Sore itu Dini kelihatan sibuk. Ia sedang berkemas-kemas memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam tas punggungnya. Pak Sastro, tetangganya yang misterius, tiba-tiba mengajak kelompoknya, Marbenfini, berlibur di villanya. Tentu saja ajakan tersebut disambut gembira meski dengan perasaan bingung.
Mengapa tiba-tiba ia begitu baik? Dini bertanya-tanya dalam hati. Tiba-tiba ia membayangkan kejadian mengerikan yang mungkin saja terjadi bila tawaran tersebut benar-benar mereka terima. Ia bergidik. Mengapa harus berpikir yang tidak-tidak, sergah hatinya. Bukankah mereka sudah lama tidak berlibur.
Laki-laki tua itu sebenarnya tetangga mereka. Namun mereka tidak pernah bercakap-cakap. Bahkan bisa dikatakan tidak akrab. Pak Sastro yang tidak pernah mencoba untuk akrab dengan mereka. Hari-harinya diisi dengan membaca buku di beranda rumahnya yang luas. Entah buku apa yang dibaca, dan entah berapa puluh bahkan ratus buku yang sudah ia baca. Konon ia menyukai buku-buku yang berisikan kisah-kisah misteri dan pembunuhan. Seorang tetangga pernah memergoki ia tengah menawar puluhan buku tua, tebal-tebal, di sebuah toko loak. Semuanya berisi kisah-kisah misteri dan pembunuhan.
Kalau tidak membaca, Pak Sastro berburu. Setiap kali mendapatkan hewan buruan, ia mengawetkan kepalanya dan memajangnya di dinding rumahnya. Jadilah rumahnya seperti rumah penyihir. Di sana-sini banyak kepala binatang mulai dari kijang, babi hutan, kelinci, ular, dan macan.
Kalau diperhatikan, fisik Pak Sastro mirip dengan tokoh menyeramkan dalam film horor. Orangnya tinggi besar dengan hidung yang kelewat mancung dan melengkung. Biji matanya agak terdesak ke dalam sehingga pandangannya terkesan dalam dan dingin. Alis mata, kumis, serta janggut yang tidak terurus membuat wajahnya menyeramkan. Dalam film-film horor, orang seperti itu biasanya memerankan peran jahat. Apa saja pokoknya jahat, bisa pembunuh berdarah dingin, bisa drakula yang haus darah, bisa juga orang yang suka menculik anak-anak dan memasukkannya ke dalam karung untuk dijadikan budak mereka, atau dijadikan santapan malamnya!
“Hei, kalau ribut jangan di sini. Di hutan sana! Kurang ajar kalian setan kecil! Awas suatu hari akan kubalas perlakuanmu ini dengan pembalasan yang pedih. Dasar para pecundang, kalian pantas menjadi santapan malamku.”
Mendengar itu, anak-anak segera berlari. Mereka tidak pernah menghiraukan apa yang diucapkannya. Hanya Dini yang pernah memikirkan kata-kata tersebut. Mengerikan. Dan anehnya, setiap kali marah, kata-kata yang sama meluncur dari mulutnya.
Sore itu Pak Sastro bersikap ramah. Ia tersenyum, berusaha ramah, meski kesan seramnya masih tampak. Satu persatu anak-anak disalami dan dipersilakan duduk. Mereka dihidangi jus, kue, dan masakan-masakan yang lezat. Bu Sastro sesekali keluar membawa hidangan dari dapur. Ternyata ia masih muda. Mungkin umurnya tiga puluhan. Sementara Pak Sastro diperkirakan berumur lima puluhan. Di depan Pak Sastro perempuan itu tampak hormat sekali, bahkan seperti orang ketakutan. Dini bisa melihat sorot matanya yang tidak memancarkan sinar sedikit pun. Mata seperti itu biasanya mata orang yang tertekan.
Tiba-tiba sudut mata Dini menangkap sesuatu. Di salah satu dinding, terpampang kepala kelinci. Kelinci kesayangannya! Dari sorot matanya Dini dapat merasakan penderitaan hewan tersebut menjelang kematiannya. Detik-detik kematiannya pasti mengerikan. Beberapa minggu yang lalu kelinci tersebut menghilang. Ternyata ia masuk ke pekarangan Pak Sastro. Pak Sastro dengan segera menangkapnya. Dini berjanji suatu hari ia akan buat perhitungan dengan Pak Sastro.
Tiba-tiba Pak Sastro menyuruh mereka segera masuk ke dalam mobil. Ia memberi kode pada seseorang yang berada di sebuah ruang yang gelap.
“Kalian pergi bersama Bomar!”
Bomar? Bomar siapa? Pak Sastro tidak ikut? Lalu bagaimana urusannya di sana nanti? Beberapa anak terpekik. Ada yang berusaha turun dan membatalkan perjalanannya. Namun Bomar dengan sigap naik ke mobil dan memijit tombol central lock. Ceklek, semua pintu terkunci. Mobil perlahan bergerak meninggalkan Pak Sastro yang melambaikan tangan.
