Beberapa minggu terakhir ini kita menyaksikan suguhan informasi yang sungguh menyayat hati: Israel memporakporandakan Gaza, wilayah kecil tapi padat yang dihuni satu setengah juta bangsa Palestina. Alasan penyerangan Israel adalah, sudah sejak lama Hamas menembakkan roket-roket mereka ke wilayah Israel. Selama itu Israel menahan diri untuk tidak melakukan apa-apa. Namun, bertepatan pada hari Natal kemarin, Israel tiba-tiba menggerakkan mesin perangnya yang serba-canggih, melawan Hamas, kekuatan baru bangsa Palestina yang dicap sebagai teroris oleh Barat.
Maka terjadilah penghancuran itu. Pesawat tempur, helikopter, dan tank tak henti-hentinya memuntahkan pelurunya, menghancurkan apa saja yang ada di Gaza, tanpa membedakan mana pejuang Hamas, mana penduduk sipil; mana instalasi militer, mana fasilitas umum. Akibatnya, dalam tiga hari, hancur lebur semua yang ada di kota kecil tersebut. Ribuan penduduk sipil tewas, ribuan orang terluka, rumah, sekolah, rumah sakit, dan masjid hancur lebur oleh sebuah angkara murka dan juga kepongahan.
Saya tak pernah tak habis pikir, mengapa Isreal begitu mudah menggunakan cara-cara militer dalam menyelesaikan urusannya dengan Palestina. Dalih bahwa apa yang dilakukan Isreal adalah sebuah pembelaan diri tidak bisa diterima. Alasannya, penyerangan itu sama sekali tidak proporsional. Dalam konflik kemarin, tampak sekali bahwa Isreal begitu ingin menghancurkan bangsa Palestina sehancur-hancurnya.
Mengapa Israel begitu rupa ingin menghancurkan bangsa Palestina? Tidakkah seharusnya Israel "berterima kasih" kepada bangsa Palestina, bahwa pada akhirnya diam-diam Palestina "merelakan" sebagian wilayahnya dicaplok Israel? Namun, alih-alih berterima kasih, Israel malah berupaya menghancurkan mereka. Memang ada sebagian orang Palestina yang bertekad ingin melenyapkan Israel. Namun ancaman tersebut lebih disebabkan perilaku Israel sendiri yang tidak pernah menghormati hak-hak bangsa Palestina.
Tak diragukan lagi, setelah selamat dari Holocaust, Israel tumbuh sebagai bangsa yang paranoid. Israel dihantui ketakutan yang luar biasa atas penderitaan yang mereka alami pada PD II. Hampir saja mereka binasa di tangah Nazi Jerman yang percaya ras Aria jauh lebih unggul dibanding Yahudi yang, konon, bangsa pilihan tuhan. Ketakutan ini diungkapkan dalam bentuk mempersenjatai diri dan tekad untuk menghancurkan siapa saja yang bisa mengancam keberadaan mereka termasuk Palestina.
Seharusnya bangsa Israel mengambil pelajaran berarti dari tragegi Holocaust. Alih-alih mereka malah menjadi Nazi baru dan melakukan apa yang dulu dilakukan pada mereka. Begitu pendekkan ingatan mereka?
Dan ternyata bangsa Israel termasuk bangsa yang pendek ingatannya. Berkali-kali mereka diingatkan tuhan agar tidak lagi melanggar perintah tuhan. Namun tetap saja, mereka melanggarnya. Akibatnya, mereka diperbudak oleh Fir'aun dari Mesir. Untung saja ada Musa yang datang membebaskan mereka. Lalu mereka pun selamatlah. Namun kemudian mereka diperbudak kembali oleh Nebukadnezar, raja Babilonia.
Memang, bangsa Israel begitu pendek ingatannya.
Monday, January 19, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment