Sunday, April 27, 2008

Ahmadiyah Oh Ahmadiyah



Sekitar dua tahu lalu, saya mendapat tugas untuk sosialisasi survei PPIM tentang "Islam dan Demokrasi di Indonesia" di Mataram. Namun untuk keperluan seminar, saya harus bicara tentang toleransi di kalangan umat Islam di Indonesia. Banyak peserta yang datang, kelompok Islam, Hindu, pemuda, politisi, akademisi, dan perempuan. Di antara kalangan yang diundang adalah kelompok Ahmadiyah yang di Lombok cukup besar jumlahnya. Laki-laki yang tampak dalam foto di atas adalah muballigh Ahmadiyah.

Dalam seminar saya sampaikan bahwa sekian persen (kalo tidak salah 10 persen) umat Islam benci dengan Ahmadiyah. Dan sekian persen lagi (kalo tidak salah 2 persen) siap melakukan kekerasan kepada Ahmadiyah. "Karena itu," kata saya, "Ahmadiyah jangan macam2." Sang muballigh mendengar itu tersenyum2 saja. "Memang angkanya kecil," lanjut saya. "Tapi angka itu bila dikalikan dengan jumlah umat muslim secara nasional sangat besar lho." Sanga muballigh manggut-manggut. Ada bahaya senantiasa mengancam mereka.

Apa yang saya sampaikan pada waktu seminar itu sekarang menjadi kenyataan. Gerakan anti-Ahmadiyah semakin besar. Entah apa yang akan terjadi. Namun yang jelas apa yang diprediksi survei waktu itu mendekati kenyataan. Kekerasan yang tadinya bersifat potensial sekarang menjadi aktual. Di mana-mana orang berteriak2 "bunuh Ahmadiyah" "ganyang Ahmadiyah". Mengerikan sekali.

Saya jadi teringat Ustadz Saiful Uyun, muballigh Ahmadiyah asal Tasikmalaya yang bertugas di Makassar. Orangnya baik abis. Setelah seminar di IAIN Makassar, malamnya saya ditraktir makan ikan di Restoran Lea Lea.

Ia cerita tentang mengapa ia menjadi Ahmadiyah. Ia juga panjang lebar tentang Ahmadiyah. Dari ceritanya saya menyimpulkan bahwa Ahmadiyah adalah sebuah sekte sunni--mereka bukan deviant sect seperti disangkakan orang. Bedanya dengan kaum sunni pada umumnya mereka percaya bahwa Al-Mahdi sudah datang, yaitu dalam diri Mirza Ghulam Ahmad. Itu saja.

Seorang teman yang pada waktu seminar begitu sengit dengan Ahmadiyah bertanya. "Posisi Nabi Muhammad aman-aman saja kan?" Kontak kita tertawa mendengar pertanyaan itu. Begitu mengerikankah bila kerasulan Muhammad tidak diakui. Namun Ahmadiyah masih percaya dengan itu. "Ya, tentu saja. Kami pun percaya dengan kenabian dan wahyu Nabi Muhammad." Lalu Pak Saiful membaca sejumlah ayat al-Qur'an yang menyatakan kenabian Muhammad dan sejumlah hadist yang menerangkan kedatangan Al-Maw'ud (Yang Dijanjikan).

Pak Saiful, mudah2an Tuhan melindungi kita semua!

No comments:

Post a Comment