Monday, May 12, 2008

Katanya Musim Panas? Kok Masih Dingin?

Bulan ini bulan mei. Seharusnya sudah panas. Tapi cuaca di sini tidak bisa ditebak. Hari ini 11 derajat. Dingin. Besok 17 derajat. Lumayan hangat. Sebagai orang yang datang dari negara tropis, cuaca seperti ini bikin badan panas dingin, meriang. Bikin males. Memang Boston selalu begini.

Dua bulan yang lalu saya ngobrol dengan teman yang tinggal di Kairo. Dia menanyakan cuaca di sini. Saya bilang, alhamdulillah, cuaca sudah mulai hangat. 7 derajat. Dia kaget. 7 derajat hangat? 30 derajat baru hangat katanya. 40 derajat panas. Yah, memang Boston tidak bisa dibandingkan denga Kairo. Bukankah Kairo memiliki dua musim: musim panas dan musim panas sekali! Dia tidak tahu pada bulan desember, suhu di sini mencapai minus 15. 7 derajat tentu saja alhamdulillah.

Lagi-lagi saya membayangkan hangatnya sinar matahari di Indonesia. Ketika pagi, sinarnya menyeruak kamar saya, membuat suasana terang benderang. Lalu saya pun bangun dan mandi. Segar sekali air tanahnya. Sambil menyisir dan bercermin saya merasakan nikmat yang tiada tara ini. Suasana seperti itu adalah suasana yang paling saya sukai. Lalu saya pun menyeruput kopi panas. Wah, mantap. Saya pun lalu pergi untuk bekerja, mencari sesuap nasi.

Memang, kita merasakan betapa berharganya sesuatu justru ketika sesuatu itu sudah terenggut dari kita. Ketika masih di tangan, kita tidak pernah menghargainya. Matahari dan panasnya adalah karuania tuhan yang maha dahsyat. Orang-orang yang di daerah tropis begitu bangga dengan kulitnya yang coklat. Orang Indonesia bangga dengan kulitnya yang sawo matang. Hanya orang barat yang menggunakan istilah "kulit berwarna" untuk menyebut orang-orang seperti kita--untuk membedakan dengan kulit mereka yang putih. Mereka sebenarnya tidak menganggap putih sebagai warna.

Saya ingat tetangga saya yang sehari-hari menghabiskan waktunya di ladang. Ia bangga dengan kulitnya yang hitam kelam terbakar matahari. Terkadang ia mengejek kulit saya. "Bapak sih sering di AC sih ya?" tanyanya. "Nih kulit yang bagus mah begini, kayak kulit saya."

Setelah saya perhatikan kulitnya tidak hanya kelam, tapi juga tahan dengan gatal gematal dedaunan dan nyamuk. Sehati-hari telanjang dada, tapi dia tidak pernah mengeluh.

"Orang dulu mah pak, ngak pernah ke dokter. Makanya kuat-kuat." Memang sudah berumur 80 tahun, si baba masih bertenaga. Masih bisa memanjat meninjonya, dan masih kuat memikul sekwintal dua kwintal hasil panennya. Tengah hari, di sela-sela waktu istirahatnya di dangau, ia mengipasi badannya yang berpeluh. Matahari terik sekali.

"Mataharinya bagus banget nih pak." Saya terperanjat. "Panen saya kayaknya bagus banget nih."

Tiba-tiba saya merindukan sinar matahari.

No comments:

Post a Comment