Saturday, April 26, 2008

Santri Tidak Terbiasa Berpikir Empirik


Sejak pertama kali datang ke pesantren, seorang santri diperkenalkan dengan agama. Seperti diketahui agama memperkenalkan seperangkat nilai atau ajaran yang diterangkan dalam sebuah kitab suci, dan kitab suci itu berdasarkan wahyu yang turun dari langit. Karena wataknya yang dari langit itu, agama sejak awal senantiasa berbicara dan membahasa masalah-masalah besar yang berkaitan dengan kehidupan umat manusia. Agama bicara tentang keselamatan, keadilan, kemakmuran, kebenaran, keburukan, surga, neraka, dan seterusnya. Inilah yang dipelajari santri di pesantren. Santri diajari tentang nilai-nilai yang abstrak, filosofis, konseptual, dan teoretis.

Dalam sebuah pelatihan, saya pernah menanyai peserta yang adalah para santri dari berbagai pesantren tentang cita-cita mereka. Dari peserta yang berjumlah 30 orang, 28 orang memberikan jawaban bahwa mereka ingin mengabdi pada umat, bahwa mereka ingin menjadi orang yang bermanfaat, bahwa mereka ingin mengabdi pada nusa, bangsa, dan agama, bahwa mereka ingin menegakkan kalimat Allah, bahwa mereka ini menjadi kyai, bahwa mereka ingin menjadi orang alim, dan semacamnya. Hanya 2 orang yang mengatakan secara persis bahwa ia ingin menjadi guru bahasa Inggris, dan bahwa ia ingin menjadi dokter ahli kandungan.

Saya terperangah mendengar jawaban-jawaban mereka. Bukan karena yang dua orang, tapi karena yang dua puluh delapan orang. Cita-cita mereka begitu mulia, begitu tinggi, dan begitu hebat. Memang kata orang, gantungkan cita-citamu setinggi bintang di langit. Betul. Karena itu kemudian kita berusaha menggapai bintang itu. Masalah tergapai atau tidak, itu nomor dua. Yang penting, kita sudah menggantungkannya setinggi bintang di langit.

Tapi kita pun patut bertanya pada orang yang percaya dengan pepatah itu. Kalau cita-cita setinggi bintang di langit, lalu bagaimana kita menggapainya. Toh kita berdiri di atas bumi, dan tidak pernah bisa terbang ke sana. Ini tentu masalah yang harus dipikirkan. Seyogyanya, ketika kita putuskan untuk menggantungkan cita-cita kita setinggi bintang di langit, kita pun sadar untuk membangun tangga tinggi yang menghubungkan kita dengan bintang itu. Kita selalu bicara tentang cita-cita, tapi kita tidak pernah bicara tentang bagaimana menggapainya.

Cita-cita adalah sebuah konsep tentang bagaimana kita memandang masa depan. Nun jauh di depan sana, terletak cita-cita kita. Dan kita berusaha menuju ke sana. Jadi cita-cita yang abstrak yang berada di titik tertentu di masa depan menarik kita yang kongkrit yang berada di titik sekarang. Seberapa kuat ia menarik tergantung seberapa kuat kita percaya pada cita-cita tersebut. Contoh, karena kita percaya bahwa di depan sana ada surga dan neraka, maka kita mati-matian salat dan puasa. Jadi surga dan neraka itu adalah konsep tentang masa depan yang menarik diri kita untuk terus bergerak menuju ke sana. Contoh yang lain, karena kita ingin menjadi orang orang yang bermanfaat bagi nusa, bangsa dan agama—sebuah konsep yang abstrak—maka diri kita yang kongkrit dan di sini melakukan sesuatu untuk menujunya. Dengan kata lain, cita-cita yang abstrak dan setinggi langit harus terhubungkan dengan diri kita yang kongkrit dan di bumi ini. Tanpa ada keterhubungan ini, cita-cita hanya akan tergantung pada bintang di atas sana kelap-kelip tanpa sedikit pun kita bisa menggapainya.

