaimana dengan bentuk-bentuk transaksi yang menggunakan kemajuan teknologi di atas? Apakah kita mengatakan orang yang bertransaksi lewat internet, kartu kredit, atau ATM tidak sah? Mengapa tidak sah? Apakah karena tampan tinampan (yadan bi yad) seperti yang disyaratkan fiqih tidak terpenuhi? Memang dalam bentuk-bentuk transaksi di atas tidak ada syarat tersebut. Kalau begitu... Tunggu dulu. Jangan cepat-cepat mengatakan tidak sah. Memang tampan tinampan tidak ada. Namun mengapa harus tidak sah. Toh substansinya aman-aman saja. Uang masuk ke rekening, barang bisa diterima, dan akhir bulan datang tagihan.
Ini salah satu contoh sederhana bagaimana kemajuan teknologi mengubah cara kita melakukan kegiatan ekonomi. Sementara itu, yang kita tahu seperti terdapat dalam kitab-kitab fiqih syarat jual beli salah satunya adalah harus yadan bi yad, serah terima antara pembeli dan penjual; pembeli menyerahkan uang, penjual menyerahkan barang.
Pertanyaannya, mana yang harus kita ikuti? Aturan fiqih atau kemajuan teknologi? Bila kita mengikuti aturan fiqih, maka jual beli dengan cara-cara seperti di atas adalah tidak sah. Sebaliknya bila kita ikuti kemajuan teknologi, maka aturan tersebut tidak berlaku lagi, alias aturan fiqih tersebut ketinggalan zaman. Tunggu dulu... Masalahnya semakin rumit saja. Aturan fiqih ketinggalan zaman?
Kita harus katakan ya. Karena fiqih adalah ilmu tentang bagaimana menyelenggarakan kehidupan, dan penyelenggaraan kehidupan berubah dari waktu ke waktu, dari satu tempat ke tempat lain, maka watak dasar fiqih adalah senantiasa berubah. Ia berubah sesuai dengan illatnya (al-hukmu yaduru ma’a illatihi wujudan wa ’adaman). Lalu apa yang tetap, kalau begitu? Yang tetap adalah substansinya. Kita bisa melakukan transaksi tanpa satu pihak pun dirugikan. Itu substansinya.
Sekarang kita bisa mengerti mengapa orang rame-rame bicara tentang fiqih kontekstual. Fiqih memang harus kontekstual. Kalau tidak kontekstual, bukan fiqih namanya. Pertanyaannya, apakah kitab-kitab fiqih yang diajarkan di pesantren kontekstual?
Sebelum menjawab, mari kita lihat sekilas kitab-kitab fiqih yang diajarkan di pesantren. Pada umumnya pesantren-pesantren di Indonesia mengajarkan Fathul Qarib, Safinah, Fathul Muin, Kifayatul Akhyar, dan lain sebagainya. Kita tidak perlu membahas satu persatu. Mari kita lihat, satu aspek kecil saja, misalnya definisi tentang ’aurat perempuan’.
Seingat saya, aurat perempuan didefinisikan sebagai ’seluruh badannya kecuali wajah dan telapak tangan’. Inilah definisi aurat perempuan. Namun, apakah ketentuan fiqih tentang aurat ini diikuti oleh kaum muslim? Termasuk mereka yang tinggal di pesantren? Menurut saya tidak. Para santriwati memang memakai jilbab dan rok panjang. Namun mereka juga terkadang hanya mengenakan kerudung yang asal tempel saja, di mana rambut dan lehernya masih kelihatan. Para istri kyai lain lagi gayanya. Mereka mengenakan kebaya yang lebih menampakkan lekuk-lekuk tubuh mereka.
Jadi, maksud saya, apakah memang definisi aurat perempuan itu harus seperti yang tertulis dalam kitab-kitab itu? Kalau memang ya, sama saja kita mengatakan bahwa kaum perempuan mengumbar aurat mereka. Mengapa tidak kita ikuti ketentuan tersebut? Mengapa kita tidak pernah konsisten? Antara yang dibaca dan yang dipraktikkan terdapat kesenjangan. Apakah bukan munafik namanya?
