Saturday, April 26, 2008

Sadun Padim

Di sebuah warung mie, beberapa lelaki tampak menghisap rokok mereka dalam-dalam, lalu menghempaskan asapnya ke udara. Asap bergulung-gulung putih membentuk bulatan-bulatan, kemudian memudar dan hilang. Denting sendok dan garpu yang beradu dengan mangkuk bersahutan dengan bunyi seruput mulut menyeruput kopi dan teh panas yang dihidangkan. Mereka tengah mendengarkan cerita Sadun yang baru saja pulang dari sebuah kafe.

“Semua orang tepuk tangan begitu Rayena tampil. Apalagi ketika ia bergoyang, kafe seakan roboh, semua pengunjung turun berjoget.”

Itulah Kongsi, sebuah kampung yang terletak di pinggiran ibu kota. Di sini setiap gadis bercita-cita menjadi penyanyi. Bila malam datang, terdengar sayup-sayup irama dangdut. Di pelataran rumah, di sudut jalan, di depan warung, sekelompok anak muda berlatih musik, membuat suasana semarak. Dan ketika malam makin kelam, suara para biduan terdengar parau, terbang bersama angin, seakan berusaha menggapai mimpi-mimpi yang sering mengganggu tidur mereka.

Sudah lama sebenarnya Sadun ingin menyalurkan bakat mereka. Namun sulitnya bukan main. Di samping masalah kualitasnya yang masih ecek-ecek, juga tidak ada koneksi dengan orang-orang yang mengurusi bisnis hiburan malam. Padahal tak jauh dari kampung itu, menjamur kafe dan diskotik yang menawarkan gelimang uang dan ketenaran. Karena itu apa yang bisa dilakukan hanyalah manggung dari satu rumah ke rumah lain, dengan bayaran alakadarnya tergantung kebaikan yang punya hajat.

Hasilnya lumayan, tapi memang tidak mencukupi kebutuhan mereka seluruhnya. Karena itu kalau anak buahnya membutuhkan sesuatu, Sadun mengeluarkan isi koceknya sendiri. Meskipun tukang ojek dengan penghasilan paspasan, namun untuk urusan anak-anak band, Sadun berusaha sekuat tenaga. Pokoknya mereka harus terus berlatih, karena tanpa latihan mereka tidak bisa meningkatkan permainannya.

Ma’anih, istri Sadun, tentu saja mencak-mencak mengetahui kelakuannya yang suka royal tersebut. Perkara dapur saja tidak beres, anak-anak band malah diurusi. Karuan saja kantongnya jebol. Tahun depan, Saodah, anak gadis mereka, lulus SMU. Artinya mereka harus menyediakan sejumlah uang untuk biaya kuliahnya. Bila ditanya tentang hal itu, Sadun malah melengos. Biarlah Saodah jadi penyanyi saja, katanya. Ia tidak perlu sekolah tinggi-tinggi.

Lain kesempatan, Sadun bilang kalau jodoh Saodoh sudah ada, baiknya dikawinkan saja. Masak tidak ada laki-laki yang suka. Saodah kan lumayan manis. Karena itu kalau ada anak muda apel ke rumah jangan dibikin rusuh. Biarkan saja. Sadun ingin segera menimang cucu. Memang Sadun menikah di atas kepala tiga. Karena itu, meski sudah lewat kepala lima, Sadun belum punya cucu. Dan rasa-rasanya Saodah belum ada bau-bau kawin. Kalau ingat itu, hatinya merana sekali.

Ma’anih pusing memikirkan kelakuan suaminya yang tidak pernah memikirkan anak mereka satu-satunya. Namun lama kelamaan ia mengerti juga profesi Sadun. Pada bulan-bulan tertentu, banyak orang hajatan. Ada kawinan, sunatan, ulang tahun, tujubelasan, atau apa saja. Rasanya hajatan tak lengkap tanpa kehadiran musik dangdut. Anak-anak bandnya diundang untuk menghibur mereka. Pada saat itu Sadun kebanjiran rejeki. Ma’anih kecipratan juga dari rejeki yang didapatkan Sadun.