Proses keterhubungan ini adalah kongkretisasi atau materialisasi dari konsep cita-cita yang abstrak. Kita tentu mengenal apa itu abstrak, dan apa itu kongkrit. Yang abstrak adalah hal-hal yang tidak terlihat, bisa makhluk seperti jin dan malaikat, bisa juga ide atau pikiran yang hanya ada di kepala kita seperti cita-cita. Filsafat dan agama mengenalkan cara berpikir deduksi, (dari atas ke bawah, dari umum ke khusus). Sementara ilmu mengenalkan cara berpikir induksi (dari bawah ke atas, dari khusus ke umum). Cara berpikir ini disebut juga berpikir empirik atau ilmiah.

Kembali lagi kepada santri. Tiba-tiba saya sadar bahwa sejak awal para santri diperkenalkan dan terlatih untuk berpikir abstrak dan konseptual. Ini karena watak pesantren sebagai lembaga pendidikan yang menekankan pada pengkayaan dan pengamalan ilmu-ilmu agama (littafaqquh fi al-din). Aspek ini membuat para santri bisa bicara tentang keadilan, kemakmuran, kebenaran, dan keburukan. Namun karena tidak diimbangi dengan kemampuan berpikir empirik, mereka tidak mampu menjabarkan konsep-konsep tadi ke dalam sebuah program yang kongkrit.

Contoh, ’kebersihan adalah bagian daripada iman’. Ini adalah hadis, dan setiap santri tahu benar hadis ini. Namun dari kacamata ilmu, kebersihan adalah sebuah konsep yang abstrak. Apa itu kebersihan, dan bagaimana mengukurnya, mengapa seseorang disebut bersih, dan seterusnya. Menurut kacamata ilmu, kebersihan tidak bisa diukur kecuali kita memerinci atau menurunkannya ke dalam aspek-aspek tertentu yang disebut variabel. Jadi, kalau kita rinci dan kita turunkan, yang disebut kebersihan itu ternyata berapa kali orang mandi dalam satu hari; dalam mandi itu apakah ia gosok gigi; apakah ia mandi pakai sabun; apakah ia pake sampo; dan seterusnya.

Hal-hal yang disebut terakhir disebut indikator, sesuatu yang menunjukkan sesuatu yang lain. Dan inilah yang bisa diukur. Demikian pula hanya dengan, katakanlah, cinta. Cinta tidak bisa diukur, karena ia adalah konsep yang abstrak. Cinta baru bisa diukur ketika kita menurunkannya ke dalam indikator-indikator tertentu: seberapa sering anda mengirim surat, memberinya bunga, menulis puisi, dan lain sebagainya.

Mengapa makna cinta harus direduksi menjadi mengirim surat, memberi bunga dan sebagainya? Perlu diingat bahwa dunia yang kita tempati adalah dunia empirik, dunia daging dan darah, dunia yang fana. Di dunia ini semua harus kongkrit. Dunia ini perlu pembuktian. Kalau anda mencintai kekasih anda, buktikan cinta itu. Kalau kebersihan itu sebagian dari iman, buktikan kebersihan itu. Dunia ini tidak perduli dengan cinta yang di atas sana, di atas awang-awang, di surga sana.

Ketidakmampuan atau ketidakterbiasaan kita untuk berpikir empirik menyebabkan kita lemah di hampir semua lini kehidupan. Kita bisa bicara tentang kebersihan bagian dari iman. Kita punya hadisnya, yang bersihnya orang lain. Kita bisa bicara tentang keadilan dan kemakmuran, namun kita tidak bisa menjabarkannya ke dalam sistem dan program ekonomi yang kongkrit. Kita bisa bicara bahwa Islam adalah agama yang membawa perdamaian, Islam adalah rahmat untuk semesta alam. Namun kita tidak bisa menerjemahkannya ke dalam sebuah konsep hidup yang saling menghormati dan menghargani. Kita selalu bicara tentang surga, namun hidup kita di dunia penuh penderitaan. Kita bisa bisa bicara bahwa Islam adalah agama yang benar, namun kita tidak bisa bagaimana mewujudkan kebenaran Islam di atas bumi yang fana ini.

No comments:

Post a Comment