Sampai di sini, tampaknya kita harus membuat definisi aurat yang lebih bisa diterima. Definisinya tidak lagi seperti yang terdapat kitab-kitab tersebut. Misalnya, rambut perempuan bukan aurat, tangan bukan aurat, kaki bukan aurat, leher bukan aurat. Bukankah bagian-bagian tubuh tersebut selalu tampak dalam pergaulan sehari-hari. Keputusan untuk memperbaharui pemahaman kita tentang aurat jauh lebih baik daripada kita meyakini sesuatu, namun kita tidak pernah mengamalkannya.
Disadari atau tidak, banyak sekali ketentuan fiqih yang tidak kontekstual. Patut disayangkan bila para santri membaca kitab-kitab tersebut tanpa sikap kritis. Bahwa antara zaman sang muallif dan zaman mereka sekarang terbentang sebuah jarak yang begitu jauh. Yang lebih disayangkan lagi adalah ada yang beranggapan bahwa ketentuan yang termaktub dalam kitab-kitab tersebut adalah agama itu sendiri yang tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan.
Membaca Kembali Kitab Kuning
Namun setelah dipikir-pikir, akhirnya saya pun sadar, bahwa dalam kitab-kitab tersebut ada yang nilainya kuning, meskipun ada pula yang nilainya putih. Karena itu, yang terpenting adalah, bagaimana kita membaca kitab kuning dengan daya kritisisme yang tinggi. Tentu kita maklum bahwa apa yang ditulis oleh para ulama dalam karya-karya mereka adalah sebuah upaya intelektual untuk menafsirkan ajaran-ajaran agama. Dalam bahasa Islam, upaya ini disebut ijtihad. Rasulullah begitu menghargai orang-orang yang melakukan upaya ini. ”Barang siapa berijtihad, dan ia benar, maka ia mendapat pahala dua. Dan barang siapa berijtihad, namun salah, maka ia mendapat pahala satu.” Orang yang pertama mendapat dua pahala, pahala pertama untuk upaya ijtihadnya, dan pahala kedua untuk kebenarannya. Sementara orang yang kedua mendapat pahala satu untuk upaya ijtihadnya, kekeliruannya tidak membuatnya berdosa.
Kembali ke masalah karya-karya ulama, kita pun meyakini bahwa dalam menciptakan karya-karya mereka, mereka berada dalam sebuah konteks zaman dan tempat yang khas, yang berbeda dengan zaman-zaman sebelumnya dan sesudahnya. Kita harus meletakkan karya-karya mereka dalam konteks zamannya. Metode pemahaman yang kontekstual inilah yang luput ketika kita membaca kitab kuning. Biasanya kitab kuning dibaca begitu saja oleh para santri bahkan tanpa mengetahui siapa pengarangnya, kapan dan di mana hidupnya, bagaimana sejarahnya, konteks politik dan budaya seperti apa yang melatarbelakangi hidupnya, dan seterusnya.
Sebenarnya banyak contoh yang dapat kita tiru dari khasanah intelektualisme Islam klasik tentang bagaimana pemahaman kontekstual ini. Orang pesantren menyebutnya fahm al-siyaq. Para kyai sering menceritakan qaul qadim dan qaul jadid-nya Imam Syafi’i untuk menekankan bagaimana konteks waktu dan tempat yang berbeda melahirkan putusan hukum yang berbeda pula atas masalah yang sama. Namun contoh menarik dari episode imam mazhab ini hanya dipahami sebatas itu saja. Kalau Imam Syafi’i saja mendapatkan pemahaman keagamaan yang berbeda dalam konteks Mesir dan Irak, apalagi kita. Pemahaman kita tentang Islam, yang diturunkan lebih dari lima belas abad yang lalu, di sebuah negeri yang jauh dari negeri kita, tentu akan lebih berbeda lagi daripada yang dialami Imam Syafi’i.
Kembali pada definisi aurat perempuan yang meliputi ‘seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan’. Pertanyaannya, apakah definisi ini masih berlaku? Secara riil definisi ini tidak pernah berlaku di Indonesia. Ketidakberlakukan definisi ini karena memang secara budaya pengertian aurat berbeda dari satu tempat ke tempat lain, dari satu waktu ke waktu lain. Aurat berhubungan dengan kesopanan, karena itu tidak boleh diperlihatkan di muka umum. Yang bukan aurat tentu boleh diperlihatkan di muka umum. Masyarakat muslim Indonesia beranggapan perempuan boleh-boleh saja memperlihatkan rambut, tangan, leher, dan kaki sampai betis, bahkan lutut, karena itu semua bukan aurat. Perempuan Jawa bahkan mengenakan kemben, kain yang menutupi bagian payudara ke bawah. Sementara dada dan punggung tidak ditutupi. Para istri-istri kyai pun memakai kebaya dan kerudung, yang meperlihatkan rambut dan sedikit belahan dadanya.
Inilah batasan kesopanan yang diperpegangi oleh masyarakat muslim Indonesia yang plural ini, mulai dari penari bodhoyo ketawang sampai para istri kyai, dari santriwati sampai pegawai bank. Tidak ada yang mengamalkan definisi aurat seperti yang tertulis dalam kitab-kitab fiqih. Namun, aneh, dari waktu ke waktu, kita terus membaca definisi tersebut, tanpa ada upaya untuk mengubahnya.
Dari kasus di atas saja, kita dapat menyimpulkan bahwa antara fiqih yang kita baca, dan kenyataan yang kita hadapi, terdapat jurang yang begitu lebar menganga. Dan dari waktu ke waktu jurang itu kita biarkan saja terbuka tanpa ada upaya untuk menjembataninya. Mengapa harus dijembatai? Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita bahas secara selintas apa itu fiqih. Fiqih adalah aturan teknis bagaimana agama diterapkan dalam kehidupan. Fiqihlah yang mengatur bagaimana kita salat, puasa, haji, berdagang, bertetangga, berhutang piutang, dan lain sebagainya. Fiqih ibadah mengatur bagaimana kita salat; fiqih mu’amalah mengatur bagaimana kita berdagang dan berhutang piutang, dan seterusnya. Pendek kata, tidak ada aspek kehidupan yang tidak ada fiqihnya. Mengapa kehidupan harus ada fiqihnya? Supaya kehidupan menjadi sah, supaya kehidupan menjadi legitimate.
Pertanyaannya, berapa persen dari kitab fiqih yang dibaca di pesantren relevan dengan situasi dan kondisi sekarang ini? Pertanyaan ini tidak perlu dijawab, hanya untuk direnungkan dan dicamkan. Yang jelas, problematika abad ke-21, atau milenium ketiga, tidak bisa dipecahkan dengan kitab-kitab fiqih abad pertengahan dan pramodern. Namun seberapa banyak orang pesantren yang bisa terbebaskan dalam belenggu fiqih masa lampau ini. Yang lebih celaka lagi adalah sebagian orang beranggapan bahwa apa yang termaktub dalam kitab-kitab tersebut adalah Islam itu sendiri.
Konservativisme adalah pandangan yang menekankan pentingnya pelestarian budaya, tradisi, atau nilai-nilai masa lalu, terlepas apakah mereka masih relevan atau tidak. Pesantren sering dituduh sebagai lembaga yang konservatif karena pengagungannya yang berlebihan pada kitab kuning. Seperti dijelaskan sebelumnya, kitab kuning tidak selalu nilainya kuning, ada juga yang nilainya putih. Termasuk yang nilainya putih adalah seperangkat metodologi fiqih yang hingga saat ini masih relevan. Justru inilah yang namanya fiqih, yaitu seperangkat metodologi untuk menentukan hukum, bukan produk hukum. Namun pada umumnya komunitas pesantren terjebak pada model pemahaman yang terakhir. Inilah alasan mengapa pesantren diidentikkan dengan kejumudan, dan mengapa khasanakah intelektual kaum santri disebut kitab kuning.