“Kalau anak-anak band maju, nanti kau juga yang senang,” kata Sadun pada suatu hari.

Tiba-tiba Sadun teringat Rayena. Anak itu makin hari makin terlihat saja bakatnya. Suaranya bagus, cengkoknya juga bagus, dan yang penting lagi, bodinya juga oke. Sadun berusaha mati-matian agar gadis tersebut bisa menjadi biduan dalam arti yang sebenarnya. Diundang dari satu tempat ke tempat lainnya dengan mendapatkan upah yang pantas.

Lewat perkenalannya dengan seorang pelanggan ojeknya yang ternyata pelayan di sebuah kafe, Sadun memperkenalkan Rayena pada menejer kafe. Sang menejer berdecak kagum mendengar suara Rayena yang merdu. Dengan gayanya yang genit, ia pun memuji kecantikan Rayena. Rayena tidak hanya diterima, ia langsung diberi job untuk menyanyi.

Pada malam yang telah ditentukan Rayena melakukan debut perdananya. Malam itu malam Rayena. Tak disangka biduan kampung tersebut sanggup menyihir pengunjung. Begitu naik ke panggung, terdengar suitan nakal. Rayena dengan sopan memberi salam dan menyapa penonton.

Rayena menyanyi satu dua lagu. Suaranya yang merdu segera menghangatkan suasana. Riuh rendah, terdengar tepuk tangan di sana-sini. Lalu Rayena pun menari. Mulanya meliuk perlahan, melenggak-lenggok, semakin lama semakin cepat mengikuti irama gendang yang menghentak.

Satu persatu orang naik ke panggung, berjoget-joget ria bersama sang biduan. Rayena meladeni mereka semua dengan goyangannya yang makin seronok. Sebelum turun mereka minta sun pipi segala sambil tak lupa memberi salam tempelnya. Rayena tersenyum saja melihat tingkah penonton. Ia terus bernyanyi dan menari. Malam itu ia mendapatkan saweran banyak sekali.

***

Cerita sukses Rayena menjadi buah bibir orang sekampung. Semua orang mengelu-elukan dirinya, mulai dari anak-anak, para gadis, maupun orang-orang tua. Sudah lama Kongsi tidak memiliki seniman besar. Setelah kematian Mpok Onih, penari kawakan, tak ada lagi seniman yang lahir di sana. Kongsi sepi.

Pada masa mudanya, nama Mpok Onih dikenal sampai daerah kota. Cukong dan para tokeh menyukai tariannya. Mpok Onih mengajari murid-muridnya agar dalam berkesenian, orang harus melakukannya dengan jiwa dan raga. Bila penampilan total, orang pun dengan senang hati memberikan apa yang dimiliki. Ketika Mpok Onih masih jaya, pertunjukannya selalu dipenuhi orang, terutama laki-laki. Mereka tidak akan beranjak dari tempatnya sebelum pertunjukan selesai, dan sebelum uang di kantong mereka ludes.

Orang lalu menghubungkan kehebatan Rayena dengan Mpok Onih. Tak salah lagi arwah Mpok Onih telah menitis ke dalam tubuh Rayena. Namun Rayena tidak peduli dengan cerita titis-menitis tersebut. Yang jelas ia memang mencoba untuk tampil total. Dan untuk tampil total ia harus cantik. Dan dengan uang, Rayena bisa cantik. Ia membeli pakaian-pakaian bagus untuk manggung. Hak sepatunya makin tinggi saja. Dari waktu ke waktu, karena sering ke salon, ia makin cantik. Penampilannya berubah. Rambutnya yang lurus sebahu dicat pirang. Bila berjalan, ia menggeraikan rambutnya, serasi betul dengan lekuk tubuhnya yang padat berisi. Lelaki mana yang tak menelan ludah melihat gadis yang begitu botoh ini melenggak-lenggok di tengah kampung. Namun Rayena bukan gadis kampung lagi. Ia seorang biduan. Tugasnya menghibur orang. Dari satu kafe ke kafe lain, dari satu diskotik ke diskotik lain.

