Friday, August 22, 2008

Indonesia, Tempat Lahir Beta


Beberapa hari yang lalu saya baru saja merayakan hari kemerdekaan RI yang ke-63. Seperti biasa, meriah, dan di sana sini banyak makanan enak. Namun perayaan ini terjadi di satu tempat yang jauh dari apa yang disebut ibu pertiwi. Di Andover, sebuah kota kecil di Massachusetts, sekitar 100 orang menyanyikan Indonesia Raya dengan khidmat. Ternyata meski raga terpencil jauh dari tanah air, meski belasan dan bahkan puluhan tahun tidak menginjak ibu pertiwi, hati ini tetap terpaut ke sana. Ternyata kebangsaan adalah sebuah kesaksian atas keabsahan sebuah sejarah dengan apa kemudian masa depan diteropong.

Karena itu adalah tidak mungkin, hanya karena perbedaan ideologi dan politik, orang diceraiberaikan dari tanah leluhurnya. Saya pernah menyaksikan itu. Di Belanda, banyak orang--tepatnya mahasiswa generasi 1960-an--yang tidak bisa pulang ke tanah air karena dianggap menganut paham yang menyimpang. Akibatnya mereka terlunta-lunta selama puluhan tahun. Diaspora dalam pengertian yang paling pejoratif--hidup di negeri orang karena terusir dari negeri sendiri--mungkin istilah yang tepat. Meski demikian, mereka masih bisa menyanyikan lagu kebangsaan bahkan lebih baik dari saya. Saya betul-betul kagum dengan semangat kebangsaan yang mereka miliki.

Ternyata kebangsaan jauh lebih kompleks dari sebuah buku yang disebut paspor. Sewaktu paspor mereka dicabut, mereka tentu saja protes. Karena dengan apa lagi mereka bisa membuktikan diri sebagai warga negara tertentu bila tidak dengan paspor. Namun tokh dokumen satu-satunya itu pun akhirnya dicabut. Akhirnya mereka hidup menggelandang. Dari Moskow, Bucharest, Warsawa dan Berlin, ketika komunisme jatuh pada 1980-an, mereka bergerak ke Barat, menuju London, Paris atau Amsterdam. Siapa tahu ada negara yang mau menampung untuk sekedar menyambung hidup. Tak ada niatan mengganti warga negara. Kalau pun akhirnya berganti, tokh itu hanya sebuah buku. Hati dan jiwa mereka tentu masih sepenuhnya Indonesia.

Saya masih ingat betul betapa semangatnya ketika saya pancing mereka untuk cerita masa mudanya. Ada yang mantan aktivis LEKRA, ada yang mantan GMNI, ada juga yang tidak memiliki bau komunis sedikit pun. "Tuhan," kata Ahmad Marqoni, santri tulen asal Pekalongan, "mentakdirkan saya untuk jauh dari orang tua, saudara, handai taulan, kampung halaman, dan tanah air. Namun sepenuhnya tempat saya di sana." Maka ketika sudah berumur ia belum juga berkeluarga, keluarganya di kampung menjodohkan ia dengan gadis sekampungnya. Ia terima saja karena ia memang tidak ingin menukar keindonesiaannya. Padahal waktu di Moskow, banyak gadis cantik yang tertarik padanya.

Sementara Mintardjo akhirnya menikah dengan gadis Rumania. Meski demikian imajinasinya tetap tidak jauh dari bau tanah kampung halamannya. Anaknya, meski berkulit putih dan sama sekali tidak menunjukkan ciri-ciri fisik perempuan Jawa, diberi nama Asih, pertanda bahwa dalam diri anaknya mengalir darah Jawa, dan kenangan agar anaknya kelak memandang masa depannya dengan tegak. Sementara masa lalunya sendiri yang pahit cukup ia saja yang menelan. Namun pada perayaan kemerdekaan, tidak ada lagi duka dan nestapa. Semuanya bergelak tawa ria, mengenang masa muda yang tak terengkuh. Lalu nafas sedikit panjang dan berat. Untung saja masih ada sedikit vodka. Mereka pun bersulang untuk kejayaan tanah air, jauh di awang-awang.

Namun yang hadir di 111 Salem Street Andover ini bukanlah orang-orang yang terusir. Mereka adalah generasi Indonesia yang berbeda, datang ke Amerika karena alasan yang lebih pragmatis. Ada yang karena menikah, ada yang karena sekolah, ada juga yang mencoba mengadu nasib. Cerita kelam seperti yang dialami Ahmad Marqoni atau Mintardjo, tidak terdengar sama sekali.

Inilah salah satu wajah nasionalisme Indonesia. Paspor boleh berganti, namun kebangsaan tidak ditentukan oleh buku itu. Imagined communities, kata Ben Anderson, masyarakat yang dicita-citakan adalah dasar yang merekatkan sekelompok orang untuk terus hidup bersama. Ia adalah sebuah ideologi yang hidup, dan akan tetap hidup selama proses persemaian nilai-nilainya berlangsung. Bila proses ini berhenti, maka matilah ideologi tersebut. Teman saya di Den Haag, yang sudah mapan secara material, begitu gundah melihat anak-anaknya. Tidak bisa berbahasa Indonesia, tidak doyan makanan Indonesia, dan, celakanya, tidak mau balik ke Indonesia. Sementara dirinya ingin pulang ke Indonesia, dan mati di sana. Di sana beta lahir, kata Ismail Marzuki, di sana pula beta menutup mata. ***

No comments:

Post a Comment