Siapakah Pemilik Pesantren? Kyai atau Masyarakat?
Jelas atau tidak jelas adalah sebuah perspektif, sebuah cara pandang. Tergantung dari mana kita melihatnya. Dari kacamata manajemen modern memang tidak jelas. Namun dari kacamata sosio-historis pertumbuhannya sangat jelas. Pemilik pesantren adalah kyai, dan semua yang ada di pesantren adalah milik kyai. Ketika kecil bersama kyai, ketika besar pun bersama kyai. Karena milik kyai, wajar kalau kemudian pesantren diwariskan kepada anak cucunya. Sang pemula biasanya mempersiapkan anak-anaknya agar kelak dapat meneruskan perjuangan yang sudah dimulainya. Di tangan generasi anak dan cucu, sebuah pesantren biasanya mengalami perkembangan puncaknya.
Manajeman keluarga adalah istilah yang tidak memiliki makna yang jelas. Apakah ini sebuah sinisme, atau sebuah penegasan bahwa memang keluarga berperan penting dalam pengurusan pesantren. Orang yang memaksudkan makna yang pertama adalah orang yang masuk dalam kategori yang tadi: ketika besar semua angkat bicara. Tiba-tiba saja pesantren yang memiliki akar sosio-historis yang tradisional dipaksa menjadi lembaga pendidikan modern yang menerapkan prinsip-prinsip modern: efektivitas, efisiensi, transparansi, akuntabilitas, demokrasi, inklusivisme, dan lain sebagainya.
Sementara orang yang memaksudkan makna yang kedua menegaskan bahwa memang manajemen keluarga adalah ruh pesantren. Bayangkan Gontor tanpa keterlibatan Imam Zarkasyi dan anak-anaknya, Tebuireng tanpa Hasyim Asy’ari dan keturunannya, Diniyah Puteri tanpa Rahma dan anak cucunya. Keluargalah yang menjadi penggerak utama pesantren. Karena itu wajar bila kemudian mereka menjadi pemiliknya.
Sampai di sini tidak ada yang salah dengan manajemen keluarga. Persoalan baru timbul ketika pesantren memasuki era modern. Modernisasi menuntut pesantren melakukan banyak hal. Di antaranya pesantren harus melakukan apa yang disebut diferensiasi struktural. Untuk manajemen, diferensiasi struktural memaksa pesantren membuat pembedaan tegas: mana milik kyai dan mana milik pesantren, sampai di mana wewenang dan tanggung jawab kyai, bagaimana kyai mengambil keputusan, bagaimana kyai membangun hubungan dengan guru, santri dan pengurus. Pada saat itu, untuk pertama kali ketokohan dan sentralitas kyai yang dianggap lurus-lurus saja sebelumnya digugat.
Pesantren merespon tuntutan-tuntutan ini dengan melakukan berbagai kebijakan. Sejak dasawarsa 1970-an, ketika modernisasi dimulai, banyak pesantren membakukan struktur kepengurusannya. Tiba-tiba pesantren punya badan hukum. Dibentuklah yayasan. Yayasan adalah sebentuk badan hukum yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan. Sejak berbadan hukum, pesantren, disadari atau tidak, menegaskan bahwa ia secara formal adalah lembaga publik, tidak lagi milik perorangan. Dan sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap publik dibuatlah berbagai aturan yang menjamin bahwa publik punya akses dan bisa berpartisipasi di dalamnya. Dibuatlah berbagai mekanisme internal yang mengatur kepengurusan, kewenangan, pengambilan keputusan, keuangan, dan kelangsungan lembaga.