Dini melihat Pak Sastro melambai dan menyeringai. Ini pertanda buruk. Ia pernah melihat seringai itu. Esoknya kelincinya mati. Lalu, siapa yang akan menjadi korban kesadisannya. Dini mencoba berpikir. Ia mencoba menghubung-hubungkan kejadian yang baru saja terjadi.
Pertama, Pak Sastro tiba-tiba, tak ada angin tak ada hujan, mengajak mereka berlibur ke puncaknya. Ini jelas mengherankan. Mengapa tiba-tiba ia begitu baik? Apakah ada maksud jahat di balik itu? Lalu, siapa yang tahu bahwa Pak Sastro punya sebuah villa. Selama ini, karena tidak pernah berkomunikasi, mereka tidak tahu ia punya villa. Lalu tiba-tiba ada Bomar. Siapa Bomar? Dan mengapa Ibu Sastro begitu ketakutan wajahnya.
Seribu satu pertanyaan berkelebat di benak Dini. Namun ia tidak mampu menjawabnya. Sementara itu, teman-temannya yang lain membisu seribu bahasa. Tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka tidak menyangka akan pergi bersama orang lain, orang yang tidak dikenal bahkan mencurigakan. Betapa tidak. Dari caranya berbicara dengan Pak Sastro, Bomar seperti bawahannya. Padahal selama ini yang mereka tahu, rumah tersebut hanya dihuni oleh dua orang Pak Sastro dan Bu Sastro.
Beberapa pasang mata saling berpandangan. Ragu. Di sepanjang perjananan Bomar tidak membuka percakapan. Matanya lurus ke depan sambil bersiul tanpa mengacuhkan mereka. Marlin, Ben, dan Fido, mengedipi Dini. Dalam keadaan seperti ini, Dini harus angkat bicara.
Dalam kelompok Marbenfini, singkatan dari Marlin, Ben, Fido, dan Dini, Dini diakui kecerdasannya. Di samping cerdas, ia juga berani. Dialah yang selama ini memberi komando kepada teman-temannya bila situasi dalam keadaan genting. Sementara yang lainnya siap menjalankan perintah. Namun Dini tidak bisa bekerja sendirian. Ia membutuhkan Ben yang tinjunya bisa membuat pohon pisang roboh, Marlin yang mampu memecahkan teka-teki rahasia, dan Fido yang menguasai teknik-teknik penyelamatan.
“Sudah lama kau menjadi supir Pak Sastro?” Dini memancing.
Bomar tidak menjawab. Dini tahu Bomar tidak suka dengan pertanyaan itu. Pertanyaan itu merendahkan. Namun dalam siatuasi seperti ini, ia harus tahu laki-laki yang tengah mengemudikan mobil tersebut.
“Aku hanya menjalankan tugas,” lama Bomar baru menjawab. Oh, mereka berseru hampir berbarengan. Kalau begitu hubungan antara Bomar dengan Pak Sastro adalah hubungan atasan dengan bawahan.
“Tugas apa saja?” Dini menyelidik lebih jauh.
Bomar tampak enggan menjawab. Ia hanya menoleh sebentar. Setelah itu pandangannya kembali ke depan. Malam sudah mulai datang. Bomar menyalakan lampu. Jalan tampak benderang. Dini mencoba mengenali jalan yang mereka lalui. Ia tahu jalan itu. Jalan itu menuju perbukitan. Sebenarnya ada jalan tembus menuju ke sana. Namun entah mengapa Bomar mengambil jalan tersebut.
“Aku hanya menjalankan tugas.”
Marlin memekik ringan. Ben mengepalkan tinjunya. Ia memberi kode pada Fido dan Marlin yang duduk di sampingnya agar Bomar dihajar saja. Namun Dini yang duduk di kursi depan mengacungkan telunjuknya, memberi isyarat agar mereka menahan rencana tersebut.
Puih, sergah Ben dalam hati. Ia sudah tidak sabar. Sudah lama tinjunya tidak digunakan. Satu dua pukulan saja Bomar pasti sudah jatuh. Apalagi kalau dihajar tengkuknya. Pasti pingsan.
“Jadi, sebenarnya kita ini pergi ke mana, Bomar?”
“Ke villa Kamboja,”
“Apa yang akan kita lakukan di sana?”
“Pak Sastro sudah mengatur semuanya.”
Bagaimana kalau kita kembali ke kota?”
“Tidak bisa. Pak Sastro pasti marah. Dan kalau sudah marah, ia akan membalas dengan pembalasan yang lebih pedih.”