Sementara itu Sadun dengan setia mengantar Rayena kemana pun pergi. Selepas isya Sadun memangkal motornya di depan warung. Tak lama kemudian Rayena datang. Dari jauh baunya menyerbak. Mereka lalu berangkat. Mengais rejeki di keremangan malam. Menjelang subuh mereka pulang. Sebelum berpisah tidak lupa Rayena memberi Sadun uang.

Ma’anih sekarang menyadari betul pekerjaan suaminya. Ternyata Sadun selama ini bukan hanya begadang, namun cari uang. Bayangkan, dalam satu minggu ia diberi uang sampai ratusan ribu rupiah. Uang sebanyak itu tidak mungkin bisa diperoleh dari mengojek. Ma’anih bahkan kini bisa mencicil perabotan baru. Rumahnya tidak lagi kosong. Di sana ada kulkas, teve, dan vcd baru.

Namun memang, itulah kelemahan Sadun. Setelah banyak uang, ia tidak berusaha mengembangkan diri lagi. Ia sudah merasa puas bisa mencukupi keluarganya. Lelaki kampung ini tidak mau tahu bagaimana sebenarnya bisnis hiburan harus dilakukan. Padahal di luar sana, pengusaha kafe dan diskotik berebut agar Rayena mau manggung di tempat mereka. Sadun tidak menyadari bila Rayena sebenarnya membutuhkan seorang menejer yang profesional yang bisa menangani seluruh kegiatannya.

Pernah suatu kali Rayena menawari agar Sadun menjadi menejernya. Artinya Sadun harus mengatur semua jadwalnya, kontraknya, dan mengurusi teknis-operasionalnya. Namun ia tidak menyanggupi. Jangankan untuk menjadi mengurusi kontrak, mengeja namanya saja ia terbata-bata. Ia malu. Ia hanya ingin bekerja seperti biasa saja, mengantar Rayena ke kafe atau diskotik, setelah itu dapat uang.

Rayena kesal dengan penolakan itu. Sebenarnya Rayena ingin agar rejeki yang ia peroleh mengalir juga ke orang-orang Kongsi. Dan untuk itu Sadun harus menjadi menejernya. Namun justru Sadun menolak. Akibatnya Rayena harus mengatur jadwalnya sendirian. Mulai dari kostum, honor, dan segala hal lainnya. Pada saat itulah menejer kafe yang dulu pertama kali mengorbitkan Rayena mendekati dirinya. Dan tanpa pikir panjang Rayena terima saja ketika menejer kafe mengajaknya kerja sama.

Sadun merasa bersalah. Mengapa tawaran Rayena tempo hari ditolak. Mengapa tidak terlebih dahulu dibicarakan dengan teman-temannya yang lain. Mungkin mereka bisa membantu. Pernah satu kali ia menghampiri Rayena yang mau manggung, namun seorang pelayan kafe menghampirinya dan memberinya amplop berisi uang. Dari jauh sambil melambaikan tangan, Rayena memberi kode bahwa ia sebentar lagi manggung.

Hati Sadun terasa kosong menerima uang tersebut. Sadun tidak mengharap belas kasihan seperti itu. Di matanya, Rayena adalah penyanyi Kongsi yang dulu ia bina. Mengapa sekarang seakan meninggalkan begitu saja, seolah hubungan yang telah terjalin sekian lama hilang begitu saja. Ketika Sadun mencoba menghubunginya lagi, orang-orang kafe marah.

Sejak itu keduanya jarang bertemu. Kalaupun bertemu, paling-paling Rayena memberi beberapa lembar rupiah lalu pergi. Lama kelamaan Sadun merasa tidak enak hati menerima pemberian itu. Beberapa kali bahkan ia menolak.