Dapat dikatakan respon pesantren terhadap tuntutan-tuntutan ini positif. Lembaga ini pada umumnya memahami pentingnya status formal di tengah masyarakat yang semakin kritis dan rasional. Namun strategi yang dilakukan sangatlah beragam. Masalahnya adalah, ketika muncul tuntutan formalisasi status, ada masalah mendasar menyangkut kepemilikan yang perlu ditegaskan kembali bahwa secara riil pemilik pesantren adalah kyai dan putra-putrinya. Dengan kata lain formalisasi status tidak boleh membuat kyai dan keluarganya pihak yang dirugikan atau bahkan disingkirkan. Karena itu kemudian yang terjadi adalah upaya akal-akalan agar kepentingan mereka tetap terlindungi. Upaya ini pun sebenarnya tidak bisa disalahkan mengingat aspek sosio-historis pesantren yang memang khas. Jadi ketika diformalkan menjadi sebuah yayasan, kyai tetap menjadi sosok yang penting. Demikian pula keluarganya.
Sunday, February 15, 2009
Pembalakan Liar dan Dangdutan di Pinggir Jalan
Beberapa tahun belakangan, sejalan dengan reformasi, bahasa sekarang betul-betul menjadi ranah publik di mana tak seorang pun dan tak sekelompok pun bisa mengklaim cara berbahasa mereka lebih baik dan lebih benar dari yang lain. Perkembangan ini jelas positif karena memang bahasa adalah milik segenap lapisan masyarakat. Kenyataan ini merangsang setiap kelompok masyarakat baik para jurnalis, aktivis, politisi, ahli hukum, ekonom, seniman, agamawan, atau masyarakat biasa, untuk mengembangkan gaya bahasa mereka masing-masing. Perkembangan yang paling menarik adalah munculnya sekelompok orang yang menginginkan bahasa Indonesia dapat berfungsi lebih maksimal. Aspek fungsional di sini adalah bahwa bahasa tidak sekedar alat untuk berkomunikasi, namun bagaimana tata bahasa yang ada namun tidak pernah digunakan difungsikan secara maksimal untuk mendapatkan kata-kata baru yang lebih simpel namun efisien dan efektif.
Contoh yang sederhana saja adalah awalan pe. Sejak kecil kita tahu bahwa awalan pe yang berada di depan kata kerja berarti pelaku atau orang yang melakukan. Pencuri artinya orang yang mencuri, penulis artinya orang yang menulis, dan seterusnya. Namun awalan ini hanya digunakan dengan kata-kata yang itu-itu saja, dan jarang digunakan dengan kata-kata lain yang baru. Berapa banyak di antara kita yang menggunakan kata-kata: pesinetron, pebulutangkis, pesepakbola, pebasket, pedangdut, pesepeda, pesepaturoda, pemobil, pemotor, pebecak, dan banyak lagi kata-kata baru yang sebenarnya ada dalam struktur tata bahasa kita, namun karena kita tidak kreatif, mereka nyaris tidak pernah meluncur. Pada umumnya kita menggunakan kata-kata: pemain sinetron, pemain bulutangkis, pemain sepakbola, pemain basket, penyanyi dangdut, pengendara sepeda, pemakai sepatu roda, pengendara mobil, pengendara motor, dan tukang becak. Kelihatannya ini masalah sepele. Namun gejala ini merupakan cerminan dari daya kreativitas yang rendah untuk membuat kata-kata yang sederhana namun efektif.
Bila pola ini diteruskan kita akan mendapatkan banyak kata untuk mendapatkan istilah-istilah yang lebih fungsional. Coba, untuk menerjemahkan kata Inggris timer saja, paling tidak kita butuh dua atau kadang tiga kata: ”penghitung waktu” atau ”alat penghitung waktu”. Kedua istilah ini jelas terlalu panjang. Mengapa kita tidak memfungsikan awalan pe sehingga kita mendapatkan kata”pewaktu”—artinya yang menentukan waktu—yang lebih pendek. Bila awalan ini kita kombinasikan dengan akhiran an, kita akan mendapatkan kata ”pewaktuan” sebagai ganti ”penentuan waktu” atau ”pemilihan waktu”. Terdengar aneh? Memang, namun lama kelamaan akan terbiasa. Ketika pertama kali sebuah kata ditemukan, maknanya sebenarnya dipaksakan secara sistematis bagi para pendengarnya. Bila mereka menyukainya, maka ia akan diterima dan menjadi milik bersama. Bila tidak, ia akan hilang begitu saja. Ada negosiasi antara si pembuat atau penemu kata dengan para pendengarnya.