Tiba-tiba otak Dini bekerja lagi. Ia ingat Pak Sastro selalu mengatakan kata-kata yang baru saja diucapkan Bomar. Dini mencium ada rencana jahat di balik ini semua. Ia lalu memberi kode pada teman-temannya di belakang agar segera beraksi. Namun tiba-tiba mobil memasuki halaman sebuah rumah tua. Pak Sastro tampak berdiri di depan menyambut kedatangan mereka. Ia menyeringai.
“Selamat datang, setan-setan kecil. Kalian adalah tawananku. Sudah lama aku merencanakan ini semuan. Ha, ha, ha, ha.”
Marbenfini berpandangan satu sama lain. Apa-apaan ini. Bukankah mereka diundang untuk liburan? Tiba-tiba Ben bergerak menyerang si tua bangka yang masih terbahak-bahak tersebut. Namun tangan Bomar lebih kekar.
“Bomar, cepat masukkan mereka ke dalam tahanan.”
Terdengar tawa Pak Sastro yang menggelegar memecah kesunyian malam. Tak lama kemudian tangan Bomar yang kekar mencekal mereka satu persatu. Ia menggelandang mereka satu persatu masuk ke sebuah ruang pengap dan gelap di belakang.
Gedebruk. Anggota Marbenfini jatuh satu persatu di lantai. Ben menggerutu, mengapa ia tidak menghajar Bomar sewaktu di jalan tadi. Namun Dini tidak setuju dengan usul Ben. Ia punya pendapat lain tentang Bomar. Ia yakin Bomar baik dan bisa menolong. Cuma masalahnya sekarang ia capek dan lapar. Tak lama Bomar menghampiri mereka membawa roti dan kue. Marbenfini yang kelaparan langsung menyantapnya.
***
Malam itu Marbenfini melewatkan malamnya di ruang yang pengap dan gelap. Hanya ada sebuah jendela kecil yang menghubungkan mereka dengan dunia luar. Sementara itu pintu tertutup rapat dan tidak ada celah sedikit pun. Mata Dini tampak melotot dan kering. Ia tidak percaya atas kejadian yang menimpa mereka. Pikirnya ia akan berlibur di sebuah villa yang indah, namun ternyata menjadi tawanan monster tua yang menyebalkan.
Dari semua itu, sosok Bomar sangat aneh. Pada satu sisi ia galak, namun pada sisi yang lain ia terlihat baik. Ini misalnya terlihat pada caranya berkata. Tampaknya banyak yang ia ingin ceritakan. Siapa Bomar yang sebenarnya. Dalam percakapan di mobil tadi, ia bilang ia hanya menjalankan perintah. Dan sewaktu menggelandang mereka, ia tidak kelihatan kasar.
“Kau tahu apa yang Bomar bisikkan sewaktu aku menyerang si tua bangka?” Ben tiba-tiba buka percakapan. Sementara itu Fido dan Marlin tidur merongkol. Hawa dingin mulai menyengat.
“Apa?” tanya Dini penasaran.
“Jangan bertindak bodoh, bila kau ingin selamat!”
Apa maksud Bomar dengan perkataannya itu, tanya Dini dalam hati. Apakah Bomar bisa diharapkan. Kalau bisa, mengapa tadi ia tidak membiarkan mereka kembali ke kota.
Tiba-tiba terdengar suara di luar. Pak Sastro memanggil Bomar. Ben menyuruh Dini agar naik ke pundaknya. Lalu ia berdiri. Dari jendela Dini bisa melihat kedua orang tersebut.
“Besok aku ingin yang mencoba menyerangku menjadi santapanku. Dagingnya pasti enak. Awas kalau kau lepaskan mereka. Sandra menjadi penggantinya.”
Mendengar perkataan itu, Bomar seperti kerbau dicocok hidungnya. Tak berdaya. Ia tidak bisa
Ah, ternyata Pak Sastro seorang kanibal. Mengerikan sekali. Ia marah dengan Ben. Namun tadi ia juga menyebut-nyebut nama Sandra. Siapa Sandra. Dini berpikir keras. Banyak hal-hal yang belum berhubungan, karena itu ia bisa membuat kesimpulan. Yang jelas sekarang Marbenfini harus menyelamatkan diri terlebih dahulu dari rencana iblis.
Malam itu juga mereka memutuskan untuk melarikan diri. Namun pintu dan jendela terlalu kuat. Tidak dibisa didongkel. Tiba-tiba Fido mengeluarkan pisau lepitnya yang serbaguna. Dari pisau tersebut ia mengeluarkan kawat kecil sebesar ujung lidi. Ia masukkan kawat tersebut ke dalam lubang kunci dan memutar-mutarnya. Tak lama terdengar bunyi ceklek! Kunci terbuka. Lalu perlahan Fido memutar gagang. Setelah dirasakan aman, satu persatu anggota Marbenfini keluar. Pertama Fido, lalu Marlin, Ben, dan terakhir Dini. Tak lama mereka hilang dalam kegelapan.

No comments:
Post a Comment