Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba suatu hari, anakku bilang bahwa ia ingin jadi pohon. Aku kaget. Apa maksudnya. "Manusia Pohon" yang tempo hari mengisi lembaran surat kabar tentu bukan yang ia maksudkan. Yah, namanya juga anak-anak. Ia bisa saja bicara apa saja, tanpa jelas maksudnya. Tapi setelah aku pikir-pikir, kalimat itu bagus dan indah. Penuh makna.
Pengetahuanku tentang pohon sangatlah terbatas. Sebatas yang aku pelajari dalam ilmu tumbuh-tumbuhan. Ya dulu anak SD diajar ilmu tumbuh-tumbuhan. Sekarang tidak lagi. Mungkin karena dianggap tidak penting sehingga orang sekarang seenaknya menebang hutan, lalu banjir, malapetaka, korban berjatuhan. Ini semua gara-gara pohon. Terus terang, omongan anakku di atas tanpa konteks yang jelas. Mungkin sebelumnya ia menonton siaran teve tentang banjir yang berhubungan dengan pembabatan hutan.
Mungkin juga karena ia melihat pohon di belimbing di belakanga rumah yang tengah berbuah. Aku bilang sama istri, mungkin sebaiknya kita punya pohon di belakang rumah agar udara segar, dan panas matahari teredam sedikit oleh dedaunannya yang rimbun dan hijau. Istriku setuju. Maka kami pun mencari bibit belimbing yang kira-kira buahnya manis. Setahuku banyak jenis belimbing dengan buah yang lebat. Tapi yang buahnya manis sedikit. Belum sempat kami pergi ke tukang tanaman, adikku datang membawa bibit belimbing. Dengan segera ia mengambil pacul dan menanamnya.
Lama aku tidak memperhatikan pohon itu sampai suatu hari aku kaget. Pohon itu kini sudah tinggi , dan di sana sini merintis bunga. Pertanda akan berbuah. Dan setiap hari anakku memanjat dan bertengger di dahannya. Tak lama setelah itu, di atas meja makan selalu tersaji buah belimbing. Anakku suka sekali. Padahal tidak begitu manis. Mungkin ia merasa itu adalah buah pohon yang selalu dipanjatnya, pohonnya. Mungkin ini yang ia maksudkan dengan kalimatnya, "aku ingin jadi pohon."
Omong punya omong, manisnya belimbing berhubungan dengan kesuburan tanah dan sinar matahari yang cukup. Seorang temanku bercerita. Dulu ayahnya petani belimbing di daerah Pasar Minggu. Banyak petani buah yang berhasil dan kaya di sana. Saking terkenalnya belimbing Pasar Minggu, sampai-sampai Bu Kasur mencipta lagu "Pepaya Mangga Pisang Jambu". Memang belimbing tidak disebut dalam lagu tersebut. Kalau Bu Kasur mau jujur, belimbing harusnya disebut. Karena buah itu yang paling banyak ditemukan di sana. Temanku melanjutkan bahwa petani Pasar Minggu memiliki teknik tersendiri agar belimbingnya manis. Pada musim panas, belimbing mereka disiram dengan urin binatang peliharaan mereka. Jadinya manis.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Pohon itu semakin besar dan tinggi. Daunnya menutupi sebagian halaman belakang. Anakku sudah tidak pernah lagi memanjatnya. Dahan yang biasa ia tenggeri, sekarang sudah tidak terjangkau lagi.
Matahari sekarang hanya bisa mengintip melewati rerimbunnya. Hawa di belakang sejuk memang. Tapi ada yang mengkhawatirkan aku. Dahannya sebagian merangsek ke genteng. Daun-daunnya menyumpal talang. Dan kalau hujan tiba, karena tersumpal air meluap dan merembes lewat triplek. Awalnya aku biarkan. Tapi ketika triplek jebol, karena lapuk dan hancur, aku pun angkat bicara. Mungki pohon ini harus ditebang.
Anakku protes tidak setuju. Kalau mau, katanya, yang ditebang cukup dahan yang menjuntai ke atas genteng saja. Yang lainnya biarkan saja. Benar juga kataku dalam hati. Tapi bila angin bertiup daunnya toh tetap jatuh ke genteng dan menyumpal talang. Memang, katanya, ini karena bapak membuat talang segala sih! Coba kalau air hujan dibiarkan langsung jatuh, kan tidak perlu repot-repot memunguti sampah setiap kali musim hujam tiba.
Aku menyergah dalam hati. Anak ini pandai bicara. Tiba-tiba aku ingat kata-katanya yang dulu ia ucapkan. Aku ingin jadi pohon.
Karena argumenku lemah, talang dibelakang rumah dibongkar. Air hujan langsung jatuh ke tanah. Benar juga sih, tidak ada bercak air lagi di triplek. Namun, sesuai kesepakatan, dahan-dahan yang menjuntai di atas genteng dibabat habis. Aku bilang sama si tukang tebang, sisakan saja satu dua dahan pokok.
Mengetahui pohonnya dibabat, anakku marah. Apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Nanti kan tumbuh lagi. Dahan dan daunnya tumbuh seperti sedia kala, kataku menghibur.
Namun anehnya, sejak itu pohon itu tampak merana. Ia tidak mau tumbuh lagi. Wah, aku jadi bingung. Kok bisa jadi begini. Tanya punya tanya, aku baru engeh bila pohon terlalu banyak dipangkas, proses fotosintesisnya akan terganggu. Betul juga kataku. Tiba-tiba aku merasa bodoh sekali. Bukankah dulu guruku di SD bilang bahwa pohon memasak makanannya di daun. Kalau daunnya dipangkas, di mana pula ia akan memasak.
Tak lama setelah itu kulihat pohon itu mulai ditumbuhi jamur. Pertanda memang tidak ada pertumbuhan di dalamnya. Aku diam saja ketika anakku cerita bagaimana orang Jepang merawat pohon-pohonnya. Pada musim dingin, pada bagian bawah pohon-pohonnya dilibeti jerami yang sudah dianyam rapi. Ini dimaksudkan agar kutu dan serangga yang bersarang, karena kedinginan, berkumpul di bawah jerami itu. Begitu musim semi datang, selimut jerami itu dibuka dan dibakar. Tak aneh bila kemudian bunga sakura di sana bisa berumur lebih panjang dari manusia.
Aku semakin bersalah saja mendengar cerita itu. Terlebih lagi ketika pohon itu renta dan lapuk. Manusia punya rencana, tapi tuhan juga yang menentukan. Setelah berdebat ke sana ke mari, pohon itu akhirnya ditebang.
***
Thursday, May 15, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

Assalaamu'alaikum wr. wb.
ReplyDeleteAnak sampean bisa merenung sedalam itu tah? memang buah itu jatuhnya tidak akan jauh dari pohonnya.
salam kangen kang, sekarang sudah berani nongol lagi yah. Maaf saya baru tahu karena sudah jarang lihat www.buntetpesantren.serrum.org
sekarang buntet sudah pindah ke www.buntetpesantren.org benar saya masih kusak kusuk ngurusi kaya ginian. yah, gitu deh! you know what you think.
aku ambil yah tulisane... salam semoga sukses