Kasus awalan pe ini adalah salah satu kasus kecil saja dari sekian banyak kasus yang ada dalam kebiasaan berbahasa kita yang cenderung monoton dan tidak kreatif. Inilah sebenarnya makna prinsip bahwa bahasa menunjukkan bangsa. Prinsip ini tidak hanya bermakna bahwa kita adalah pemakai bahasa yang berbeda dengan bahasa masyarakat lainnya di dunia, namun juga menyiratkan bagaimana bahasa yang kita miliki melahirkan sebuah sistem pengetahuan yang canggih yang dapat mengatasi berbagai persoalan kebahasaan. Dulu kita hanya tahu bahwa untuk adalah kata depan. Namun dengan kombinasi awalan per dan akhiran an ditemukan kata peruntukan, seperti dalam kalimat, Pembangunan di Jakarta banyak melanggar peruntukan tanah, kata untuk menjadi konsep yang canggih.
Beberapa tahun yang lalu, dalam sebuah tulisannya tentang masyarakat madani, Dawam Rahardjo ”menemukan” kata kesalingan (hormat menghormati, harga menghargai, sayang menyayangi, cinta mencintai, dst) untuk menyebut prinsip yang mendasari terbentuknya masyarakat ini. Kata itu ia gunakan untuk menerjemahkan kata Inggris mutuality. Mungkin kata ini sudah digunakan sebelumnya oleh orang lain. Namun yang penting adalah munculnya kesadaran untuk memfungsikan kata-kata Indonesia yang ternyata mampu untuk tampil ringkas dan padat.
Di samping memfungsikan kaidah-kaidah bahasa yang tidur, kalangan fungsionalis juga mengusahakan kosa kata bahasa Indonesia dapat dipergunakan secara luas untuk menerjemahkan kata-kata asing. Tentu kita sadar betapa banyak kata-kata asing berseliweran di tengah-tengah kita dan kita tidak melakukan apa-apa. Di bidang media ada headline news, host, presenter, breaking news; di bidang ekonomi: profit taking, rebound, capital flight, hot money; di bidang cyber media: down load, browsing, searching, connecting, blogging, dan banyak lagi. Pendek kata serbuan kata-kata asing terjadi di semua bidang kehidupan. Mungkin ada ratus bahkan ribuan istilah-istilah asing yang ditelan ’bulat-bulat’ oleh masyarakat kita. Bila ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin lima sampai sepuluh tahun ke depan, bahasa Indonesia tidak akan banyak berbeda dengan bahasa Inggris. Apalagi masyarakat kita—terutama para artis dan penyanyi yang terlanjur merasa menjadi public figure, padahal sebenarnya adalah figur yang dikenal publik—merasa lebih hebat bila dalam percakapan mereka diselingi kata-kata Inggris untuk memberi kesan bahwa mereka sering wara-wiri ke luar negeri.
Kalangan fungsionalis menggunakan kata-kata yang ada dalam perbendaharaan bahasa Indonesia untuk menerjemahkan istilah-istilah asing. Beberapa tahun yang lalu, kita tentu masih ingat penggunaan istilah illegal logging untuk menyebut praktik pencurian dan penebangan kayu secara liar. Sekarang kita mempunyai istilah pembalakan liar. Dan sekarang istilah ini digunakan secara luas. Munculnya istilah ini menyadarkan kita bahwa ternyata bahasa Indonesia mampu berfungsi lebih maksimal lagi.