“Sudahlah, tidak usah susah-susah memberiku uang. Berikan saja uang ini langsung kepada anak-anak band.”

Sejak itu mereka putus, tidak pernah berhubungan lagi. Orang kampung melihatnya sebagai kacang lupa kulitnya. Menurut mereka kesuksesan Rayena karena Sadun. Sadunlah yang membuat Rayena sukses. Sadunlah yang berjasa sehingga Rayena menjadi penyanyi. Tanpa Sadun, Rayena hanyalah si Raenah, gadis Kongsi yang bermimpi jadi artis. Rayena tidak bisa apa-apa. Bagaimana menyanyi, menari, bergoyang, tersenyum, tertawa, memilih kostum, asesori, Sadun yang mengajari. Sadun yang mengajari bagaimana menjadi seorang biduan. Namanya pun, Rayena, Sadun yang memilihkan. Menurut Sadun, nama harus terdengar komersil bila seorang ingin menjadi artis. Nama Raenah tidak terdengar komersil bahkan bisa merusak pasaran, karena itu harus diganti.

Saking hebatnya, ada yang menyamakan Sadun dengan Roger Vadim, bintang Perancis yang menyulap Brigitte Bardot. Vadimlah yang mengubah Bardot. Tanpa Vadim, Bardot hanyalah patung es yang dingin dan tak pandai berakting. Bahkan sebagian orang memanggil dirinya Sadun Padim. Bukan Vadim tapi Padim.

“Alah, jangan kau samakan aku dengan orang lain. Aku ini hanya membantu saja. Ada orang berbakat di kampung ini. Aku bantulah.”

Bagi Sadun hidup memang harus begitu. Memberikan sesuatu tanpa pamrih agar terus bisa bergerak bebas. Sama halnya ketika seseorang buang hajat di pagi hari, toh ia tidak pernah berpikir makan apa tadi malam. Tiba-tida dada Sadun terasa sesak. Kemarin beberapa mobil parkir di depan rumah Rayena. Tak lama kemudian terdengar kabar Rayena dilamar sang menejer untuk dijadikan istri mudanya. Orang bilang Rayena sangat beruntung, karena dengan demikian ia punya suami sekaligus menejer. Namun tetap Sadun merasa khawatir dengan masa depan Rayena.

Di Kongsi Rayena merupakan legenda. Apalagi ketika ia tampil di layar kaya. Sekampung histeris. Sejumlah gadis bahkan pingsan menyaksikan pujaannya. Namun ketika Rayena diboyong suaminya, perasaan orang terhadapnya makin jauh. Rayena bukan milik mereka lagi. Ia telah menjadi milik orang lain.

Dan betul saja yang dikhawatirkan Sadun. Setelah menikah bintang Rayena memudar. Suara dan goyangannya tidak lagi sehot dulu. Dan, memang, kalau mau mengikuti pakem Mpok Onih, Rayena sebenarya telah melanggar pantangan dengan melakukan pernikahan. Dalam hidupnya, Mpok Onih tidak pernah menikah, meskipun ia beberapa kali menjadi gundik para cukong dan tokeh.

Sadun sudah hampir melupakan Rayena. Malam itu ia tampak memangkal motornya di depan warung. Wajahnya berseri-seri. Baru saja ia mendengar Saodah bernyanyi. Lenggak-lenggok dan cengkoknya lebih bagus dari Rayena. Ia yakin Saodah akan menjadi penyanyi besar. Sadun bersiul. Ia membayangkan suatu hari malam-malamnya disibukkan dengan mengantar Saodah, menyanyi dari kafe ke kafe. Namun tiba-tiba Sadun ingin sekali punya cucu.

Rempoa, Februari 2004

Ket.

1. ecek-ecek = jelek, buruk

2. botoh = seksi, bahenol

No comments:

Post a Comment