Bicara tentang fungsionalisasi bahasa, mungkin ada baiknya kita perhatikan sejenak bagaimana kaum pinggiran, anggota masyarakat biasa yang terdiri dari para supir, kenek, pengojek, pembecak, dan semacamnya, membuat istilah. Untuk pengecatan seluruh permukaan mobil, mereka punya istilah menyiram; memotong per agar mobil lebih rendah menceperkan; mengutak-atik mesin agar mobil berlari kencang mengilik; mobil yang dipercayakan pada seorang supir batangan. Mereka juga yang menemukan istilah dangdutan, menikmati pertunjukan musik dangdut; cabutan, pemain dari kampung lain yang disewa dalam sebuah pertandingan; tarikan, barang yang ditarik dari pemiliknya karena tidak bisa membayar cicilan; tujuhbelasan, memperingati tujuh belas agustus; tahunbaruan, memperingati malam tahun baru. Jadi, siapa sebenarnya yang lebih kreatif?
Monday, January 19, 2009
The Black Man in the White House
Barangkali sejak awal disepakati oleh pendiri bangsa Amerika bahwa pemimpin tertinggi bangsa itu senantiasa orang kulit putih. Dan Gedung Putih adalah lambang yang menegaskan supremasi tersebut.
Bangsa Yahudi, Bangsa Yang Pendek Memorinya
Maka terjadilah penghancuran itu. Pesawat tempur, helikopter, dan tank tak henti-hentinya memuntahkan pelurunya, menghancurkan apa saja yang ada di Gaza, tanpa membedakan mana pejuang Hamas, mana penduduk sipil; mana instalasi militer, mana fasilitas umum. Akibatnya, dalam tiga hari, hancur lebur semua yang ada di kota kecil tersebut. Ribuan penduduk sipil tewas, ribuan orang terluka, rumah, sekolah, rumah sakit, dan masjid hancur lebur oleh sebuah angkara murka dan juga kepongahan.
Saya tak pernah tak habis pikir, mengapa Isreal begitu mudah menggunakan cara-cara militer dalam menyelesaikan urusannya dengan Palestina. Dalih bahwa apa yang dilakukan Isreal adalah sebuah pembelaan diri tidak bisa diterima. Alasannya, penyerangan itu sama sekali tidak proporsional. Dalam konflik kemarin, tampak sekali bahwa Isreal begitu ingin menghancurkan bangsa Palestina sehancur-hancurnya.
Mengapa Israel begitu rupa ingin menghancurkan bangsa Palestina? Tidakkah seharusnya Israel "berterima kasih" kepada bangsa Palestina, bahwa pada akhirnya diam-diam Palestina "merelakan" sebagian wilayahnya dicaplok Israel? Namun, alih-alih berterima kasih, Israel malah berupaya menghancurkan mereka. Memang ada sebagian orang Palestina yang bertekad ingin melenyapkan Israel. Namun ancaman tersebut lebih disebabkan perilaku Israel sendiri yang tidak pernah menghormati hak-hak bangsa Palestina.
Tak diragukan lagi, setelah selamat dari Holocaust, Israel tumbuh sebagai bangsa yang paranoid. Israel dihantui ketakutan yang luar biasa atas penderitaan yang mereka alami pada PD II. Hampir saja mereka binasa di tangah Nazi Jerman yang percaya ras Aria jauh lebih unggul dibanding Yahudi yang, konon, bangsa pilihan tuhan. Ketakutan ini diungkapkan dalam bentuk mempersenjatai diri dan tekad untuk menghancurkan siapa saja yang bisa mengancam keberadaan mereka termasuk Palestina.
Seharusnya bangsa Israel mengambil pelajaran berarti dari tragegi Holocaust. Alih-alih mereka malah menjadi Nazi baru dan melakukan apa yang dulu dilakukan pada mereka. Begitu pendekkan ingatan mereka?
Dan ternyata bangsa Israel termasuk bangsa yang pendek ingatannya. Berkali-kali mereka diingatkan tuhan agar tidak lagi melanggar perintah tuhan. Namun tetap saja, mereka melanggarnya. Akibatnya, mereka diperbudak oleh Fir'aun dari Mesir. Untung saja ada Musa yang datang membebaskan mereka. Lalu mereka pun selamatlah. Namun kemudian mereka diperbudak kembali oleh Nebukadnezar, raja Babilonia.
Memang, bangsa Israel begitu pendek ingatannya.
